Sejak kedatangan Risna, Bu Rasmi seolah mendapat teman bicara yang mengerti apa saja yang menjadi kegundahannya selama ini. Kegundahan Bu Rasmi tentu saja kegundahan perempuan yang hanya berdiam di rumah sepanjang hari. Ia mengeluhkan anaknya yang kadang keras kepala, suaminya yang terlalu keras bekerja, atau sulitnya mencari pembantu yang bisa dipercaya untuk membantunya mengurus rumah Mbah Lurah yang besar. Risna lebih sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar. Pembicaraan mereka akan memanas bila Risna yang mulai berbicara. Keluh kesahnya bukan keluh kesah perempuan dengan kehidupan yang biasa.
Anjani ikut merasa senang dengan kehadiran Risna. Ia juga menjadi lebih banyak waktu luang untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa terbebani perasaan tidak enak hati bila tidak menemani Bu Rasmi duduk-duduk di beranda, ruang tengah atau ruang tamu sambil berbincang-bincang. Hal yang membuatnya semakin senang, ia telah menemukan sebuah lorong rahasia ketika menggeser lemari di kamarnya beberapa waktu lalu. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan pintu yang terhubung ke lorong rahasia di rumah ini. Anjani penasaran ingin melihat apa yang ada di dalam lorong itu. Benarkah lorong yang memanjang itu menyimpan rahasia?
Ia sudah berencana untuk menyelidikinya hari ini ketika orang-orang di rumah sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah memakai kain penutup hidung, ia menggeser lemari, membuka pintu dan masuk ke dalam lalu menelusuri sepanjang koridor yang terputus di ujung yang tampaknya ditutup dengan dinding bata tanpa semen. Anjani menduga ruangan di balik dinding tentu ruang tengah. Ia bisa mendengar tembang Jawa yang keluar dari ponsel Pak Idhang. Setiap kali bersantai di ruang tengah, Pak Idhang selalu memutar tembang Jawa sambil menikmati teh panas. Cahaya matahari yang berasal dari genting kaca bersinar terang sehingga Anjani bisa melihat keadaan di sekelilingnya dengan jelas.
Suara tembang Jawa dari ponsel Pak Idhang sudah dimatikan. Anjani yang sedari tadi berhenti di ujung lorong lalu berbalik arah, bergeser ke dinding di sebelah kanan, meraba dinding yang dingin itu dan buru-buru menempelkan telinganya ke dinding ketika mendengar suara Bu Rasmi. Ruangan di belakang dinding ini pasti kamar Risna dan ruangan di belakang dinding sebelah kiri tentu kamar Pak Idhang dan Bu Rasmi karena bersebelahan dengan kamarnya. Kamar yang ada di depan kamarnya adalah kamar kosong lalu di sebelahnya yang juga menempati bagian ujung dari lorong yang memanjang adalah studio melukis Gadhing. Bu Rasmi tampaknya sedang mengobrol dengan Risna di kamar Risna. Anjani semakin merapatkan telinganya ke dinding.
“Begini, Ris. Yang namanya cinta itu ‘kan tidak seharusnya tumbuh karena dipaksa. Waktu itu, ia mengatakan menerima perjodohannya dengan Anjani kemudian mereka menikah. Tapi, jalan menuju pernikahan itu seharusnya tidak dengan cara seperti itu.”
“Aku ikut merasa bersalah, Mbak. Kita telah membuatnya ikut menanggung akibat perbuatan Janta di masa lalu. Menurutku, itu jelas tidak adil baginya.”
“Betul sekali, Ris. Aku sendiri tak sanggup melawan keinginan ayah mertuaku.”
“Sayang sekali! Menurutku, Anjani bisa menjadi pasangan serasi untuk Gadhing. Ia cantik dan pintar. Ia seharusnya bisa mencintai Anjani dengan bebas, bukan dengan perasaan terbebani karena rasa bersalah.”
“Ya, aku tidak tahu harus bagaimana membuat Gadhing benar-benar mau menerimanya. Ia sendiri tahu perjodohan ini sengaja diatur untuk mencegah agar rahasia kita tidak terungkap. Dengan menjadikan Anjani sebagai anggota keluarga ini, ia tidak akan berpikir untuk melawan kita.”
“Alangkah sakralnya nama baik keluarga sehingga jalan hidup yang kita tempuh selalu harus dilakukan dengan mempertimbangkan baik buruknya bagi kelangsungan riwayat hidup keluarga kita di masa depan.”
Anjani nyaris tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Bu Rasmi dan Risna tengah membicarakan dirinya dan Gadhing. Bu Rasmi mengatakan perjodohannya dengan Gadhing sengaja direncanakan oleh Mbah Lurah sebagai bentuk rekayasa untuk menjaga nama baik mereka. Mereka menerimanya sebagai bagian dari keluarga ini untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi dan Gadhing tentu tidak pernah menikahinya atas dasar cinta. Anjani tidak bisa menahan perasaannya. Dadanya terasa sesak. Ia mulai terisak dan ingin menangis.
“Gadhing, Ibu peringatkan untuk tidak mengulangi keisenganmu menguping pembicaraan orang tua!”
Bu Rasmi tiba-tiba berteriak pada seseorang yang ia pikir Gadhing. Anjani berusaha menahan tangisnya seraya menutup mulut dengan tangannya.
“Gadhing, keluar sekarang!” Bu Rasmi berteriak.
Anjani keluar dari lorong dengan mengendap-endap.
“Ibu bicara dengan Gadhing?”
Anjani mendengar suara Pak Idhang yang tiba-tiba masuk ke kamar Risna.
“Anak itu masih suka menguping pembicaraan orang tua,” keluh Bu Rasmi.
“Tapi, Gadhing baru saja pamit mau ke tempat Pak RT sebentar. Katanya mau minta tolong untuk dibuatkan surat keterangan.”
“Jadi, Gadhing tidak ada di rumah?”
“Tidak.”
“Berarti ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan kita tadi, Ris.”
“Ah, itu mungkin hanya perasaan Mbak Rasmi saja,” Risna berusaha menenangkan Bu Rasmi.
Anjani bergegas keluar sebelum mereka menyadari keberadaannya di lorong rahasia itu. Sesudah ia berhasil keluar, ia kembali menggeser lemari ke posisi semula dan membuat suara ribut seolah sedang membersihkan kamar. Anjani merasa aneh. Bu Rasmi mengetahui keberadaan lorong rahasia di rumah ini. Ia pasti juga hafal ruangan mana saja yang terhubung dengan lorong rahasia itu. Anjani hanya berharap mereka tidak curiga padanya.
---
Beberapa hari setelah Anjani menyelidiki lorong rahasia itu, Pak Idhang maupun Bu Rasmi belum mendatangi kamarnya. Namun, ia tetap merasa gelisah. Mereka mungkin saja telah menduga bahwa ia yang menguping pembicaraan Bu Rasmi dan Risna. Ia tidak berani keluar kamar. Ia takut bila bertemu Bu Rasmi atau Risna. Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya. Anjani beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Lain kali jangan meninggalkan benda semacam ini di lorong!” Gadhing berkata sembari mengulurkan kain penutup hidung pada Anjani.
Anjani menerima kain penutup hidung itu dari tangan Gadhing. Ia telah menjatuhkan kain penutup hidungnya waktu buru-buru keluar dari lorong. Gadhing hanya mengatakan hal itu kemudian pergi. Jadi, Gadhing tahu kalau ia yang menguping pembicaraan antara Bu Rasmi dan Risna di kamar Risna. Tetapi, Pak Idhang bilang kalau Gadhing pergi ke tempat Pak RT ketika ia nyaris ketahuan. Bu Rasmi atau Pak Idhang mungkin mengatakan soal orang yang masuk ke lorong. Apa mungkin Gadhing sendiri sering masuk ke lorong rahasia itu?
Anjani mendadak berkeringat dingin. Ia berusaha memikirkan alasan yang tepat bila Pak Idhang atau Bu Rasmi bertanya soal itu. Ia akan mengatakan kalau ia tidak sengaja menemukan lorong rahasia itu kemudian ia masuk ke lorong itu karena penasaran. Selebihnya, ia akan mengaku kalau ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Bu Rasmi dan Risna karena telinganya masih agak terganggu setelah demam karena tersengat tawon. Anjani berusaha menenangkan diri, menghela nafas, dan membuka pintu kamarnya pelan. Ia pergi ke dapur dan menemukan Bu Rasmi sedang merebus air.
“Anjani, bisa bantu Ibu membuat teh?” tanya Bu Rasmi.
Anjani mengangguk sembari menuju rak perkakas untuk mengambil teko yang biasa digunakan untuk menyeduh teh. Sesudahnya, ia mulai memasukkan beberapa sendok teh ke dalam teko lalu menyeduhnya dengan air panas.
“Ibu mau mengambil sayuran di kulkas. Ibu mau masak sayur lodeh untuk nanti malam. Teman makan lauknya tempe saja, ya?”
“Mbak, aku butuh jahe dan jeruk nipis untuk membuat minuman. Aku tadi sudah mendapatkan jahenya di kotak bumbu tapi aku tidak tahu di mana Mbak Rasmi menyimpan jeruk nipis,” Risna tiba-tiba muncul di dapur.
“Tunggu sebentar! Aku ambilkan jeruk nipisnya di kulkas sekalian.”
Bu Rasmi mengambil sayuran dan jeruk nipis di kulkas yang diletakkan di ruang makan. Sekembalinya dari ruang makan, ia memberikan sebutir jeruk nipis pada Risna lalu mulai memotong-motong kacang panjang, labu siam, wortel, dan terong yang kemudian dicuci bersih bersama daun melinjo. Ia masukkan bahan-bahan itu ke dalam panci berisi santan yang sudah diberi bumbu. Risna membuat minuman jeruk jahe. Setelah selesai, ia menaruh minuman itu di meja. Sembari menunggu minumannya agak dingin, ia duduk di kursi pendek memperhatikan Bu Rasmi yang sibuk memotong sepapan tempe.
“Gadhing kok bisa tahu soal lorong rahasia itu?” tanya Risna.
“Lorong rahasia apa? Kau ini ikut-ikutan aneh. Gadhing tidak sengaja menemukan lorong yang seperti ruangan memanjang di antara kamar-kamar itu waktu aku menghukumnya tidak boleh keluar dari kamar. Ia mungkin bosan terus mulai mengamati pernak-pernik dinding dan akhirnya menemukan tarikan pintu untuk membuka pintu yang terhubung ke lorong.”
“Waktu aku masih kecil, lorong itu ‘kan koridor di antara kamar-kamar yang ditempati istri-istri kakek buyut yang membangun rumah ini. Kakek buyut memiliki banyak istri karena ia pejabat pemerintah zaman penjajahan Belanda.”
“Kata Mas Idhang, istrinya tiga,” sambung Bu Rasmi.
“Iya, tiga orang. Kakek buyut menyambangi istri-istrinya itu secara bergiliran.”
“Itu istri sah semua?”
“Iya. Masak Mbak Rasmi tidak pernah mendengar cerita tentang leluhur kita?”
“Ya, pernah dengar. Aku cuma heran. Kalau istrinya tiga, jumlah anggota keluarga kita harusnya banyak. Ayah mertua saja hanya mempunyai dua orang anak. Ia sendiri anak tunggal.”
“Kata Ibuku, anak-anaknya kakek buyut banyak yang meninggal sebelum lahir.”