
(Kirana)

(Gerry)

(Nico)

(Victor)
HARI SENIN, PARKIRAN SEKOLAH - 06:29
Deru mesin motor yang baru dimatikan menyisakan sunyi yang singkat. Aku berdiri di samping motor Gerry, merapikan seragam yang sedikit kusut akibat perjalanan tadi.
Di ujung aspal, dua sosok jangkung muncul membelah kabut tipis pagi. Nico dan Victor. Langkah mereka seirama, santai namun mendominasi.
"Vic, tunjukkan senyummu. Berpura-puralah bahagia meski sebenarnya kita benci bersekolah," gumam Nico dengan tangan terbenam di saku jaket.
Victor terhenti sejenak, hidungnya mengendus udara. "Nic, kamu merasakan sesuatu yang aneh?"
"Apa?"
"Lama tidak hadir di sekolah, sepertinya ketua kelas membuat agama baru. Tapi mungkin tak ada yang mau jadi jemaatnya."
"Kudengar dia bahkan sampai mengubah motto kelas menjadi 'point finger, do nothing'," sahut Nico sarkas.
"Kekeke. Terdengar seperti sekte," balas Victor disambut tawa kecil keduanya.
Langkah mereka melambat saat melihat kami. Victor menyenggol lengan Nico, dagunya menunjuk ke Gerry. "Hei, Nico. Apa cowok berambut kuning itu bodyguard yang Kirana bawa?"
"Victor, tidak usah mengomentari rambutku!" potong Gerry, yang langsung merangkul Victor.
Victor menoleh padaku, mengangguk sopan. "Pagi."
"Pagi juga," balasku kaku. Dia masih menakutkan bagiku, apalagi saat sinar matahari pagi menyorot tajam bekas luka di pipi kirinya.
Sementara itu, Nico tak bersuara. Ia hanya menatapku sekilas, memberikan senyuman penuh arti yang nyaris tak terlihat sebelum beralih pada Gerry. Kami pun mulai bergerak, berjalan beriringan membelah kerumunan siswa.
"Yo! Pagi Gerry!" Sekumpulan cowok dari arah berlawanan menyapa dengan nada segan.
"Yo! Pagi!" Gerry mengangkat tangan santai.
Beberapa siswi yang berdiri di depan mading serentak menoleh. Pipi mereka merona saat Gerry melewati mereka. "Hai... Ge-Gerry," cicit salah satu dari mereka sambil melambaikan tangan malu-malu. Gerry hanya membalas dengan anggukan kecil yang membuat mereka makin kasak-kusuk.
Nico memperhatikan setiap interaksi itu dengan dahi berkerut. Matanya memicing bingung, mengamati sekitar seolah baru menyadari sesuatu. Lamunannya baru buyar saat Gerry menyenggol lengannya.
"Nic, kudengar bahumu sempat terkilir. Bagaimana sekarang?"
"Sudah sembuh total. Mau main voli lagi?" tantang Nico dengan senyum miring.