Hanta ternyata adalah Janta, orang yang dicari Bu Nung. Terungkapnya kenyataan tentang Janta berawal dari pengakuan Bu Nung pada Pak RW yang mendesak Bu Nung untuk menjelaskan tujuannya datang ke Randuhayu dengan lebih jelas. Bu Nung akhirnya mengakui kalau ia datang ke desa ini karena ia ingin memastikan latar belakang keluarga ayah kandung anak laki-laki yang bersamanya. Harapannya, keluarga itu bila memang tergolong keluarga yang baik akan mau menerima anaknya Janta. Ia kemudian menceritakan banyak hal tentang Janta pada Pak RW yang akhirnya membuat mereka bisa memastikan laki-laki yang dimaksud. Laki-laki itu benar Janta. Randuhayu adalah desa kecil. Kisah tentang Janta dan perilakunya yang buruk selama di Jakarta yang awalnya hanya diketahui satu dua orang warga akhirnya menyebar hingga ke seluruh desa. Kisah itu tentu saja menghebohkan warga desa.
Anjani sudah pernah mendengar kalau ayah kandung anak itu telah membunuh ibu dari anak itu dari Alin dan Alin tahu dari Bu Bekti yang mendengar langsung cerita Bu Nung. Hanya saja, ia tak menyangka kalau laki-laki itu ternyata benar Janta. Sebelumnya, warga desa meragukan sosok Janta yang disebut dengan nama Hanta. Bu Nung, kata Pak RW, menjelaskan kalau ia tahu tentang keluarga Janta dari seseorang yang kebetulan pernah mencari Janta ke rumahnya. Orang itu tidak hanya memberitahu Bu Nung latar belakang keluarga Janta yang kaya raya di desa, tetapi juga soal Janta yang sudah keluar dari penjara karena ada yang membantunya bebas. Awalnya, Bu Nung tidak peduli sampai akhirnya ia bertemu orang itu lagi setahun yang lalu. Orang itu mengatakan pada Bu Nung kalau Janta ternyata sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu. Ia baru datang ke desa ini setelah Janta tiada karena ia takut bertemu dengan Janta.
Pak Idhang dan Bu Rasmi yang merasa paling terpukul dengan kabar yang menyudutkan keluarga mereka yang selama ini dikenal terpandang di masyarakat. Mereka berunding cara menghentikan kabar yang tiba-tiba muncul ini. Mereka sepakat untuk melakukan pendekatan pada Bu Nung. Pak Idhang berharap ia bisa membuat kesepakatan dengan Bu Nung. Keluarga mereka cukup kaya. Mereka bisa memberikan apa saja yang diminta Bu Nung asalkan mau meninggalkan Randuhayu dan masalah anaknya Janta akan mereka urus. Anjani mulai merasa jengah. Keluarga ini sepertinya menyembunyikan rahasia gelap anggota keluarga lainnya dengan cara yang rumit, yang mana ketika satu orang menggali lubang, yang lainnya berusaha menutup lubang itu.
Anjani sudah berulang-ulang mendengar kisah tentang Janta yang menjadi bahan obrolan warga beberapa hari terakhir ini. Janta memang pernah kuliah di Jakarta tetapi kemudian berhenti karena bosan. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, bersenang-senang di klub malam, kencan dengan wanita penghibur, dan berjudi. Ia tetap tinggal di Jakarta sementara waktu setelah berhenti kuliah. Ia kemudian kembali ke desa dan membuka usaha ternak lebah di kebun belakang. Itu hanya berlangsung sekitar satu tahun hingga akhirnya tewas dalam kecelakaan. Di kala itu, Randuhayu yang juga tengah dihantui keberadaan pembunuh berantai yang belum juga terungkap pelakunya semakin mencekam.
Suasana di rumah keluarga Mbah Lurah menjadi menegangkan. Anjani lebih banyak berdiam diri di kamar sejak kabar tentang Janta ramai dibicarakan orang-orang desa. Ia hanya tidur-tiduran sambil memainkan ponsel. Ia baru saja menerima pesan dari Alin yang menanyakan hasil laporan renovasi pengadaan PAUD dan Program Kejar Paket B yang ditagih Bu Lurah. Anjani sudah selesai mengerjakannya meski bagian pembiayaan masih harus dikoreksi. Namun, ia malas untuk menyelesaikannya sekarang. Ia enggan bila harus berurusan dengan orang-orang di kelurahan. Alin mengirim pesan lagi. Kali ini, ia mengirim undangan untuk acara pertemuan yang membahas realisasi pengadaan PAUD dan Program Kejar Paket B. Kenapa harus sekarang, keluhnya.
Anjani sedang tidak ingin memikirkan soal laporan apalagi acara pertemuan di kelurahan. Ia abaikan bunyi notifikasi yang menandakan ada pesan masuk ke ponselnya. Itu pasti dari Alin lagi, gumamnya. Anjani belum membalas pesan dari Alin. Ia bimbang menjawab datang atau tidak ke acara itu. Ia tidak berani bertemu dengan orang-orang desa. Tanda tanya besar yang hinggap di pikiran orang-orang itu menuntut jawaban dari keluarga Mbah Lurah. Ia tidak sanggup menghadapi mereka. Tapi, ia merasa bosan di kamar terus. Lorong rahasia, ia tiba-tiba terpikir untuk masuk ke lorong memanjang itu lagi.
Anjani beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah lemari kemudian menggesernya pelan-pelan. Ia mengamati tarikan pintu yang terpasang pada sisi pintu yang terhubung dengan lorong. Tarikan pintu yang terpasang ini jelas tarikan pintu model lama yang dipakai pada pintu rumah orang-orang zaman dulu. Ada bentuk serupa lingkaran besar dari bahan kuningan yang dilekatkan di bagian bawah. Tarikan pintu ini sebenarnya dipasang di dua sisi sehingga bisa ditarik dari sisi dalam maupun sisi luar. Anjani menarik tarikan pintu itu. Ruangan serupa lorong memanjang langsung terlihat di depannya. Ia mencari tarikan pada sisi pintu satunya. Ia tidak menemukannya. Ia meraba permukaan pintu itu. Bekas pintu yang pernah dipasang tarikan juga tidak ada. Pintu-pintu yang terhubung dengan ruangan ini pasti sudah diganti.
Pintu yang digunakan di rumah-rumah, entah milik orang kaya atau miskin, umumnya terbuat dari kayu. Hanya saja, pintu-pintu kamar yang terhubung dengan lorong ini pada sisi luar dicat dengan warna persis dengan cat yang digunakan untuk mengecat tembok lorong. Anjani masuk ke dalam lorong hingga ke ujung yang terdapat pintu yang pastinya terhubung dengan studio melukis Gadhing. Ia mengamati pintu itu. Kenapa ada benda berbentuk cincin seperti ini?
Benda itu sepertinya paku ulir. Anjani mengamati permukaan di sekitarnya dengan teliti. Ada beberapa titik kecil yang menunjukkan bekas dibor karena bekasnya pada dinding itu terlihat rapi. Anjani mengerti sekarang. Gadhing sengaja memasang paku ulir agar ia bisa keluar masuk dengan mudah. Masalahnya, ia akan kesulitan keluar dari lorong kalau ia lupa menutup pintu itu atau membuat pintu itu tertutup sendiri. Anjani menduga Gadhing pasti juga sering masuk ke lorong ini. Tapi untuk apa?
“Anjani!”
Bu Rasmi memanggilnya. Anjani buru-buru keluar dari lorong, menutup pintu, dan menggeser lemari pelan-pelan agar tidak timbul suara. Anjani tidak bisa membayangkan kalau Bu Rasmi tahu ia sering masuk ke lorong. Bu Rasmi mungkin saja berpikir ia pasti sedang menyelidiki sesuatu dan dugaan semacam itu akan membahayakan keberadaannya di rumah ini.
---
Hari ini, Bu Rasmi dan Pak Idhang akan pergi ke Semarang menengok saudara Bu Rasmi yang katanya opname di rumah sakit. Mereka bilang mereka mungkin baru akan pulang besok pagi. Bu Rasmi berpesan agar Anjani jaga rumah baik-baik dan tidak perlu masak. Kalau lapar, masak seperlunya saja. Gadhing dan Risna biar menyiapkan makanan mereka sendiri. Setelah mengangkat baju yang sudah kering dari jemuran di belakang, Anjani langsung tidur-tiduran di kamar. Ia harusnya mengerjakan laporan renovasi kelas PAUD agar bisa segera dikumpulkan. Setelah menyalakan laptop, ia tidak tahu kenapa ia mendadak merasa sangat malas. Anjani memandangi layar kosong di depannya. Ia belum menambahkan denah rumah di kebun belakang. Ia harus menggambar dulu.
Layar laptop tiba-tiba meredup kemudian mati sendiri. Anjani masih tidak beranjak dari depan meja. Pikirannya penuh sekali, bukan masalah denah yang belum dikerjakannya. Ia memikirkan nasibnya, hidupnya saat ini yang menurutnya di ujung tanduk. Ia mungkin terlalu berlebihan bila menganggapnya demikian. Hingga hari ini, ia masih baik-baik saja. Tapi, ia harus mulai bersiap untuk melakukan sesuatu agar ia bisa menyelamatkan diri dari situasi yang bisa memburuk kapan saja. Langkah pertama, ia harus mencari kebenaran. Sayangnya, ia tidak tahu kebenaran apa yang ia cari. Selama ini, ia hanya terobsesi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya. Ia mungkin bisa mengulik pernikahannya dengan Gadhing terlebih dahulu.
Anjani sudah mulai mendapatkan petunjuk yang mengarah pada maksud tersembunyi dari pernikahannya dengan Gadhing. Ia tidak menampik kemungkinan kalau pernikahannya dengan Gadhing hanyalah sebuah rekayasa yang dilakukan keluarga Mbah Lurah untuk menutupi kebenaran yang mereka sembunyikan. Kedengarannya memang menyakitkan tetapi ia sudah siap bila ia harus mengakhiri pernikahannya dengan Gadhing. Anjani berusaha mengingat secara acak beberapa petunjuk yang sudah ia dapatkan. Dimulai dari perjodohan yang sudah direncanakan Mbah Lurah. Setelah kematian kedua orang tuanya, Anjani ikut Pakdhe dan Budhe di Semarang dengan biaya hidup ditanggung oleh keluarga Mbah Lurah. Pakdhe dan Budhe bukan orang yang tidak mampu, terlebih mereka juga tidak mempunyai anak. Namun, mereka tidak menolak bantuan dari keluarga Mbah Lurah. Budhe bilang itu dilakukan karena Pak Idhang dan Bu Rasmi ingin menjadikannya menantu.
Awalnya Anjani tidak menaruh curiga pada pernikahannya dengan Gadhing karena berjalan lancar, nyaris tidak ada halangan. Pernikahan itu baru terlihat tidak wajar setelah ia benar-benar menikah dengan Gadhing dan tinggal di rumah keluarga Mbah Lurah di desa. Gadhing selalu bersikap dingin terhadap dirinya. Mereka berdua meski suami istri hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama, tidur pun di kamarnya sendiri-sendiri. Bu Rasmi bahkan terlihat berusaha keras menekan Gadhing agar bisa memperlakukannya selayaknya istrinya. Selanjutnya, Anjani mendengar rencana perjodohan yang sengaja diatur Mbah Lurah untuk menutupi sebuah rahasia keluarga dari percakapan antara Bu Rasmi dan Risna. Sampai detik ini, Anjani mengingat saat itu sebagai sesuatu yang menyadarkannya kalau ada kebenaran yang tampaknya mengerikan di balik semua itu.
Kenyataan yang selama ini tersembunyi dari pandangan orang-orang tentang keluarga Mbah Lurah mulai terkuak. Orang-orang mulai tahu fakta tentang Janta, cucu pertama Mbah Lurah yang ternyata pernah masuk penjara karena membunuh pacarnya. Ditambah lagi, ia ternyata juga memiliki anak di luar nikah yang ia telantarkan. Perilaku Janta yang kejam lantas dikaitkan oleh orang-orang di luar sana dengan latar belakangnya sebagai anak yang ditinggalkan ibunya. Anjani sendiri mendengar dari pengakuan Risna pada Bu Rasmi kalau Janta mungkin saja telah melakukan sesuatu, yang Risna sendiri tidak berani menduganya, pada ayahnya yang selalu bersikap keji terhadapnya. Anjani tiba-tiba teringat sesuatu. Ia ingat lukisan itu, lukisan Gadhing yang menggambarkan anak kecil dengan wajah orang dewasa. Anak kecil tapi bukan anak kecil. Orang dewasa tapi ia terperangkap dalam tubuh anak kecil. Anak kecil itu siapa?
Anjani tidak bisa terus-menerus memikirkan soal tidak jelas seperti ini. Ia menyalakan laptopnya lagi. Ia membuka aplikasi untuk membuat denah sederhana. Rumah di kebun belakang jauh lebih sederhana daripada rumah keluarga Mbah Lurah yang di depan. Ia mulai dengan membuat segi empat lantas membaginya menjadi empat bagian dengan ukuran berbeda. Lalu, ia menambahkan teras di bagian depan, sedangkan dapur, kamar mandi, dan sumur di bagian belakang. Ia memberi keterangan pada tiap kamar sesuai penggunaan awal. Ia memandangi denah yang baru saja ia buat. Ia tertegun ketika memperhatikan posisi bagian dalam rumah itu. Sekilas, tidak ada yang aneh. Ia hanya penasaran dengan dua kamar tidur yang posisinya bersebelahan, depan dan belakang. Ia belum pernah masuk meski pintunya tidak dikunci.
Anjani menyimpan denah yang sudah selesai ia buat pada file gambar. Kemudian, ia meng-copy paste denah itu ke halaman kosong pada laporan. Ia memberi keterangan sesuai kenyataan di lapangan. Selanjutnya, pemanfaatan ruangan-ruangan itu masih menunggu rapat yang undangannya sudah dikirim Alin kemarin. Anjani tersenyum puas dengan hasil kerjanya.
Denah Rumah di Kebun Belakang

---
Siang itu, Anjani mempunyai tugas bersih-bersih kamar kosong di sebelah kamar Risna. Bu Rasmi menyuruhnya membersihkan kamar itu yang katanya bisa untuk ruang kerja bila ia harus mengerjakan pekerjaan bersama teman-temannya yang ikut kegiatan belajar-mengajar. Dulu, ruangan itu dipakai untuk tamu keluarga yang datang menginap di rumah keluarga Mbah Lurah. Tapi, keluarga Mbak Lurah hampir tidak pernah kedatangan tamu lagi. Ruangan itu tidak dipakai dan hanya kadang-kadang dibersihkan. Anjani membawa sapu dan kemoceng. Setelah membersihkan debu di atas perabot di kamar itu, ia lanjut menyapu lantai. Ketika melihat rak berisi buku-buku dan hiasan berupa ukiran kayu, ia berhenti menyapu. Ia jadi penasaran dengan pintu kamar ini yang terhubung dengan lorong. Ia yakin pintu itu pasti ada di belakang rak ini. Ia lantas menggeser rak pelan-pelan. Seperti dugaannya, ia menemukan pintu yang sama dengan pintu yang ada di kamarnya. Pintu ke lorong rahasia, gumamnya.
Anjani menarik tarikan pintu itu hingga pintu terbuka. Ia masuk ke lorong. Ia hampir terjungkal ketika melewati ubin di depan pintu kamar yang lepas karena terdorong ketika pintu dibuka. Ia memegang tepi pintu agar tidak terjatuh. Malangnya, ia justru membuat pintu ruangan itu tertutup. Anjani panik menyadari ia tidak bisa keluar dari lorong. Ia melihat berkeliling. Ia merasa senang bercampur heran. Ada pintu dari salah satu kamar yang terbuka sedikit. Pintu kamar itu pasti terhubung dengan kamar Risna. Anjani berjalan mendekati pintu itu. Di depan pintu, ia melihat ubinnya dilepas dan abu rokok bertebaran di bagian ubin yang dilepas itu. Anjani menduga Risna membuka ubin itu untuk menyembunyikan abu rokok agar tidak ketahuan kalau ia merokok di kamarnya. Anjani melihat ke dalam ruangan. Ia tersenyum senang. Risna sepertinya sedang keluar.
Risna tidak ada di kamar. Ia yakin itu. Ia masuk ke dalam kamar Risna. Kamar Risna gelap dan bau rokok. Ia tampaknya memang baru saja merokok. Ia mungkin keluar mencari udara segar dan membiarkan pintu yang terhubung dengan lorong sedikit terbuka untuk mengusir bau rokok di kamarnya. Ketika ia hendak membuka pintu, Risna tiba-tiba masuk. Ia terkejut melihat Anjani, begitu juga Anjani yang nyaris berteriak.
“Kau kenapa bisa ada di sini?” tanya Risna.
“Aku salah masuk kamar,” jawab Anjani gugup. “Tadi, Ibu memintaku membersihkan kamar sebelah. Katanya, aku boleh menggunakannya untuk ruang kerja.
Risna hanya tertawa.
“Maaf, aku kadang salah masuk kamar di rumah ini.”
“Mau keluar?”
Anjani mengangguk. Risna membukakan pintu kamar. Anjani pun keluar dengan perasaan lega. Ia tidak jadi melanjutkan membersihkan ruangan kosong di samping kamar Risna. Ia masuk ke kamar itu lagi hanya untuk mengembalikan rak ke posisi semula kemudian keluar dengan membawa sapu dan kemoceng. Hari sudah sore. Ia harus membantu Bu Rasmi memasak di dapur. Ketika berbicara dengan Risna tadi, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Risna sepertinya tidak terpengaruh dengan kabar tidak menyenangkan tentang Janta yang kini menjadi sorotan warga desa. Tidak hanya kali ini. Setiap kali bertemu dengannya, Anjani melihatnya selalu kelihatan tenang. Seandainya Janta ternyata seorang pembunuh, itu sungguh kisah yang pilu. Anjani sulit membayangkan perasaan seorang ibu yang telah melahirkan anak manusia berkelakuan iblis ke dunia ini. Namun, Risna memang bukan seorang ibu yang memedulikan hal seperti itu. Anjani tidak melihat bekas kesedihan di wajahnya yang mulus dan seputih pualam itu. Perempuan itu merawat jiwanya sesempurna merawat tubuhnya. Ia mengacuhkan semua situasi buruk yang seharusnya ia hadapi. Ia selalu mengalihkan semua masalahnya pada ayahnya dan sekarang kakaknya, Pak Idhang. Anjani mengakui kalau ia memang perempuan yang luar biasa beruntung.
Kenyataan sebaliknya, Pak Idhang dan Bu Rasmi semakin gelisah. Mereka tampaknya belum menemukan jalan keluar untuk menghentikan kabar soal Janta yang pernah masuk penjara. Kabar yang semakin tersebar luas dan tidak kunjung berhenti pasti membuat Pak Idhang merasa sulit mendekati Bu Nung, begitu juga Bu Rasmi. Masalahnya, rencana mereka mendekati Bu Nung bila sampai diketahui warga akan menimbulkan dugaan yang akan semakin memperburuk situasi. Pak Idhang tampaknya yang paling merasa tertekan. Anjani ikut tegang bila melihat Pak Idhang dan Bu Rasmi mulai bicara serius di ruang tengah seperti sore ini.
“Mereka bisa saja mencurigai Janta sebagai pelaku pembunuhan berantai lima belas tahun yang lalu,” ujar Pak Idhang yang sepertinya mulai kelepasan bicara.
“Bapak ini bicara apa?”
Wajah Pak Idhang merah padam mendengar teguran dari istrinya. Kabar yang menyebutkan Janta pernah dipenjara karena kasus pembunuhan tentu saja mengganggu pikirannya. Kekhawatirannya bila rahasia keluarga yang ia sembunyikan akan terbongkar wajar kalau sampai membuatnya kelepasan bicara seperti tadi. Untungnya, ia mengatakannya di depan Bu Rasmi yang segera mencegahnya karena istrinya itu menyadari ada kebenaran dalam ucapan suaminya. Bu Rasmi seperti halnya suaminya berharap agar polisi dan warga desa tidak akan menduga sampai sejauh itu. Namun, Anjani telah mendengarnya dan ia tidak sekadar curiga. Ia juga merasa ketakutan.
---
Bu Rasmi bicara pada Risna soal Janta yang katanya pernah masuk penjara setelah mereka sarapan. Anjani yang hendak masuk ke kamarnya menghentikan langkahnya. Ia merasa aneh melihat Risna tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau sedih, begitu juga nada suaranya ketika menanggapi Bu Rasmi. Ia tampak biasa saja hingga membuat Bu Rasmi, yang barangkali merasa sudah sangat mengenal adik iparnya itu, heran. Risna memang bukan ibu yang baik tetapi ia tidak seharusnya menanggapi kabar soal Janta dengan sikapnya yang kelewat santai. Anjani yang masih tidak habis pikir dengan sikap Risna masuk ke kamar dan sengaja membiarkan pintunya terbuka sebagian. Suara dua orang perempuan yang seperti sedang bertengkar itu masih terdengar jelas dari kamarnya.
“Ris, kau ini harusnya sedikit peduli jika ada kabar menyangkut anakmu, entah itu kabar baik atau kabar buruk. Jangan terlalu datar begitu!” Bu Rasmi berkata dengan nada jengkel.
“Untuk apa dibahas kalau orangnya saja sudah mati.”
“Tapi Janta itu ‘kan anakmu.”
“Ini semua gara-gara pernikahan itu. Orang tuaku dulu tidak seharusnya memaksakan pernikahan itu, Mbak.”
“Tidak bisa begitu. Laki-laki itu telah menghamilimu.”
“Tapi pada akhirnya berujung bencana ‘kan?”
“Jangan bilang bencana, Risna!”
“Mas Anom itu bukan laki-laki yang baik, Mbak.”
“Lalu kenapa kau berpacaran dengannya?”
“Aku memang pernah suka padanya tapi kemudian aku ingin putus. Aku mengandung anaknya tapi kami tidak melakukannya atas dasar suka sama suka. Mas Anom memaksaku.”
“Memaksamu?”
“Mbak, tahu ‘kan maksudku?”
“Ya, tahu.”
“Aku ingin putus tapi ia tiba-tiba datang dan melakukan perbuatan keji itu.”
“Terus kau hamil?”
“Betul. Aku ingin melakukan aborsi. Aku memberitahu Mas Idhang dan ia justru melarangku melakukannya. Ia mengajakku pulang untuk bicara dengan Bapak dan Ibu. Apa yang ada di pikiran mereka adalah aku harus segera menikah dengan laki-laki yang telah menghamiliku.”
“Aku juga masih ingat betapa marahnya mereka waktu tahu kau hamil di luar nikah.”
“Aku memang hamil di luar nikah, Mbak. Tapi, aku tidak mau hidup dengan laki-laki itu."
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Risna. Masak kau menolak laki-laki yang mau bertanggung jawab karena telah menghamilimu. Ayah mertua ya tentu saja menerimanya ketika laki-laki itu mau bertanggung jawab.”
“Bapak takut itu akan merusak nama baik keluarga kita.”
“Tentu saja. Masyarakat akan memandangmu buruk.”
“Masyarakat yang mengerikan!”
“Apa maksudmu?”
“Mereka tidak bisa membedakan apa itu yang dimaksud dengan bertanggung jawab atas kehamilan dan pemerkosaan yang jelas-jelas kejahatan.”
“Kau melakukannya dengan pacarmu. Bagaimana kau bisa mengatakan pada orang-orang kalau kau melakukannya atas dasar paksaan?”
“Aku tahu, Mbak. Posisiku waktu itu memang sulit.”
“Pernikahan bagi perempuan seperti kita adalah penyerahan diri sepenuhnya pada laki-laki yang kita sebut suami. Setinggi apapun pendidikanmu, kau tak bisa menghindar dari peran ini.”
“Aku tahu soal itu, Mbak. Masalahnya, aku tidak ingin menikah dengan laki-laki itu karena aku tahu aku akan menderita bila hidup bersamanya.”
“Kalau yang kau kejar adalah bahagia, kau tak akan pernah mendapatkannya. Pernikahan itu ujian.”
“Tapi ujian pernikahanku penuh siksaan, Mbak. Mas Anom kalau marah suka memukulku, menjambak rambutku, juga melempariku dengan barang apa saja yang ada di dekatnya. Tidak hanya aku, Janta juga sering mendapat hukuman yang tidak pantas untuk anak seusianya. Mas Anom pernah mengurung Janta di kamar mandi, membenturkannya ke dinding, memukulinya dengan kayu. Jangankan mencegahnya, melihatnya saja aku tak sanggup.”
“Ris, ....“
Bu Rasmi hendak bicara tetapi tertahan. Anjani bisa membaca pikiran Bu Rasmi yang tampaknya mulai menyadari bahwa kekerasan dalam rumah tangga Risna ternyata bukan isapan jempol. Benaknya pasti berkecamuk dengan gambaran kekejaman yang dilakukan seorang suami pada istrinya. Ia memang jauh dari situasi seperti yang dialami Risna. Akan tetapi, seorang perempuan yang menggenggam lebih banyak kebebasan seperti Risna berkubang dalam peliknya kekerasan dalam rumah tangga tentu membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.
“Mbak tahu apa yang dilakukan Mas Anom di malam sebelum ia dinyatakan hilang?”
“Masmu bilang kalian habis bertengkar.”
“Memang. Setelah itu, Mas Anom keluar dan kembali tengah malam. Entah setan apa yang merasukinya. Laki-laki itu tiba-tiba memukuliku tanpa sebab. Aku tak sempat berteriak karena aku kemudian disekap dengan bantal. Aku kehabisan nafas hingga pingsan. Aku ....”
Risna berhenti. Ucapan terakhirnya terputus karena ia mulai menangis.
“Setelah itu, suamimu dinyatakan hilang. Aku tahu kesedihan yang kau rasakan. Waktu itu, Mas Idhang memutuskan kau harus segera pergi dari desa ini. Ia sampai menghubungi temannya di kota untuk mencarikan rumah sakit jiwa yang bisa merawatmu.”
“Akhirnya, aku bebas setelah empat belas tahun yang mengerikan. Aku harus segera meninggalkan desa ini. Selain aku akan menjadi lebih tenang, aku berusaha agar keluarga kita tidak menjadi buah bibir warga desa.”
“Iya, kau mengalami depresi berat. Untung Janta mudah menyesuaikan diri setelah kejadian itu.”
Suara tangis Risna sudah tidak terdengar. Risna sepertinya tidak tahan lagi. Ia pasti merasa jengah dan ingin menutup telinganya rapat-rapat atau berteriak pada kakak iparnya itu untuk berhenti membicarakan Janta. Anjani hanya menunggu hingga ia nantinya mendengar suara pintu kamar dibanting dengan keras atau teriakan histeris. Tapi, itu tidak terjadi. Tidak ada suara pintu yang dibanting dengan keras atau apa pun.
“Aku sendiri tidak sanggup membayangkan bila mental Janta ikut terganggu karena masalah itu,” Bu Rasmi masih membicarakan Janta.
Risna tiba-tiba menangis.
“Mbak, Janta tidak seperti yang Mbak Rasmi pikirkan.”
“Aku tahu sendiri siapa Janta. Aku yang mengasuhnya setelah kau pergi untuk perawatan kondisimu waktu itu.”
“Yang Mbak Rasmi lihat itu bukan yang sebenarnya.”
“Maksudmu ia pura-pura kuat? Anak yang bisa dibilang masih di bawah umur. Waktu itu, usianya empat belas tahun. Ia ....”
Bu Rasmi tidak melanjutkan ucapannya. Risna menangis sejadi-jadinya.
“Mbak, waktu itu aku memang pingsan. Aku kemudian tersadar dan Janta ... anak itu sedang menggali lubang untuk ayahnya.”
“Apa? Lubang?”
Awalnya Anjani tidak yakin Risna menyebut kata ‘lubang’ karena ia mengatakannya di sela isak tangisnya hingga Risna membenarkan pertanyaan ulang Bu Rasmi.
“Mbak, bayangkan sendiri apa yang telah dilakukan anak itu pada ayah kandungnya.”