Kisah Gelap Keluarga Terhormat

Ratri Astutiningtyas
Chapter #2

2. Gadhing dan Teman-teman Tak Kasat Mata

Lima belas tahun yang lalu, Anjani meninggalkan Randuhayu dan tinggal bersama Pakdhe dan Budhenya yang tidak punya anak di Semarang. Tahun kemarin, ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedatangan kembali Anjani ke desa ini telah diatur oleh Pak Idhang dan Bu Rasmi dengan menjadikannya menantu. Anjani sudah sejak lama dijodohkan dengan putra mereka, Gadhing. Ketika ia tinggal di Semarang, Pak Idhang dan Bu Rasmi hampir dipastikan sering bertamu ke rumah Pakdhe dan Budhe dengan membawa serta Gadhing. Itu mereka lakukan sebulan sekali. Hanya saja, Anjani tidak pernah mengira kalau semua itu dimaksudkan untuk perjodohan mereka. Sekarang, ia sudah menikah dengan Gadhing.

Kembali ke Randuhayu tanpa rencana yang jelas sungguh tak terbayangkan bagi Anjani. Ia sesungguhnya enggan kembali ke desa ini, menjadi dekat kembali dengan masa lalu yang masih membuatnya trauma. Ia sudah bisa menerima kematian kedua orang tuanya meski masih tetap merasa belum jelas dengan penyebab kematian mereka. Sebelumnya, ia telah memutuskan akan tetap tinggal di Semarang setelah kuliahnya selesai dan mencari pekerjaan. Bila sudah mapan, ia bisa mulai hidup mandiri. Dengan begitu, ia tidak akan membebani Pakdhe dan Budhe lagi. Akan tetapi, Pakdhe dan Budhe mengatakan kalau ia harus kembali ke Randuhayu karena Pak Idhang dan Bu Rasmi telah melamarnya untuk anak mereka satu-satunya.

Anjani mengenal Gadhing sejak masih kecil meski mereka tidak akrab satu sama lain. Mereka tidak pernah bermain bersama. Mereka juga tidak sekolah di sekolah yang sama. Gadhing dua tahun lebih tua dari Anjani. Awalnya, Anjani merasa Gadhing tidak mungkin mau dijodohkan dengannya. Mereka sepertinya tidak bisa akrab satu sama lain. Di luar dugaannya, Gadhing tampaknya setuju dengan perjodohan yang direncanakan orang tuanya. Anjani akhirnya juga tidak masalah dengan perjodohan itu hingga mereka akhirnya menikah. Anjani berharap kedatangannya ke Randuhayu menjadi lembaran baru baginya.  

Hal yang tak terpikirkan, ia langsung merasa jenuh ketika baru tinggal beberapa hari di Randuhayu. Tak jauh berbeda ketika ia meninggalkan desa ini, Randuhayu masih lekat dengan suasana pedesaan yang sepi dan minim fasilitas hiburan. Minggu pertama ketika ia tinggal di rumah keluarga Mbah Lurah, ia hampir menyerah dan ingin kembali ke Semarang hingga datang tawaran dari Bu Lurah untuk ikut menjadi tenaga pengajar bagi para siswa yang terdaftar Kejar Paket B. Anjani menerima saja tawaran baik dari Bu Lurah.

Sekolah masih akan dibuka beberapa bulan lagi atau setidaknya renovasi bangunan yang akan dijadikan ruang kelas selesai. Anjani belum terlalu sibuk meski Bu Lurah sering memintanya membantu membuat laporan. Selebihnya, ia banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca buku. Untungnya, ia membawa banyak buku dari Semarang. Ia juga tak lupa membawa laptop yang ia gunakan waktu kuliah dulu. Sejak tinggal di desa ini, ia sudah jarang menggunakannya kalau tidak ada kegiatan membuat laporan administrasi yang diminta Bu Lurah. Hari ini, ia juga hanya membaca buku di kamar seharian. Ia tentu saja bosan. Ia selalu merasa sendiri di rumah ini. Ia tak yakin apa ia akan sanggup bertahan di desa ini lebih lama lagi.  

Gadhing sudah ada di rumah. Sebelumnya, ia ada di Yogya selama beberapa hari untuk mengurus rencana pameran lukisan bersama teman-temannya. Tetapi, ada tidaknya Gadhing tidak terlalu memengaruhinya. Ia merasa Gadhing seolah mengacuhkan keberadaannya di rumah ini. Gadhing bahkan jarang atau bisa dibilang nyaris tidak pernah sekamar dengannya. Laki-laki yang sekarang berstatus suaminya itu lebih sering tidur di studio melukisnya. Mereka juga jarang berbicara satu sama lain. Terbersit di benaknya berkali-kali, Gadhing sebenarnya tidak tertarik padanya. Seandainya Gadhing memang benar tidak mencintainya, kenapa mereka harus tetap menikah?

Gadhing cenderung pendiam. Ia bukan pemuda yang senang bergaul dan memiliki banyak teman. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan mengurung diri di dalam kamarnya daripada keluyuran tidak jelas. Ia kuliah di Institut Seni di Yogyakarta. Sebelumnya, ia sempat kuliah di Jurusan Teknik Kimia tetapi memutuskan berhenti setelah dua semester. Ketika mereka menikah, Gadhing baru lulus kuliah. Gadhing sebenarnya ingin mencari pekerjaan dulu. Bu Rasmi bilang pekerjaan bisa diatur karena keluarga besarnya mempunyai banyak kenalan di kota-kota besar. Gadhing tidak bisa memberi alasan lagi.

Gadhing senang melukis. Ia kadang menghabiskan waktunya sepanjang hari hanya untuk melukis. Koleksi lukisannya banyak sekali. Ia menyimpan sebagian hasil lukisannya di studio. Ada beberapa lukisannya yang dipajang di ruang tamu dan ruang tengah. Ia suka melukis hewan atau manusia dengan bentuk-bentuk yang aneh. Hanya ada satu lukisan yang berbeda, lukisan potret keluarga besar Mbah Lurah yang dipajang di ruang tamu. Lukisan itu terlihat hidup dengan warna-warna cerah. Mendiang istri Mbah Lurah memakai kebaya berwarna kuning berbunga-bunga. Mbah Lurah sendiri memakai baju koko putih dan sarung kotak-kotak yang didominasi warna hijau muda. Kemudian, Pak Idhang bersebelahan dengan Bu Rasmi dan saudara perempuannya. Gadhing dan Endra, cucu-cucu Mbah Lurah, berdiri paling depan. 

Anjani belum pernah melihat lukisan Gadhing yang berupa pemandangan alam atau keindahan suatu tempat. Ia juga jarang melukis manusia atau hewan dalam wujud normal dengan warna-warna yang indah. Anjani hanya menangkap warna suram dalam lukisan-lukisan Gadhing. Ia menjadi gelisah bila melihat lukisan Gadhing. Warna-warna suram itu entah kenapa mengusik pikirannya. Ada sesuatu yang tampaknya disembunyikan Gadhing dalam lukisan-lukisan itu yang mungkin merupakan sesuatu yang mengganggu pandangan mata bila ditampilkan secara jelas. Objek yang dilukis Gadhing rata-rata memiliki penampakan tidak wajar, misterius, dan memancing tanda tanya tentang apa yang sesungguhnya telah dialami manusia atau hewan yang menjadi objek lukisannya.

Anjani sangat tertarik untuk mengetahui makna atau pesan yang ingin disampaikan Gadhing lewat lukisan-lukisannya itu. Sayangnya, ia tidak memiliki teman bicara untuk hal-hal seperti itu di rumah ini. Bu Rasmi jelas tidak paham dengan makna atau pesan yang tersembunyi dalam lukisan Gadhing dan Gadhing sendiri bukan teman bicara yang menyenangkan. Jika mereka bicara berdua, Anjani merasa tidak dianggap orang yang setara dengan pemikiran Gadhing. Sesudahnya, Anjani memilih diam dan pergi meninggalkan Gadhing atau Gadhing sendiri yang nanti pergi meninggalkannya. Ada pesan masuk ke ponselnya. Anjani membuka pesan yang ternyata dari Alin yang kemarin membantunya bersih-bersih rumah di kebun belakang.

Alin menulis: [Hai, Anjani. Kakak iparku Luki baru datang kemarin sore. Aku bilang kau kembali ke desa ini lalu katanya ia ingin bertemu denganmu. Apa kau bisa main ke rumahku?]

Anjani tersenyum. Ia ingat Luki, anak perempuan sebayanya yang rambutnya selalu dipotong pendek. Ia menjawab: [Aku ingat Luki. Aku juga ingin bertemu dengannya tapi aku tidak bisa janji.]

Alin membalas dengan disertai gambar lucu.

Anjani melihat jalan di depan rumah dari jendela kamarnya. Hari belum beranjak siang. Anjani bisa keluar rumah sebentar. Ia akan ke rumah Alin dan bertemu Luki. Sepulangnya dari rumah Alin, ia akan menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke tempat-tempat yang sering ia datangi waktu masih kecil seperti sungai dekat sawah yang banyak ikannya atau lapangan dekat masjid yang banyak ditumbuhi tanaman bunga liar. Tempat-tempat itu mungkin sudah banyak berubah sekarang.

Anjani bergegas keluar dari kamar. Sesampainya di pintu depan, ia mendadak ragu. Di sudut halaman dekat kolam yang dinaungi pohon rindang, Gadhing sedang melukis. Bu Rasmi duduk santai di bangku kayu di sebelahnya. Kalau ia hendak keluar untuk jalan-jalan, ia harus lewat pintu gerbang depan dan berpapasan dengan mereka. Bu Rasmi pasti akan bertanya ia mau ke mana dan untuk urusan apa. Itu sebenarnya hanya pertanyaan mudah tetapi membuat dirinya menjadi tidak nyaman. Akhirnya, ia tidak jadi pergi dan masuk ke kamar lagi.

---

Anjani sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Luki. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Luki, terutama menyangkut kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu. Anjani ingin memberitahu Luki tentang rasa penasarannya yang berkaitan dengan kematian kedua orang tuanya, yang kejadiannya tak lama setelah penemuan korban terakhir pembunuhan berantai yang pelakunya belum berhasil ditangkap, dan juga masalah Gadhing. Kalau Luki tahu sedikit saja tentang Gadhing, ia berharap bisa lebih mengerti Gadhing. Setelah ia menikah dengan Gadhing dan tinggal di rumah keluarga mertuanya, ia pikir ia bisa menjadi dekat dan mengenal Gadhing dengan lebih baik. Tapi, ia salah. Gadhing sendiri ternyata termasuk jenis orang yang tidak mudah didekati.

Teman-teman sepermainan Anjani dulu sering membicarakan Gadhing yang katanya memiliki kelebihan yang tidak biasa seperti bisa bicara dengan makhluk tak kasat mata atau masuk ke dunia lain. Entah siapa yang memulai cerita yang tidak masuk akal itu. Ditambah bumbu-bumbu mistis dan takhayul yang ia dengar dari orang-orang tua di desa ini, Anjani yang masih anak-anak percaya begitu saja dengan cerita itu. Suatu hari, mereka mendapat tugas dari Bu Rasmi untuk membersihkan halaman depan yang akan dijadikan tempat untuk tanaman anggrek dalam pot. Anjani pikir tidak ada salahnya bila ia menanyakan perihal benar tidaknya cerita itu pada Gadhing.

“Aku lelah. Tapi, tanaman anggrek di pot-pot itu belum kusiram semua,” ujar Anjani seraya meletakkan gembor ke tanah.

“Istirahat saja dulu!” saran Gadhing yang masih sibuk mencabuti rumput liar di sela-sela paving block.

“Kau juga belum selesai?” Anjani balik bertanya.

“Tinggal sedikit.”

Anjani duduk di atas batu besar di dekat bak yang telah diisi air untuk mencuci alat-alat yang digunakan untuk berkebun.

“Wah, pohonnya besar-besar, ya? Katanya, hantu-hantu senang tinggal di pohon besar,” Anjani memulai dengan menyinggung masalah pohon besar yang banyak tumbuh di halaman depan.

Gadhing hanya menoleh sebentar lalu kembali sibuk mencabuti rumput.

“Aku dengar kau bisa melihat hantu,” ujar Anjani berusaha memancing Gadhing.

“Apa?”

“Katanya kau bisa melihat hantu.”

“Itu tidak benar.”

Anjani mengalihkan pandangannya ke atas pohon nangka tak jauh dari tempatnya duduk.

“Itu artinya kau juga tidak bisa berpindah ke dunia lain atau menghilang?”

“Hah!”

Gadhing melempar sabit yang ia gunakan untuk membersihkan rumput ke bak. Ia ganti meraih sapu dan keranjang sampah di dekat Anjani.

“Kau benar-benar tidak bisa?”

Gadhing menggelengkan kepala.

“Jadi itu tidak benar, ya?”

Gadhing tidak menjawab. Ia sibuk menyapu rumput liar yang telah tercabut.

“Ya sudah kalau memang tidak benar. Kupikir kau pasti juga tidak menganggap kalau hantu lebah itu ada.”

“Jangan mudah percaya omongan orang! Kau ini ‘kan orang berpendidikan,” Gadhing bicara dengan nada ketus lantas meninggalkan Anjani setelah selesai menyapu dan mengumpulkan sampah ke dalam keranjang untuk dibuang.

“Aku ‘kan cuma tanya.”

“Kepo!”

Anjani tersentak. Astaga! Apa yang baru saja ia katakan? Kepo?

“Sudah, jangan baper! Kau ini sudah besar masak emosimu masih labil.”

Anjani makin lama makin dongkol dengan laki-laki yang telah berstatus suaminya itu. Ia tidak habis pikir. Gadhing bisa-bisanya bilang kalau istrinya kepo, baper, terus labil. Suami macam apa itu?

“Maaf, anggap saja aku hanya bercanda!”

Anjani memandangi Gadhing yang berjalan ke tempat pembuangan sampah di kebun belakang dengan wajah kecut. Ia tadi bilang maaf. Yang benar saja. Ia tidak pernah merasakan ketulusan dalam kata-katanya. Ia pikir Gadhing bicara kasar kepadanya karena Gadhing memang tidak pernah menyukainya. Selama ia tinggal di Semarang, Gadhing bertemu dengannya karena kedua orang tuanya yang mengajaknya. Gadhing sendiri tidak pernah menghubunginya lewat telepon atau pesan singkat, apalagi datang ke Semarang untuk menemuinya tanpa kedua orang tuanya. Sejak kedatangannya di rumah Mbah Lurah, Gadhing tidak pernah bersikap ramah padanya. Bila Anjani mendekatinya untuk sekadar bertanya, ia selalu menjawab pertanyaan Anjani dengan singkat atau bicara dengan ketus. Anjani sebenarnya sudah merasa jengah dengan Gadhing.

Anjani merasa pernikahan ini akan berujung masalah karena ketidakcocokan dan menjadi hubungan beracun. Gadhing sedari awal tampaknya tidak menganggap pernikahan ini ada. Atau lebih buruk lagi, ia mungkin menganggap pernikahan ini adalah beban dalam hidupnya. Anjani tidak ingin menjadi bagian dari beban orang lain, entah itu Gadhing atau siapa saja di rumah ini yang merasa bertanggung jawab atas hidupnya. Ia tidak ingin bergantung pada keluarga ini. Seraya menatap lurus pemandangan di kejauhan dari tempatnya berada, Anjani melihat rombongan sebuah keluarga diikuti warga desa lainnya baru pulang melayat. Mereka berduyun-duyun menuruni bukit kecil. Di atas bukit itu, orang-orang di desa ini memakamkan mereka yang telah meninggal dunia. 

Ketika baru tiba di desa ini, Anjani langsung ziarah ke makam ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Anjani juga dimakamkan di atas sana. Akan tetapi, makam Janta dan anggota keluarga Mbah Lurah lainnya tidak ada di atas sana. Pak Idhang dan Bu Rasmi memakamkan Janta, almarhum Mbah Lurah, almarhumah Mbah Lurah putri, dan anggota keluarga lainnya di pemakaman keluarga yang lokasinya tidak sejauh pemakaman yang digunakan sebagian besar warga di desa ini. Pemakaman keluarga itu ada di suatu tempat di desa ini di antara sawah-sawah, yang berupa sebidang tanah dengan pagar besi yang mengelilinginya. Pohon tanjung dengan batang berukuran besar tumbuh di tengah pemakaman itu. Bunga-bunga kecil berbau harum sering berjatuhan dari atas pohon. Waktu kecil, Anjani dan teman-temannya sering mengumpulkan bunga yang kadang jatuh di luar pagar makam untuk dironce dan dijadikan kalung.

Pak Idhang berasal dari keluarga terhormat di desa ini. Orang-orang desa menyebut mereka sebagai keluarga Mbah Lurah karena orang-orang tua di keluarga mereka sebelumnya pernah menjabat sebagai lurah turun-temurun di desa ini. Dimulai dari kakek buyut ayah Pak Idhang yang merupakan lurah pertama di desa ini kemudian disusul kakek Pak Idhang lalu kakak ayah Pak Idhang. Terakhir, ayah Pak Idhang yang menjabat hingga tiga kali dan dipanggil dengan sebutan Mbah Lurah oleh warga desa. Lurah yang sekarang juga masih saudara sepupu Pak Idhang.

Keluarga Mbah Lurah selain terpandang juga terkenal karena murah hati. Mereka sering memberikan bantuan pada warga yang membutuhkan dan mendukung kegiatan yang dilakukan di desa ini. Mereka tidak pernah keberatan jika diminta menyediakan tempat atau menyumbang dana untuk desa. Anjani mengakui kebaikan hati mereka dan semua yang mereka lakukan padanya. Setelah kematian ayah dan ibunya, keluarga ini menjadi bersikap sangat baik padanya. Ia mendapat kesempatan untuk sekolah di sekolah yang berkualitas unggul di Semarang atas biaya Pak Idhang. Kata Budhe, itu mungkin karena Bu Rasmi telah mengincarnya untuk dijadikan menantu. 

Gadhing sudah kembali dari kebun belakang sambil membawa keranjang sampah yang sudah kosong. Ia mengambil sabit dan membilasnya dengan air yang mengalir dari selang yang dipasang pada kran di sudut taman hingga bersih. Kemudian, ia membawa sabit dan alat-alat untuk bersih-bersih lainnya ke belakang tanpa bicara sepatah kata pun pada Anjani yang masih duduk di atas batu besar dekat bak menunggu air dari kran memenuhi bak yang digunakan untuk merendam alat-alat berkebun yang kotor. Anjani tidak tahan lagi. Ia buru-buru mematikan kran dan menyusul masuk ke dalam dengan wajah kesal. Tangan kanannya membawa gembor yang sudah kosong. Di ruang tamu, ia berpapasan dengan Bu Rasmi yang sedang mengganti taplak meja tamu.  

“Gadhing itu ya orangnya memang seperti itu. Kau harus sabar menghadapinya,” ujar Bu Rasmi yang tampaknya mengerti suasana hati Anjani.

Anjani tersenyum pada Bu Rasmi sembari menganggukkan kepala.

---

Suatu pagi, Gadhing terlihat sibuk membersihkan studio lukisnya. Setelah dari gudang di belakang, Gadhing masuk ke studio kemudian keluar sambil membawa kursi lalu ke gudang lagi. Ia juga memindahkan meja kecil yang biasa ia pakai untuk meletakkan kaleng-kaleng cat ke gudang. Tak berapa lama kemudian, ia membawa rak kecil dan bangku tinggi dari gudang ke kamarnya. Ia mungkin membeli rak kecil dan bangku tinggi itu di toko mebel kemudian menyimpannya di gudang karena belum ingin menggunakannya. Anjani yang berdiri di depan pintu kamar hanya memperhatikan saja. Ketika lewat di depannya, Gadhing tampak kerepotan.

“Aku bawakan bangkunya,” ujarnya sembari meraih bangku tinggi itu dari tangan Gadhing. “Dimasukkan ke studio ‘kan?”

“Iya.”

Sesampainya di depan ruangan yang minim pencahayaan itu, mereka berhenti sebentar. Gadhing membuka pintu kemudian memasukkan rak kecil yang dibawanya pelan-pelan. Anjani menunggu di belakang. Setelah Gadhing selesai, ia ganti memasukkan bangku tinggi itu ke dalam ruangan.

“Bersih-bersih kamar, ya?”

“Tidak. Cuma mengganti perabotan.”

“Meja dan kursi itu rusak?”

“Tidak. Kotor kena cat.”

Anjani memperhatikan lukisan yang sepertinya baru diselesaikan Gadhing. Lukisan itu disandarkan di dinding dekat jendela nako. Itu mungkin karena catnya masih basah. Ada anak-anak kecil memakai baju warna-warni sedang merangkak di atas awan putih mengejar sesuatu yang bersinar di langit yang jauh. Anak-anak kecil dalam lukisan itu bukan anak kecil yang belum bisa berjalan. Tapi, itu sepertinya memang bukan anak kecil. Anjani melihat dengan lebih seksama. Anak yang sudah besar, atau lebih tepatnya remaja, yang merangkak seperti anak kecil atau tubuhnya memang tubuh anak kecil. Uniknya lagi, wajah anak-anak itu serupa satu sama lain. Gadhing tidak mungkin melukis objek tanpa mengecoh orang yang melihat hasil lukisannya. 

“Dari mana kau mendapat ide untuk melukis seperti ini?” tanya Anjani.

Gadhing tidak menjawab, seraya melihat sekilas pada Anjani lalu kembali sibuk mengatur letak rak dan bangku.

“Apa ini anak-anak yang tak kasat mata itu?” tanya Anjani lagi.

Gadhing tetap tidak menjawab.

“Mereka teman-temanmu yang itu, ya?”

Gadhing menatap tajam ke arah Anjani.

“Tinggalkan saja bangku itu di sana! Setelah itu, kau keluar dari kamarku. Aku bisa membereskannya sendiri.”

Anjani bergegas keluar dari kamar Gadhing.     

“Anak-anak yang mana lagi yang dibicarakan perempuan itu?” dengus Gadhing sambil menutup pintu kamarnya. Anjani mendengar kata-kata Gadhing barusan dengan jelas. Ia pasti sengaja, bisik Anjani.

“Suatu hari, ia pasti akan menemukan apa yang ingin ia cari jawabannya dengan caranya sendiri. Itu akan menjadi satu-satunya cara.”

Anjani menghentikan langkahnya, menengok ke arah pintu kamar Gadhing. Ia kira ia tidak salah dengar. Apa yang ia katakan tadi? Itu akan menjadi satu-satunya cara untuk apa?

Anjani meneruskan langkahnya. Di belakangnya, Bu Rasmi yang kebetulan lewat di depan kamar Gadhing mengetuk pintu kamar Gadhing. Setelah Gadhing membukakan pintu, Bu Rasmi lantas menarik tangan anaknya itu. Anjani menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar.

“Kita harus bicara,” kata Bu Rasmi.

“Apa yang akan kita bicarakan? Aku sudah bosan jika Ibu mengajakku bicara masalah itu lagi.”

Lihat selengkapnya