
RUANG KELUARGA - 19:47
Srak! Srak! Srak!
Mata guntingku membelah karton dengan ritme teratur. Di sudut meja, musik mengalir tipis dari DAP, sekadar menjadi pagar penghalau sunyi.
Aku duduk bersila, mengepung diri dengan potongan kertas karton dan botol lem yang tutupnya sudah terbuka. Fokusku cuma satu: menyelesaikan kerajinan figura ditanganku ini.
Gunting bagian ini. Olesi lem. Oke, bungkus cokelatnya juga sudah siap.
Kreak.
Sofa di belakangku melesak. Gerry mendarat di sana, menebar aura misterius yang membuat tengkukku meremang.
"Apa?" semprotku tanpa menoleh.
"Aku belum bicara apa pun," sahutnya enteng, masih dengan nada bicara yang menyiratkan senyum simpul.
Aku meliriknya sekilas sebelum kembali membuang muka. "Karena setiap ada kamu, hidupku tidak pernah damai, tahu!"
Gerry mengabaikan protesku. Sambil menyilangkan kaki, ia menarik ponsel dari saku celana jeansnya dan memutar-mutar benda itu di sela jari dengan santai.
"Aku cuma numpang duduk. Mau menelepon seseorang." Ia terkekeh pelan. "Loudspeaker, ah. Biar seru."
Biiip... Biiip...
Suara nada sambung itu memantul di dinding ruang keluarga yang sunyi. Lalu, sebuah suara serak tipis menyahut di ujung sana.
"Halo? Siapa?"
Tanganku membeku. Gunting di jemariku terjepit di tengah karton. Su-suara itu. Suara yang sudah seminggu tak kudengar. Nico!
Aku menoleh sangat perlahan, mencoba mengintip Gerry dari sudut mata, tapi... Ugh! Dia sudah menatapku duluan sambil mengigit bibir bawah, bahunya bergetar berusaha menahan tawa yang sudah diujung bibir.
Si-sial!
Refleks, aku membuang muka dan pura-pura menusuk-nusuk karton dengan ujung gunting.
"Yo. Ini aku, Gerry," ucapnya santai, seolah tak berdosa setelah menjatuhkan bom atom di tengah ketenanganku.
"Oh! Kenapa baru menghubungi sekarang? Kukira aku salah memberi nomor."
"Aku memilih waktu yang tepat, Nic. Anyway, bagaimana kabarmu di sana? Atau haruskah aku ganti pertanyaannya? Bagaimana caramu membolos sekolah secara legal? Kekeke."
Tawa kecil yang rendah terdengar dari ujung telepon. "Haha. Aku menyebutnya taktik. Sebuah rencana yang dipersiapkan matang."
"Ya, ya. Rencana yang dipersiapkan matang," Gerry melirikku, matanya berkilat nakal. "Seperti DAP merah-hitam itu, kan? Sangat terencana."
"Oh. Adikmu memberitahumu?" Suara Nico terdengar sedikit lebih dalam.
"Begitulah. Setiap kali memandangi benda itu, dia tidak bisa berhenti tersenyum sampai-sampai tubuhnya meleleh di sofa."
Srak! Srak! Srak!
Sentakan guntingku pada sisa kertas makin kasar, sengaja menciptakan kebisingan untuk meredam obrolan mereka.
Apasih, Gerry?! Mulut ember!
"Aku bisa membayangkannya. Pasti lucu, meluber disofa, kan? Hahaha."
Hening sejenak. Atmosfer di ruangan mendadak berubah.