Kirana's Rooms: Jarak Diantara Kita

KiraNico
Chapter #11

He Shot, I Fell

RUANG KELUARGA - 19:02

Lampu ruang tengah terasa dua kali lebih terang malam ini. Atau mungkin hanya perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Aku menyudut di sofa, memeluk bantal erat-erat demi menahan senyum yang terus berkedut di bibir.

"Mah," Gerry mencomot roti di meja, "camilan buatan Mama enak sekali. Aku habiskan, ya."

Mama hanya mengangguk tanpa beralih dari buku resep di pangkuannya. "Baguslah kalau kamu suka, nanti Mama bikin menu yang lebih en-Eeeeh!" Mama menoleh, lalu melongo menatapku yang membuatku kaget.

"A-apa, Mah?" tanyaku polos.

"Raut wajahmu, Kirana... bercahaya seperti baru dicelupkan ke kuah pelangi!"

Gerry menyipitkan mata, menelisikku dengan tatapan menyelidik. "Se-senyum itu... Kirana, jangan bilang kamu... kamu baru dapat nilai seratus di Fisika, ya? Itu mustahil!"

Buk!

Bantal sofa melesat, namun ditepis Gerry dengan refleks super cepat.

"Tidak sopaaan!" geramku.

"Ya habisnya muka kamu mencurigakan begitu." diam-diam tangannya merayap, mengambil lagi sepotong roti.

Aku memalingkan muka, memberinya ekspresi jutek. "Huh! Ini bukan tentang Fisika. Ini tentang... aku dan Nico."

Mama melipat buku resepnya, lalu merapat duduk di sampingku. "Memangnya kenapa dengan kalian?"

Aku menunduk, meremas pinggiran bantal. "Tadi pagi... Nico menembakku."

Gerry membeku. Sepotong roti masih menempel di bibirnya yang melongo. Ia menoleh pada Mama dengan gerakan kepala terpatah-patah.

"Ni-nico apa, Mah?"

"Ni-nico menembak Kirana." ucap mama yang entah harus bereaksi kaget dulu atau senang dulu.

Mama menatap wajahku, memastikan putrinya tidak sedang berhalusinasi. "Benarkah?"

"He-em." Aku mengangguk pelan dari balik bantal, tak berani menatap mata siapa pun.

"Lalu?" bisik Mama setengah menggoda. "Apa lutut Nico gemetaran saat menyatakan perasaannya?"

Aku membenamkan wajahku sepenuhnya ke bantal, berusaha meredam suara, "A-aku yang gemetaran, Mah."

[Flashback - Koridor Sekolah Pagi Tadi]

"Bagaimana DAP yang kuberikan? Berfungsi?"

"Iya, berfungsi. Suaranya jernih sekali. Aku suka."

"Bukan itu. Maksudku... apa kamu merasa aku selalu ada di dekatmu?"

Kuinjak saja kakinya. "Pe-pertanyaan nakal!"

Nico mengabaikan injakanku seolah tak terasa. Sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman tipis yang menyebalkan.

"Kenapa senyum begitu?!"

"Tidak ada." Ia memalingkan muka, mencoba menyembunyikan tawa. "Cewek bawel... apa kamu masih hobi bolos piket?"

Lihat selengkapnya