Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #7

Bangku Kosong dan Pilihan

RUANG MAKAN, 19:12.

(Sebulan setelah Kirana dan Nico bernyanyi di taman).

Suasana ruang makan malam itu begitu hening. Hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring yang sesekali memecah kesunyian.

Aku hanya memainkan butiran nasi dengan ujung sendok, menggulung-gulungnya menjadi bola-bola kecil, sebelum akhirnya mendorong piring itu menjauh.

"Kirana, mau tambah dagingnya? Ini kesukaanmu, lho," ucap Mama, mencoba menyuntikkan gairah.

"Terima kasih, Mah. Tapi tidak usah."

"Kamu sakit?" tanya Papa, matanya menatapku lekat.

"Ti-tidak, Pa. Hanya... sedang berpikir."

"Berpikir tentang ujian tengah semester?"

"Bukan, Pa. Berpikir tentang Nico," sela Gerry yang terkekeh, lalu menyuap nasi dengan santai.

Aku mendelik tajam, ku tendang saja tulang keringnya dibawah meja. Mama memiringkan kepala, tahu ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. "Ada apa, Sayang?"

"Mah, Pah. Tahu tidak?" ujarku memulai. "Sudah sebulan Nico dan Victor tidak berada di sekolah, lho."

"Benarkah? Memangnya ke mana?" tanya Mama

"Mereka dikarantina di Training Center, Mah. Ada kompetisi Pekan Olahraga Pelajar Provinsi, kan. Pesertanya diseleksi dari berbagai SMA di Bandung, dan dari SMA Aksara, cuma mereka berdua yang berhasil menembus seleksi ketat itu. Nico untuk voli, dan Victor untuk basket."

Aku kembali menatap nasi di piringku yang mulai mendingin. "Untuk persiapan kompetisi, mereka dikarantina selama lima bulan di sana. Dan sekarang... baru bulan pertama."

"Dan kamu... rindu Nico?" Senyum tipis Mama tersungging di bibirnya.

Bahuku turun lemas. "Aku tidak berani menyebutnya rindu, Mah. Lagipula... aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa baginya. Namun rasanya aneh saja melihat bangku mereka yang kosong."

Aku mencoba tersenyum, meski rasanya hambar. "Tapi setiap Senin dan Selasa mereka tetap kembali bersekolah seperti biasa, kok. Jadi, setidaknya aku masih bisa bertemu."

"Sekarang kan sedang UTS. Mereka pulang juga, kan?" ucap Papa sambil menyuap nasi.

"Mereka pulang untuk ujian. Tapi..." Kalimatku menggantung. Bayangan kejadian kemarin mendadak menyeruak. "Nico dimarahi habis-habisan oleh pengawas ujian."

"Benarkah?" Gerry menegakkan posisi duduknya. Mama dan Papa pun ikut terpaku, menunggu kelanjutan ceritaku dengan penuh rasa ingin tahu.

"Hari itu..." suaraku merendah, menarik mereka semua masuk ke dalam ingatanku.

"Suasana ruang ujian hening total. Hanya ada gesekan pena di atas kertas dan dengung rendah AC. Aku sedang fokus memecahkan deretan soal di depanku, sampai tiba-tiba sebuah suara dari pojok ruangan membuyarkan segalanya."

Aku berdehem, menirukan nada bicara orang itu.

"'Pak! Nicolas Arka! Dia jarang sekali masuk sekolah. Cuma muncul kalau ada ujian saja!' Lalu dia terkekeh puas."

"Seketika, suasana kelas yang dingin mendadak panas.

Kreak. Kursi kayu berderit keras. Guru pengawas kami—pria paruh baya dengan kacamata tebal yang selalu bertengger di ujung hidung—langsung berdiri tegak. Wajahnya memerah padam."

"'Mana yang bernama Nicolas? Ke depan sekarang!' Suaranya berat, penuh otoritas yang menggema hingga ke langit-langit."

Aku menatap Mama, Gerry, dan Papa. Mereka semua mendengarkan, garpu mereka melayang di udara.

Lihat selengkapnya