Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #8

Benda Kecil, Pernyataan Besar


๐ŸŒ› Rumah - Selasa Malam, 19:45

Aku berbaring telentang di sofa, mengangkat benda persegi kecil berwarna merah-hitam ke arah lampu ruangan. Kuputar-putar permukaannya yang halus, dingin, dan berkilau mewah.

โ€‹"Indah sekali..."

โ€‹Wusss! Tiba-tiba benda itu lenyap dari genggamanku. Aku terperanjat, tubuhku nyaris terjungkal dari sofa.

โ€‹"Hmm... apa ini?" suara Gerry muncul dari balik sandaran sofa, benda itu kini di tangannya.

"Gerry! Kamu membuatku jantungan!" Aku mencengkeram dada, berusaha mengatur napas.

Gerry tidak memedulikanku. Terlalu fokus pada benda itu, lalu matanya membelalak. "Whoa! Aku tahu ini... Ini DAP (Digital Audio Player / pemutar musik portable), tapi lebih canggih. Membuat suara musik sepuluh kali lebih jernih, detail, dan terasa hidup. Ini level audiophile."

Gerry membolak-balik benda itu dengan takjub. "Lihat desain retronya, paduan warna merah-hitam ini... sangat berkelas. Ini bisa jadi barang vintage sepuluh tahun kedepan."

โ€‹"Gerry, kembalikan!" Aku melompat, berusaha merebutnya.

Gerry menjauhkan tangannya tinggi-tinggi, menatapku menyelidik sebelum akhirnya menyerahkannya kembali. "Kamu membelinya, Kirana?"

โ€‹"Tidak." Aku mendekap benda itu di dada, merasakan sensasi logam dingin menembus kaus. "Ini pemberian dari Nico."

โ€‹"Nico?" Suara berat Papa menyambar dari arah meja makan.

โ€‹Papa mendekat dengan langkah tegap, diikuti Mama yang membawa nampan teh. Sial. Aku dikepung di tengah ruang keluarga.

Tiga pasang mata menatapku, menunggu penjelasan. Aku tahu mereka tidak akan membiarkanku lolos sebelum menceritakan segalanya.

"Baiklah. Baiklah!"

โ€‹[Flashback - Sekolah, Jam Istirahat]

Koridor di lantai dua mulai lengang, menyisakan gema langkah kakiku sendirian.

Di ujung belokan, sosok Nico muncul. Langkah kami melambat, lalu terhenti serempak dalam jarak dua meter. Aku memberikan anggukan canggung, dibalas tatapan datar yang sulit kubaca.

Aku kembali melangkah. Aroma parfum maskulinnya tertangkap indra penciuman tepat saat aku melewati bahunya. Baru berjarak lima langkah, suaranya menghentikanku.

โ€‹"Cewek bawel." โ€‹Suaranya lembut, sedikit serak.

"Ya?" begitu aku berbalik, Nico pun melakukan hal yang sama. Tatapan kami bertemu.

Lihat selengkapnya