Kisah Gelap Keluarga Terhormat

Ratri Astutiningtyas
Chapter #4

4. Rahasia Keluarga Terhormat

Rumah keluarga Mbah Lurah kedatangan tamu seorang perempuan. Ia memang kelihatan sudah tidak muda lagi tapi masih sangat cantik. Ia bukan teman Bu Rasmi atau saudara jauh Pak Idhang yang kebetulan bertamu ke rumah. Tamu itu ternyata adik kandung Pak Idhang yang bernama Risna. Malam itu, Risna datang seorang diri dengan diantar taksi. Anjani yang membukakan pintu dan menyambutnya tentu saja tidak mengenalinya meski Bu Rasmi yang tiba-tiba muncul di belakangnya berteriak kegirangan. Kedua perempuan itu langsung berpelukan.

           “Aku kira tidak jadi datang,” seloroh Bu Rasmi.

           “Jadilah. Apa Mas Idhang tidak bilang sama Mbak Rasmi?”

           “Ya, bilang. Soalnya, tidak ada telepon lagi.”

           “Ah, Mbak Rasmi ini selalu harus pasti sekali.”

           “Ya, begitulah aku.”

           “Syukurlah! Mbak Rasmi masih seperti dulu.”

Bu Rasmi mengantarkan Risna masuk ke kamarnya. Risna tidak membawa banyak barang, hanya koper kecil dan tas tangan. Ia membawakan Bu Rasmi tas souvenir kecil yang mungkin isinya perhiasan atau barang mahal lainnya. Sepasang mata Bu Rasmi terlihat berbinar ketika melihat isinya. Kemudian, mereka berbincang di kamar Risna hingga larut malam. Kata Pak Idhang, mereka memang saling melengkapi bila sudah menemukan topik pembicaraan yang cocok. Lagi pula, istrinya yang hanya selisih satu tahun lebih tua dari adiknya itu mudah akrab. Pak Idhang sendiri tidak keberatan istrinya larut dalam perbincangan yang tak akan ada habisnya dengan Risna. Ia justru merasa senang karena Bu Rasmi membantunya mencairkan ketegangan di antara mereka. Ia tampaknya tidak bisa benar-benar akur dengan adik kandungnya itu meski sangat menyayanginya. Risna mungkin pernah membuatnya kecewa.

Anjani belum pernah bertemu Risna tetapi ia sering mendengar cerita tentang perempuan itu dari orang-orang desa setiap kali menyinggung peristiwa lima belas tahun lalu terkait kematian Janta. Risna pernah tinggal di desa ini setelah menikah dan melahirkan anak laki-lakinya, Janta. Keluarga Mbah Lurah membangun rumah di belakang rumah utama untuk Risna dan suaminya, yang sekarang menjadi rumah kosong dan akan dijadikan ruang kelas untuk PAUD dan Program Kejar Paket B. Sayangnya, keluarga kecil itu tidak bertahan. Risna kemudian meninggalkan desa dan tinggal berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain setelah suaminya, Pak Anom, menghilang. Janta tetap tinggal bersama keluarganya di desa.

Kejadian menghilangnya Pak Anom itu sudah lama sekali. Anjani juga belum lahir. Lagi-lagi, ia hanya pernah mendengar kisahnya dari orang-orang tua di desa yang kadang masih membicarakannya bersamaan dengan isu hantu lebah yang sering muncul di reruntuhan bangunan di belakang rumah yang dulu ditinggali keluarga Pak Anom. Anjani hanya menjadi pendengar cerita yang keluar dari mulut orang-orang yang tahu tentang kejadian itu. Setelah sekian lama pergi, Risna datang kembali ke rumah ini. Ia baru datang setelah bertahun-tahun anak laki-lakinya meninggal dunia dalam kecelakaan tragis. Anjani sependapat dengan Pak Idhang kalau kedatangan Risna memang mengundang tanya.

Ketika berpapasan di ruang tamu pagi itu dan melihat Risna dari dekat, Anjani merasa kagum dengan sosok perempuan itu. Ia benar-benar cantik. Penampilannya modern dengan rambut pendek dicat coklat, kulit muka yang halus, dan bibir yang selalu tampak basah menggoda. Ia tampaknya sering pergi ke salon kecantikan. Dari pembicaraan Bu Rasmi dan Pak Idhang beberapa hari yang lalu, Anjani mengambil kesimpulan tidak ada keperluan mendesak yang membuat Risna kembali ke desa ini. Ia mungkin sedang cuti dan ingin menghabiskan waktu di sini. Tidak ada lagi tempatnya pulang selain ke rumah keluarganya yang tinggal di desa ini.

“Kau tinggal serumah dengannya?”

Bu Rasmi membuka percakapan pagi itu dengan pertanyaan tentang kekasih baru Risna ketika Anjani mengantar teh manis dan kue lapis legit, kue yang sering dibeli Bu Rasmi tiap kali belanja keperluan harian di kota.

“Tidak. Ia hanya kadang menginap. Ia menyewakan sebuah rumah untukku. Rumah itu kecil dan lokasinya di pinggir kota. Ya, lumayan nyaman.”

“Oh, ya? Ia baik sekali. Kukira kau masih berhubungan dengan pemilik hotel itu. Masmu pernah menceritakan soal itu padaku.”

“Tidak lagi. Ia bangkrut setelah bercerai dengan istrinya. Hutangnya menumpuk dan anak laki-lakinya yang sering berbuat onar masuk penjara. Kami jadi sering bertengkar. Karena sudah tidak tahan lagi dengannya, aku tinggalkan saja.”

“Nasibnya sungguh malang.”

“Aku juga kasihan. Tapi, ia sendiri memang suka cari masalah.”

Anjani yang sibuk menghidangkan makanan dan minuman terhenyak mendengar kata-kata Risna barusan. Ia tak mengerti dengan pemikiran Risna yang mengenal gelagat tidak baik laki-laki yang menjalin hubungan dengannya tetapi tetap melanjutkan hubungan itu. Ia sepertinya perempuan yang sering bermasalah dengan laki-laki, Anjani berkata dalam hati.

“Oh, ya. Ini Anjani. Kau masih ingat ‘kan?”

Bu Rasmi memperkenalkan Anjani pada Risna. Anjani lalu tersenyum pada Risna yang langsung disambut dengan senyumnya yang menawan.

“Ingat namanya saja. Kau pasti bayi yang itu, ya? Waktu itu, aku baru pulang dari rumah sakit. Aku ikut Mbak Rasmi menengok ibumu yang baru melahirkan.”

“Iya, Anjani memang bayi yang kita tengok setelah kau kembali dari rumah sakit. Setelah itu, kau pergi dan tidak kembali sampai aku hampir melupakanmu.”

“Mbak Rasmi ini ada-ada saja. Aku sudah lama dilupakan sejak dulu.”

“Oleh siapa?”

“Orang-orang di sini.”

“Benarkah? Ya, sudah kalau kau merasa seperti itu.”

Anjani tersenyum pada Risna. Setelah meletakkan dua gelas teh dan piring berisi beberapa potong kue lapis legit di meja, ia mempersilakan Risna minum dan mencicipi kue itu. Kemudian, ia meninggalkan keduanya yang terus berbincang.

“Kau seharusnya tidak datang sekarang.”

Anjani yang masih beberapa langkah dari pintu ruang tamu tercekat mendengar kata-kata Bu Rasmi barusan. Kata-kata itu mengingatkannya pada percakapan antara Bu Rasmi dan Pak Idhang sebelum Risna pulang. Ia lantas mencari sudut tersembunyi di antara ruang tamu dan ruangan di sebelahnya yang menjadi ruang kerja Pak Idhang.

“Kenapa, Mbak?”

“Ada kasus pembunuhan lagi.”

“Lantas apa hubungannya dengan kedatanganku ke desa ini?”

“Sepertinya hidupmu sangat menyenangkan di kota. Kau sampai lupa dengan masa lalumu.”

“Ah, Mbak Rasmi ini! Aku tidak mungkin lupa. Tapi, itu sudah lama terjadi dan tak terungkap,” Risna berkata dengan tenang.

“Tak terungkap katamu? Aku justru khawatir kasus pembunuhan yang terjadi sekarang akan menjadi jalan yang menuntun polisi menemukan siapa di balik pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada waktu itu."

“Mbak Rasmi jangan berpikir terlalu jauh. Lagi pula, Bapak sudah meninggal. Janta juga sudah tiada.”

“Memang. Tapi, Risna. Bila kasus itu terbongkar, keluarga besar kita akan kehilangan kehormatannya.”

“Kasus itu tidak mungkin terbongkar. Bukankah Mas Idhang sudah menjamin akan melakukan apa saja untuk mencegah agar kasus itu tidak terbongkar?”

“Usaha ya usaha. Tapi, kita tidak akan mampu mencegahnya bila kemungkinan terbongkar itu di luar perhitungan kita.”

“Ah, Mbak Rasmi ini seperti meramal nasib saja.”

“Meramal nasib yang seperti apa?”

“Mbak Rasmi seolah berpikir kasus itu suatu saat nanti pasti terbongkar.”

“Itu yang paling kutakutkan. Aku sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin menutupi masalah itu.”

“Aku juga tahu itu. Mbak Rasmi terpaksa setuju dengan rencana Bapak.”

“Rencana yang mana?”

“Yang soal ....”

“Ssst, jangan keras-keras!”

Lihat selengkapnya