Sehabis subuh, jalan di depan rumah Mbah Lurah yang biasanya masih lengang mendadak ramai. Penduduk desa dikejutkan dengan penemuan mayat perempuan di kebun kosong yang katanya istri pedagang sayur keliling yang tinggal di desa tetangga. Perempuan itu katanya menjadi korban pembunuhan. Seseorang telah menikamnya dari belakang kemudian membuang mayatnya di kebun kosong yang jauh dari rumah-rumah penduduk. Ada bekas luka tikaman pisau di bagian punggung perempuan itu. Salah satu warga yang kebetulan lewat menemukannya sudah dalam keadaan tergeletak tak bernyawa.
Polisi sudah datang ke lokasi kejadian. Karena tempat itu diamankan untuk sementara, warga pindah berkerumun di jalan di depan rumah Mbah Lurah membicarakan kejadian nahas itu. Ada beberapa warga yang mengenal siapa perempuan yang menjadi korban pembunuhan itu. Salah satu di antara mereka bilang kalau suami perempuan itu tidak ada firasat apa-apa karena sang istri sebelumnya pamit hendak pergi ke rumah orang tuanya di desa yang lokasinya cukup jauh dari desa mereka. Dia pikir istrinya belum pulang karena masih ada urusan di rumah orang tuanya. Menjelang dini hari, tetangganya mengetuk pintu rumahnya dan memberitahu bahwa istrinya ditemukan telah menjadi mayat di sebuah kebun kosong di Randuhayu. Sebelum ditemukan tewas, ada saksi yang melihat dia naik mobil angkutan desa.
Perempuan yang menjadi korban pembunuhan itu masih muda. Dia baru menikah setahun yang lalu. Dia hanya tinggal di rumah setiap harinya dan memang kadang-kadang mengunjungi orang tuanya yang tinggal di desa lain atau pergi ke kota untuk membeli keperluan harian. Setiap kali pergi, dia lebih sering diantar oleh suaminya yang kebetulan sedang tidak bekerja. Namun, dia memutuskan pergi sendiri pada hari itu dengan naik mobil angkutan desa karena suaminya sudah berangkat bekerja lebih pagi dari hari biasanya.
Orang-orang lalu menghubungkan kejadian itu dengan kasus pembunuhan berantai yang pernah terjadi di desa ini lima belas tahun silam. Pembunuhan demi pembunuhan yang terjadi tanpa didasari sebab yang jelas membuat situasi di desa Randuhayu kala itu mencekam. Hampir semua korban yang ditemukan adalah perempuan yang masih muda dan tidak tinggal di Randuhayu. Mayat yang menjadi korban pembunuhan sering ditemukan di sungai dalam keadaan terjepit atau tersangkut bebatuan di sekelilingnya. Mayat-mayat itu seolah dibaringkan di dalam air sedemikian rupa. Jasad mereka telah membiru dan agak menggelembung ketika ditemukan penduduk desa keesokan harinya. Banyak penduduk desa yang kemudian tidak berani pergi ke sungai karena takut bila kebetulan menemukan mayat yang menjadi korban pembunuhan.
Kabar yang beredar selanjutnya dikisahkan oleh pedagang barang bekas keliling bernama Sunaryo. Dia memberitahu orang-orang kalau pembunuhan yang terjadi secara berulang-ulang itu ada kaitannya dengan ritual pesugihan yang mengharuskan adanya tumbal yang dihanyutkan ke sungai dalam posisi tubuh terbaring menghadap ke atas. Sunaryo membumbuinya dengan menyebutkan keganjilan-keganjilan yang ditemukan pada korban seperti ditemukan tanpa alas kaki, berpakaian masih lengkap, tidak ada luka di wajah, dan kondisi-kondisi fisik lainnya yang coba dikait-kaitkan dengan ritual pesugihan. Kabar burung yang beredar itu kemudian tenggelam begitu saja setelah ada isu hantu lebah yang menurut para peronda sedang bergentayangan di desa mereka.
Hantu lebah digambarkan sebagai sosok tinggi besar berpakaian seperti petani lebah yang hendak memanen madu lengkap dengan topi lebar yang diselubungi kain pelindung. Jubah yang dikenakan hantu itu menyentuh tanah sehingga tidak kelihatan kalau dia memijakkan kaki di tanah atau melayang. Hantu itu selalu muncul di malam hari dari arah bekas reruntuhan bangunan peninggalan Belanda. Orang-orang yang kebetulan pernah melihatnya mengatakan kalau sosok yang mereka anggap hantu itu hanya berdiri di bawah pohon di sekitar reruntuhan bangunan. Namun, penampilannya yang menyeramkan membuat orang-orang langsung lari terbirit-birit ketika berpapasan dengannya.
Sebagian warga desa mempercayainya dan sebagian yang lainnya hanya menganggapnya omong kosong. Isu hantu lebah itu merebak hingga menjadi buah bibir warga desa. Ada yang melihatnya pada tengah malam. Ada pula yang melihatnya menjelang Subuh. Terlepas dari benar tidaknya keberadaan hantu lebah yang menarik perhatian warga desa, isu itu menjadi pengalihan sesaat untuk kasus pembunuhan berantai di Randuhayu. Pelaku pembunuhan berantai yang terus dicari oleh polisi sampai memakan waktu berbulan-bulan tidak pernah berhasil ditangkap hingga kasus itu tertinggal menjadi misteri yang mendirikan bulu kuduk siapa saja yang pernah mendengarnya.
Hal yang aneh adalah kasus pembunuhan yang tak ubah mimpi buruk bagi warga desa itu pun lenyap dengan sendirinya. Pembunuhan berantai itu tiba-tiba berhenti seolah ada yang telah memutus siklusnya. Ada yang menduga pelaku pembunuhan itu telah meninggal tetapi ada yang menyebutkan kalau pelakunya mungkin saja tertangkap polisi karena menjadi pelaku kejahatan di luar desa. Terputusnya kasus pembunuhan berantai di Randuhayu juga menjadi tanda tanya tersendiri bagi Anjani. Akan tetapi, kejadian yang lebih mengundang rasa penasarannya adalah kematian kedua orang tuanya yang kata orang-orang desa karena kebakaran. Peristiwa menyedihkan yang dialami keluarganya yang menurut kesaksiannya berawal dengan upaya pembunuhan yang dilakukan terhadap ibunya tidak dikatakan sebagai penyebab kematian kedua orang tuanya oleh mereka yang mengaku menjadi saksi mata.
Peristiwa kebakaran itu terjadi setelah penemuan mayat perempuan muda yang berasal dari luar desa yang ditemukan tersangkut akar pohon di bantaran sungai dekat area persawahan. Penemuan mayat perempuan tak dikenal untuk ke sekian kalinya di desa mereka menjadi perbincangan warga tiada habisnya. Menurut beberapa orang warga, perempuan yang menjadi korban pembunuhan itu tidak pernah terlihat sebelumnya di desa mereka. Namun, polisi tidak percaya hingga pemeriksaan yang lebih lanjut dilakukan dengan memeriksa rumah-rumah warga yang diduga menyembunyikan orang dari luar desa. Kematian orang tua Anjani yang diyakini karena kebakaran itu tentu saja tidak dikaitkan dengan kasus pembunuhan misterius itu.
Terlepas dari desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut di desanya, Anjani tetap yakin seseorang telah membunuh ibunya meski dia hanya melihat sekelebat sosok misterius yang berjalan mengendap-endap di antara semak-semak di halaman belakang sebelum masuk ke dalam rumah. Dia kemudian mendengar suara ibunya bicara dengan suara terputus pada seseorang yang tampaknya berusaha mencekiknya. Suara ibunya terdengar jelas. Ketika dia mendengar ibunya berkata memohon ampun pada orang itu agar tidak membunuhnya, ada orang yang membekapnya dari belakang hingga dia pingsan. Sesudahnya, dia tidak pernah mendengar adanya pembunuhan yang dilakukan terhadap ibunya tetapi peristiwa kebakaran yang menewaskan ayah dan ibu.
Hal paling kejam yang pernah Anjani dengar, ada seorang warga desa yang menduga peristiwa itu mungkin saja pembunuhan dan pelakunya adalah ayahnya. Dia mengungkapkan dugaannya itu karena satu-satunya barang bukti yang ada di tempat kejadian adalah pisau dapur yang biasa digunakan ibunya Anjani. Namun, dugaan itu untungnya tidak bisa diterima oleh polisi yang melakukan penyelidikan pada waktu kejadian. Peristiwa kebakaran yang mengenaskan itu kemudian disusul kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Janta dua hari sesudahnya. Pembunuhan berantai di Randuhayu tak terjadi lagi setelah itu. Mayat perempuan yang ditemukan tersangkut akar pohon di bantaran sungai bisa jadi korban terakhir dari pembunuhan berantai. Isu hantu lebah yang sempat menghebohkan juga mulai dilupakan oleh warga desa.
---
Lima belas tahun berselang, isu hantu lebah kembali merebak di Randuhayu. Isu itu kian menjadi isu panas dan dibicarakan orang-orang di Randuhayu. Anjani bahkan mendengar mereka membahasnya di sela-sela rapat penyelenggaraan PAUD dan Program Kejar Paket B siang itu di balai desa. Dua orang laki-laki setengah baya tampak serius membicarakan kejadian yang mengenaskan itu. Anjani mengenal baik keduanya. Namanya Pak Sarman dan Pak Giman.
“Sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa yang membunuh perempuan itu, termasuk polisi,” Pak Giman mengungkapkan rasa prihatin.
“Iya, belum terpecahkan,” sahut Pak Sarman.
“Itu artinya pembunuhnya masih berkeliaran. Perempuan itu tidak seharusnya pergi sendiri. Kenapa si pembunuh memilih perempuan itu sebagai korbannya?” Pak Giman tampak tidak habis pikir.
“Yang namanya pembunuhan ya tetap pembunuhan siapa pun yang menjadi korbannya,” ujar Pak Sarman.
“Tapi tetap ada motifnya ‘kan?” sergah Pak Giman.
“Korbannya yang sekarang bukan orang asing seperti pembunuhan lima belas tahun lalu. Cuma orang dari desa tetangga,” ujar Pak Sarman lagi.
“Paling dipicu dendam asmara,” Pak Giman menyimpulkan dengan percaya diri.
“Jangan sok tahu ah!” Pak Sarman memperingatkan.
“Banyak yang meributkan soal hantu lebah. Aku ingin tidak mempercayainya tapi apa ada jawaban yang lebih masuk akal.”
“Sudahlah, Giman. Kalau hantu itu ada kaitannya dengan pembunuhan kali ini, kita tunggu saja kabar kemunculan hantu itu.”
Anjani ikut larut mendengarkan percakapan mereka di tengah jeda acara yang tak kunjung usai. Dendam asmara, gumam Anjani.
Pembunuhan terhadap perempuan muda yang mayatnya ditemukan di kebun kosong memang tidak diikuti dengan terjadinya pembunuhan berikutnya hingga beberapa bulan kemudian. Polisi memperkirakan pelakunya mungkin kabur untuk sementara dan melakukan pembunuhan di desa lain. Akan tetapi, tidak ada kabar yang menyebutkan adanya pembunuhan serupa di desa lain hingga saat ini. Sebagian warga desa menyimpulkan pembunuhan kali ini hanya pembunuhan biasa. Ada juga yang mulai meyakini pelaku pembunuhan berantai lima belas tahun silam telah meninggal dunia dan pembunuhan yang terjadi sekarang dilakukan oleh orang yang berbeda.
Jika kasus-kasus pembunuhan lima belas tahun yang lalu itu mengarah pada kasus pembunuhan berantai, pelakunya tentu seseorang yang gemar membunuh tanpa motif yang jelas. Sebagai sosok yang haus darah, dia tentu tidak lantas tiba-tiba berhenti setelah kematian perempuan terakhir yang ditemukan di bantaran sungai. Dia tentu berencana melakukan pembunuhan lagi. Namun setelah kejadian yang terakhir itu, warga desa tidak menemukan korban pembunuhan lagi di sungai. Pelaku pembunuhan itu mungkin pindah ke desa lain. Akan tetapi, itu hanya dugaan. Warga Randuhayu sebenarnya tidak terlalu cemas karena tidak ada warganya yang menjadi korban pembunuhan berantai meski mayat-mayat korbannya ditemukan di Randuhayu.
Kehidupan di Randuhayu setelah penemuan mayat terakhir itu yang kemudian disusul dengan terjadinya peristiwa kebakaran yang menyebabkan kematian ayah dan ibu Anjani dan tewasnya Janta dalam sebuah kecelakaan kembali tenang. Sesudahnya, warga desa belum pernah mendengar kasus pembunuhan berantai seperti yang terjadi di desa mereka terjadi di desa-desa tetangga atau wilayah lain yang jauh dari desa mereka. Setelah bertahun-tahun berlalu, mereka hampir melupakannya dan kini terjadi lagi. Isu hantu lebah kembali merebak bukan karena ada saksi mata yang melihat hantu itu bergentayangan di desa ini. Mereka hanya menduga hantu lebah itu berkaitan dengan kasus pembunuhan yang terjadi di Randuhayu lima belas tahun yang lalu.
Reruntuhan bangunan yang diyakini menjadi sarang hantu kembali menjadi perhatian warga desa. Mereka yakin ada sesuatu yang mencurigakan dan tidak pernah mereka sadari tentang tempat itu. Isu hantu yang tidak pernah muncul selama ini kembali bergentayangan dan mencari mangsa tidak lagi ditelan mentah-mentah oleh warga desa. Korbannya mungkin baru satu orang tetapi mereka tidak menampik kemungkinan akan ada korban-korban berikutnya.
Randuhayu yang tenang kembali terusik dengan kasus pembunuhan. Jika pembunuhan kali ini dilakukan oleh orang yang sama, orang itu mungkin saja telah datang kembali ke desa ini. Namun, tidak ada pendatang baru yang tinggal di Randuhayu belakangan ini. Lima belas tahun yang lalu, orang asing yang dicurigai sebagai terduga pelaku pembunuhan juga tidak ada. Ada banyak orang yang datang tetapi mereka tidak menetap lama. Sebagian besar di antara mereka hanya tamu dari warga yang kebetulan menginap karena rumahnya jauh. Dugaan lainnya, orang di luar desa yang menjadi pelakunya. Dengan menjadikan Randuhayu sebagai tempat untuk membuang korban, jejak kejahatan mereka akan sulit dilacak.
---
Keesokan harinya ketika Anjani menengok rumah di kebun belakang yang katanya akan diperbaiki tukang yang dipekerjakan kelurahan, Anjani mendengar suara orang berteriak seperti orang marah-marah dari arah halaman belakang rumah. Anjani bergegas ke halaman belakang untuk melihat apa yang terjadi di sana. Sesampainya di pagar yang membatasi kebun dengan jalan, Anjani berdiri memperhatikan dari kejauhan. Dia melihat seorang perempuan tua berteriak ke arah anak-anak yang berkeliaran di sekitar reruntuhan bangunan yang diyakini sebagai sarang hantu lebah. Orang tua itu mungkin berusaha memperingatkan anak-anak itu agar jangan mendekati reruntuhan bangunan.
Anjani keluar lewat pintu pagar dari bambu yang sudah reyot. Dia berjalan ke arah reruntuhan bangunan. Orang tua itu kebetulan hendak berbalik meninggalkan anak-anak yang sudah pergi menjauh dari tempat itu. Orang tua itu ternyata Bu Ipah, tetangganya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Perempuan itu menghentikan langkah kakinya. Demikian halnya dengan Anjani.
“Mau melihat rumahmu lagi?” tanya perempuan itu.
Anjani menggeleng.
“Lalu, kau mau ke mana?”
“Aku cuma penasaran gara-gara mendengar keributan tadi.”
“Ah, anak-anak iseng itu mau ke reruntuhan bangunan yang di sana itu. Aku tentu saja melarang mereka agar tidak mendekat. Tempat itu tidak pernah dijamah orang. Tanaman-tanaman liar membuat tempat itu nyaman untuk hunian hewan-hewan berbisa.”
“Oh, rumah hantu lebah.”
Bu Ipah tertawa terkekeh-kekeh.
“Kau juga percaya hantu, ya?”
“Ah, Bu Ipah ini. Aku jadi malu. Bu Ipah sepertinya tidak percaya hantu.”
“Hantu itu mungkin saja memang ada. Tapi, aku yang setua ini belum pernah melihat hantu. Kau sendiri? Pernah melihat hantu?”
Anjani menggeleng.
“Kukira sudah pernah.”
Anjani tersipu mendengar ucapan Bu Ipah.
“Lalu, bagaimana dengan hantu yang katanya bersarang di reruntuhan bangunan itu?” tanya Anjani.
“Mungkin … maksudnya orang jahat yang suka membunuh itu yang kebetulan lewat atau berada di tempat itu.”
“Orang jahat yang suka membunuh? Bu Ipah kemarin bilang katanya ada orang jahat yang berkeliaran di desa ini.”
“Iya, iya. Aku juga bilang ‘kan kalau aku pernah melihat orang itu?”
Anjani menatap Bu Ipah dengan seksama. Orang tua itu terlihat serius dengan ucapannya barusan.
“Apa Bu Ipah pernah melihat orang jahat itu membunuh seseorang?”