KELAS - SELASA, JAM ISTIRAHAT
Goresan penaku menari di atas kertas, merekap laporan kelas di tengah riuh kelas. Tiba-tiba, sebuah bayangan jatuh di atas mejaku. Nico menarik kursi, duduk tepat di sampingku sambil meletakkan bukunya dengan santai.
"Hmm, sepertinya si tukang bolos ini baru sadar ada PR untuk hari ini. Mau menyontek tugasku, ya?"
"Maaf saja, Sekretaris. Kamu pikir aku peduli? Paling juga dihukum bareng Victor."
"Terus? Kenapa ke sini? Kamu tidak lihat orang-orang mulai memperhatikan kita?"
Benar saja. Di meja depan, kelompok Sistem mulai berbisik-bisik, menyikut bendahara kelas yang sedang sibuk menghitung tumpukan uang.
"Ghi-Ghista, kamu tahu sesuatu?" bisik salah satu dari mereka, tapi suaranya bocor ke seluruh ruangan.
"Sebentar. Lima puluh ribu... lima puluh lima ribu..."
Ghista mendongak. Ia menoleh ke arahku dan Nico bergantian, lalu matanya membelalak. "Eeh! Kirana-Nico? Mereka... pamer pacaran?!"
Berita itu merembet cepat ke barisan belakang, tempat kelompok Chaos sedang bermain game bersama Victor. Suara tembakan dari ponsel mereka tiba-tiba senyap.
"Pa-pacaran? Victor? Ini mustahil, kan?" tanya salah satu anggota Chaos.
Victor mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu tersenyum kecil. "Tadi malam kakak Kirana mengonfirmasi langsung. Si serigala satu itu sudah ditaklukkan Sekretaris."
"HAAAAAH?!" ucap semua orang serentak.
Mendengar konfirmasi Victor, Ghista menyeringai licik. "Lumayan... pajak jadiannya bisa masuk kas kelas. Nanti aku tagih, ah, buat servis AC kelas yang rusak. Ehehehe." Ia kembali menghitung dengan semangat menggebu.
Sementara itu, Sistem dan Chaos terpaku, lalu senyum lebar merekah di bibir mereka. Dua kubu yang biasanya beradu urat leher, kini bersorak dalam harmoni melihat hubunganku dan Nico.
"Yesss!" seru mereka serempak, namun mata mereka berkilat penuh agenda.
"Hubungan mereka adalah 'kartu As'!" seru kelompok Chaos. "Kalau Victor bisa ajak Nico masuk Chaos, Kirana juga akan ikut Nico dan berpihak pada kita, kan? Kalau begini, Sistem akan bertekuk lutut di bawah kita. Habis kalian! Hahaha."
"Mimpi sana!" balas kelompok Sistem tak mau kalah. "Kirana itu pilar kami. Dia pasti membujuk Nico kembali ke Sistem, otomatis Victor yang dekat dengan Nico akan berpindah ke sisi kami. Chaos yang akan di obok-obok sampai bersih!"
"Nico tak akan masuk Sistem lagi!"
"Victor juga cuma main game sama kalian!"
Aku hanya bisa memijat kening. Duh, kenapa suasana kelas mendadak berubah menjadi ajang debat politik absurd, sih? Hawanya seperti dua negara yang sedang memperebutkan wilayah perbatasan.
"Nicoooo!" geramku. "Tuh, lihat kekacauan yang kamu buat!"
Nico malah terlihat menikmatinya. "Bukannya bagus? Aku cuma duduk di sini, dan berita langsung menyebar. Efisien."
"Dasar. Jadi ini memang rencanamu?"
Nico hanya tersenyum kecil tanpa membantah. Ia kemudian diam, menopang dagu sambil memperhatikanku merekap laporan. Kehadirannya yang tenang terasa seperti pelindung dari keributan di sekeliling kami.
"Nico?" ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas, sementara Sistem dan Chaos masih sibuk beradu argumen.
"Ya?"
"Malam nanti kamu sudah harus kembali ke training center, kan?"
"Iya."
"Dan kita baru bertemu lagi Senin depan?"
"Jadwalnya begitu." Nico menjeda sejenak. "Tapi aku ingin mengajakmu jalan-jalan dulu sore nanti. Mau?"
Gerakan penaku melambat, lalu aku menoleh padanya. "Boleh. Ada film hits yang sedang tayang, loh. Sebenarnya aku bisa streaming di rumah, tapi kalau nonton bersamamu... suasananya pasti beda."