Pagi yang Berbeda
Pagi itu, sinar matahari masuk perlahan melalui jendela rumah kecil yang kini terasa baru.
Naruto terbangun lebih dulu.
Ia menatap langit-langit, lalu mengernyit.
Ada sesuatu yang berbeda.
Kemudian ia menoleh ke samping—dan berhenti bergerak.
Ino ada di sana.
Bukan sebagai rekan.
Bukan sebagai teman lama.
Tapi sebagai istrinya.
Naruto menelan ludah. Dadanya terasa hangat, hampir tidak percaya.
“…jadi ini nyata,” gumamnya pelan.
Ino dan Kebiasaan Baru
Ino membuka mata tak lama kemudian. Ia butuh beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
“Kamu bangun cepat sekali,” katanya.
Naruto tertawa gugup. “Aku takut ini mimpi.”
Ino duduk, menyibakkan rambutnya. “Kalau mimpi, aku sudah bangun sejak lama.”
Mereka saling menatap—tidak canggung, hanya tenang.
Tidak ada kata besar.
Tidak ada janji panjang.
Hanya perasaan pulang.
Sarapan Pertama
Naruto bersikeras memasak.
Hasilnya?