BU Rasmi akhirnya tidak keberatan Gadhing memenuhi panggilan wawancara kerja dari perusahaan di Jakarta. Gadhing sudah berangkat dua hari yang lalu. Sepanjang hari ini, orang-orang di rumah sibuk dengan urusan masing-masing. Sejak pagi, Bu Rasmi membantu Bu Lurah menyiapkan acara sosialisasi pencegahan gizi buruk pada anak di kelurahan dan baru pulang sekitar jam satu siang. Ia masih lanjut mengikuti acara arisan PKK. Berkebalikan dengan Bu Rasmi, Anjani hanya berdiam diri di kamar seharian. Hingga sore itu, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Anjani bergegas membuka pintu dan ternyata Risna.
“Kau ada waktu hari ini?” tanya Risna.
“Ada.”
“Mbak Rasmi sudah bilang ‘kan soal kemarin?”
“Oh, menemani Mbak Risna ke makam Janta.”
“Iya. Hari ini bisa ‘kan?”
“Bisa.”
“Kita jalan kaki saja, ya?”
“Tidak masalah. Aku ganti baju dulu sebentar ya, Mbak?”
“Iya. Aku tunggu di ruang tengah.”
Anjani buru-buru mengganti baju, menyisir rambutnya yang panjang, dan mengoleskan pelembab untuk melindungi kulit wajahnya. Setelah tampak lebih rapi, ia menemui Risna di ruang tengah. Ia hanya membawa ponsel yang ia simpan di dompetnya. Di ruang tengah, Risna tampak sudah siap dengan sekantung plastik hitam penuh bunga tabur.
“Aku sebenarnya sudah ingin pergi ke pemakaman sehari setelah aku sampai di sini. Eh, Mbak Rasmi bilang aku harus bawa bunga tabur. Terus, Mbak Rasmi kemarin pesan minta dibelikan bunga pada tukang sayur langganannya. Jadi, ya baru bisa sekarang.”
“Oh, pantas Ibu minta aku yang menemani Mbak Risna. Hari ini, Ibu ‘kan ada urusan di kelurahan dan arisan terus besok acara sumbangan ke tempat Bu Har di desa tetangga. Katanya, anak bungsunya mau dikhitan.”
“Yang penting, kau mau menemaniku.”
“Mbak Risna tidak perlu sungkan.”
“Ya, ‘kan tidak enak hati sama Mbak Rasmi.”
Anjani terdiam.
“Kita pergi sekarang, yuk! Nanti kesorean.”
“Iya.”
“Eh, aku pamit Mas Idhang dulu.”
Risna mengetuk ruang kerja Pak Idhang yang terletak di antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Mas, aku pergi ke makam dulu.”
“Sendiri?”
“Sama Anjani.”
“Oh, ya. Mau pakai sepeda motor?”
“Tidak usah. Jalan kaki saja.”
“Ya, sudah.”
Jalan kaki ke pemakaman keluarga Mbah Lurah lebih mudah dilakukan daripada naik sepeda motor meski jarak ke pemakaman cukup jauh karena jalan sesudah batas desa Randuhayu dengan desa tetangga masih berupa jalan berbatu yang sulit dilalui kendaraan dan lahan di sekelilingnya berupa sawah. Di kejauhan, beberapa orang petani masih di sawah. Tiga orang laki-laki sedang membajak sawah dan lima orang perempuan menanam padi sambil sesekali berbicara satu sama lain. Suara mereka keras tapi tidak terdengar jelas di telinga Anjani.
“Masih jauh, ya?” tanya Risna.
“Sebentar lagi juga sampai. Kita baru di batas desa. Itu ada tugunya,” ujar Anjani sembari menunjuk ke tugu yang menandai batas desa.
Anjani melihat tidak banyak yang berubah di Randuhayu. Setelah batas desa, mereka akan melewati tiga rumah yang letaknya saling berjauhan. Rumah pertama dihuni sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki yang sekarang mungkin sudah besar. Rumah kedua ditempati pasangan yang sudah lansia tetapi rumah itu terlihat sepi. Rumah ketiga setahu Anjani menjadi tempat tinggal janda beranak satu bernama Bu Salam. Tapi, ia melihat ada yang buka warung di depan rumah itu. Ketika melihat dari jarak lebih dekat, ia belum pernah melihat perempuan berjilbab warna coklat berbunga-bunga yang menunggu warung yang menjual nasi pecel dan gorengan itu.
“Kita sudah sampai!” teriak Risna.
Anjani melihat pemakaman keluarga yang dikelilingi pagar besi dengan pohon tanjung berdiri di tengahnya. Bunga-bunga kecil berbau harum berjatuhan ke tanah.
“Mbak Risna, bawa kuncinya ‘kan?”
“Ini ada di sakuku.”
“Aku tadi lupa mengingatkan soal kunci pintu ke pemakaman.”
“Sudah disiapkan Mbak Rasmi kok.”
Risna membuka kunci gembok pemakaman yang telah berkarat. Suara berderit memecah keheningan tempat yang dikelilingi sawah itu. Rumput dan semak belukar yang tumbuh liar membuat jalan di antara makam yang satu dengan yang lainnya sulit dilewati. Anjani membaca nama-nama yang tertulis di atas batu nisan.
“Makam Janta di sebelah makam Mbah Lurah putri, Mbak.”
Risna berjalan ke arah makam Mbah Lurah putri. Ia mengusap batu nisan di sebelah makam Mbah Lurah putri. Ia mencabut rumput yang menutupi nama Janta lalu menaburkan bunga mawar merah dan putih di atasnya. Ia juga menaburkan bunga di atas makam Mbak Lurah dan Mbah Lurah putri. Sesudah itu, ia berdoa cukup lama di depan batu nisan Janta. Anjani menunggu di belakang Risna.
“Ayo, kita pulang!”
“Sudah selesai, Mbak?”
“Sudah. Jam berapa sekarang?”
Anjani melihat jam di layar ponsel.
“Lima kurang lima belas menit.”
Risna menggamit lengan Anjani. Mereka keluar dari makam yang semakin sunyi. Orang-orang yang bekerja di sawah sudah pulang. Setelah mengunci pintu makam, mereka bergegas pulang melewati jalan yang sama. Ketika melewati rumah yang sekarang di depannya ada warung, Anjani melihat Bu Salam sedang mengobrol dengan perempuan yang menunggu warung tadi. Mereka menyapa Anjani dan Risna. Karena terburu-buru, mereka tidak sempat mampir dan berbicara meski sekadar bertanya, terutama soal perempuan pendatang baru di desa ini yang menarik perhatian Anjani.
---
Pendatang baru yang tinggal di rumah Bu Salam yang Anjani lihat kemarin ternyata datang dari Jakarta. Namanya Bu Nung. Ia menyewa sebuah kamar di rumah Bu Salam selama mereka tinggal di desa ini. Ia tidak datang sendiri. Ia bersama seorang anak laki-laki yang sudah remaja. Namun, mereka bukan ibu dan anak. Bu Nung mengungkapkan kalau ia memang bukan ibu kandung anak itu tetapi ia yang merawat anak itu sejak bayi. Bu Nung sendiri sebelumnya janda tanpa anak. Bu Nung mengungkapkan kalau anak laki-laki yang tinggal bersamanya adalah anak temannya yang sudah meninggal. Anjani mengetahui hal itu ketika ia mengikuti kegiatan pendataan ibu-ibu PKK minggu ini.
Bu Bekti, ketua PKK, mengumumkan kalau mereka mendapat tugas dari Bu Lurah untuk meminta data kependudukan pada warga lama maupun baru yang ada di Randuhayu bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Anjani bersama Bu Bekti dan Bu Yanti bertugas mengumpulkan data warga untuk hari ini. Kebetulan, warga terakhir yang mereka datangi adalah Bu Salam yang tinggal di posisi paling ujung desa. Bu Salam dan perempuan pendatang itu kebetulan ada di rumah. Bu Salam menjelaskan kalau Bu Nung hanya tinggal sementara di desa ini. Alasannya datang ke desa ini adalah mencari ayah kandung anak laki-laki yang bersamanya.
“Oh, jadi begitu. Lalu, siapa nama ayah anak itu?” tanya Bu Bekti.
“Saya tidak tahu nama lengkapnya. Ia biasa dipanggil Hanta oleh teman saya. Iya, Hanta.”
“Hanta?” Bu Bekti mengulang nama itu. “Setahu saya, tidak ada warga di desa ini yang bernama Hanta.”
“Tapi, ia tinggal di desa ini. Teman saya menyebutkan nama desa dan lokasinya dengan jelas.”
“Entahlah. Kami juga sedang melakukan pendataan. Kalau kami menemukan orang bernama Hanta yang Bu Nung maksudkan, kami akan memberitahu.”
Bu Nung mengucapkan terima kasih. Setelah mengisikan jenis data yang dikumpulkan ke formulir untuk pendataan, Anjani dan tiga orang pengurus PKK lainnya berpamitan.
“Apa mungkin laki-laki itu Janta?” gumam Bu Bekti dalam perjalanan pulang dari rumah Bu Nung.
“Janta?” Bu Yanti yang berada di sebelah Anjani menoleh dengan tatapan bingung.
“Iya. Bu Nung bilang temannya itu memanggil ayah kandung dari anak itu ‘Hanta’ ‘kan? Hanta bisa saja maksudnya Janta,“ ujar Bu Bekti.
“Tapi, Janta ‘kan sudah meninggal,” sergah Bu Yanti.
“Kalau dipikir, Janta itu ‘kan meninggal waktu usianya sekitar dua puluhan. Anak yang bersama Bu Nung tadi sesuai tahun kelahiran yang tercantum di KK usianya lima belas tahun ‘kan?” Bu Bekti tampak meminta pertimbangan.