Para pekerja yang disewa kelurahan menemukan tulang-belulang manusia yang diduga milik Pak Anom di bawah lemari yang diletakkan di tempat yang tidak sewajarnya. Posisi lemari itu menempel pada dinding dengan jendela di belakangnya sehingga terkesan membelakangi jendela. Ruangan yang menjadi lokasi dikuburkannya jasad Pak Anom adalah kamar Pak Anom dan istrinya, Risna. Dulu, perabot yang ada di dekat jendela bukan lemari tetapi meja. Ketika Janta membuka usaha ternak lebah, ia menggunakan ruangan itu untuk menyimpan dokumen pribadi. Dengan begitu, orang yang bisa mengakses ruangan itu hanya dirinya sendiri. Kasus Pak Anom yang semula dinyatakan menghilang kembali dibuka setelah penemuan jasad manusia yang tinggal tulang-belulang di rumah kosong di kebun belakang.
Anjani jadi enggan keluar untuk kegiatan sosial gara-gara kabar buruk tentang keluarga Mbah Lurah yang terus bergulir. Ia merenungkan apa yang dikatakan oleh Bu Rasmi pada Pak Idhang tentang Risna, kata-kata Gadhing yang kasar setiap kali bersitegang dengan ibunya, juga omongan orang-orang desa tentang Janta yang ternyata pelaku pembunuhan berantai. Ia yakin semua itu memiliki benang merah dengan kasus-kasus tak terpecahkan di desa ini. Setelah penemuan yang menggemparkan di rumah kosong itu, kasus menghilangnya Pak Anom sedikit demi sedikit mulai terkuak. Orang-orang mulai menghubungkan kasus itu dengan pembunuhan yang baru saja terjadi dan tentu saja pembunuhan berantai yang pernah terjadi lima belas tahun lalu di desa ini.
Pak Anom ternyata tidak pernah pergi jauh dari desa ini. Malam itu, ia memang keluar rumah dan tidak kembali keesokan harinya hingga dinyatakan hilang. Namun, ada saksi mata yang menyebutkan ia duduk sambil merokok di dekat sungai kemudian baru meninggalkan tempat itu setelah menghabiskan beberapa puntung rokok. Polisi memang menemukan bekas beberapa puntung rokok yang bertebaran di dekat sungai. Sayangnya, mereka tidak menemukan petunjuk ke arah mana ia pergi sesudahnya. Penyelidikan waktu itu juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada keluarga dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah yang ditinggali keluarga Pak Anom, termasuk orang-orang yang kebetulan lewat. Berdasarkan keterangan beberapa saksi mata, tidak ada orang yang datang ke rumah Pak Anom. Hanya Pak Anom yang terlihat keluar masuk lewat pintu depan. Setelah malam itu, tidak ada saksi mata yang melihatnya hingga kejadian itu ditetapkan secara resmi sebagai kasus orang hilang.
Penemuan jasadnya yang kini tinggal tulang-belulang di dalam rumahnya sendiri menjadikan kasus yang semula tentang orang hilang menjadi kasus pembunuhan. Orang-orang desa belum banyak yang tahu tentang keterangan Pak Idhang soal Janta yang ternyata telah membunuh ayahnya sendiri. Jadi, urutan ceritanya mulai dari Pak Anom pulang ke rumah setelah dari sungai kemudian ia mungkin saja mengamuk hingga tak terkendali. Kejadian selanjutnya, Janta mungkin saja berhasil menghabisinya. Itu artinya, Pak Anom adalah korban pertama yang nantinya mengawali perilaku Janta yang lekat dengan kekerasan hingga tega menganiaya pacarnya sampai terbunuh.
Seorang anak telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Risna memang pernah mengatakan soal itu pada Bu Rasmi meski tidak terlalu jelas. Seandainya ia melakukan aborsi, Janta tak akan lahir ke dunia ini. Laki-laki yang menghamilinya tak perlu bertanggung jawab. Ia sendiri juga tidak harus menderita dalam pernikahan yang tidak diinginkannya. Akan tetapi, jalan hidup seseorang memang sulit ditebak. Anjani mengingat sesuatu yang berhubungan dengan noda coklat tua yang sulit dibersihkan pada lantai rumah itu. Jika rumah itu menjadi tempat Janta melakukan pembunuhan terhadap ayah kandungnya sendiri, noda yang sulit terhapus di lantai ruang tamu itu pasti noda darah. Lantai ubin itu dari batu kapur. Noda darah tentu tidak bisa dihilangkan dengan mudah karena telah meresap ke dalam permukaan ubin.
---
Pihak penyidik akhirnya membongkar lantai rumah kosong di kebun belakang. Namun, mereka tidak menemukan mayat atau sisa-sisa tulang manusia lainnya. Mereka memastikan tidak ada yang terlewat dari setiap ruangan di rumah itu. Hingga beberapa hari kemudian, pekerja yang bertugas membersihkan lemari dan rak yang sudah dikeluarkan dari rumah itu menemukan pisau belati yang dilekatkan dengan lakban di bagian dasar lemari di bekas kamar Janta. Polisi menduga pisau belati itu yang digunakan si pembunuh untuk menghabisi korbannya. Ketika polisi meminta keterangan pada Pak Idhang soal pisau belati itu, Pak Idhang menjelaskan kalau pisau itu milik Pak Anom karena Pak Anom sendiri pernah memamerkan pisau belati itu padanya. Pak Anom mendapatkan benda itu dari seorang teman.
Anjani juga mendengar tentang penemuan pisau belati itu. Sayangnya, ia tidak ikut melihatnya langsung pada waktu pisau itu ditemukan. Pisau belati itu telah dibawa dan disimpan di kantor polisi sebagai barang bukti. Hingga suatu hari, Pak Idhang memperlihatkan foto pisau belati itu, yang ia simpan di ponselnya, pada Bu Rasmi, Gadhing, dan Anjani ketika mereka berbincang di ruang tengah setelah makan bersama. Entah kenapa Anjani merasa tidak asing dengan pisau belati itu meski ia hanya melihatnya sekilas. Kalau pisau belati itu menjadi milik Janta setelah ayahnya meninggal, ia harusnya menggunakan pisau itu untuk membunuh. Namun, polisi tidak pernah menemukan bekas tusukan atau goresan pisau pada tubuh perempuan yang menjadi korban pembunuhan berantai waktu itu.
Perempuan-perempuan itu tewas karena cekikan yang diperparah dengan pukulan di bagian belakang kepala. Selanjutnya, mereka didorong ke sungai saat posisinya menghadap ke arah si pembunuh. Jadi, mereka bukan sengaja dibuat dalam posisi terbaring. Perempuan-perempuan yang menjadi korban bukan warga Randuhayu. Mereka berasal dari daerah lain, bahkan ada yang berasal dari luar Jawa. Mereka semua tampaknya mengenal dan memiliki hubungan dengan Janta. Namun, hubungan itu belum jelas apakah sebatas teman, kekasih, atau yang lainnya. Banyak saksi mata yang memergoki Janta bersama perempuan di dalam mobilnya di tempat yang sepi.
Salah seorang warga yang waktu itu pulang dari sawah menjelang maghrib menceritakan kalau ia melihat Janta sedang duduk bersama perempuan berkulit kuning langsat yang memakai atasan lengan panjang merah dan celana panjang hitam di gubuk di tengah sawah. Keesokan harinya, ia dan warga lainnya menemukan tubuh perempuan dengan ciri-ciri yang sama sudah tidak bernyawa di bagian sungai yang dangkal dekat area persawahan itu. Mereka kemudian melaporkan penemuan itu ke kantor polisi. Polisi sendiri datang menemui Janta mengingat ada laporan yang menyebutkan kalau Janta adalah orang terakhir yang bersama perempuan itu. Anehnya, mereka langsung percaya ketika Janta mengatakan kalau mereka bertengkar dan gadis itu pergi meninggalkannya pada hari sebelum kejadian.
Warga yang sangat terpengaruh dengan isu hantu lebah yang tengah marak kala itu membuat dugaan bahwa gadis itu mungkin saja menjadi korban hantu lebah setelah ia meninggalkan Janta. Ia berada di Randuhayu baru beberapa hari. Ia pasti tidak hapal jalan di desa ini sehingga tersesat dan akhirnya bertemu hantu lebah pada malam harinya. Karena ia hanya seorang diri, ia tentu saja menjadi sasaran empuk bagi hantu itu. Setelah bertahun-tahun dan mulai terungkap, warga desa yang menjadi saksi pada waktu itu mulai menyadari perempuan itu benar-benar gadis yang malang. Misteri kematiannya tertutup isu hantu lebah. Sosok hantu lebah sendiri yang pada kenyataannya hanya hantu jadi-jadian mulai menjadi jelas.
Anjani sangat terpengaruh dengan kabar tentang penemuan jasad Pak Anom dan dugaan Janta yang telah membunuhnya. Anjani semakin takut. Ia bahkan jarang keluar dari kamarnya. Untungnya, tak ada yang memedulikannya karena orang-orang di rumah ini juga sibuk dengan masalahnya masing-masing. Malamnya, Anjani bermimpi. Awalnya, ia melihat ibunya kemudian ayahnya dan Mbah Lurah. Orang-orang itu seolah menemuinya satu per satu. Ibunya yang datang menemuinya cukup lama kemudian ayahnya yang hanya menampakkan diri sekilas, berlanjut dengan Mbah Lurah yang memperlihatkan dirinya dalam wujud orang tua yang terlihat sedih. Dalam mimpi itu, Anjani menyadari kalau mereka sudah tiada. Jika mereka datang dalam mimpinya, itu bisa jadi mereka datang untuk memberi pertanda. Mimpi itu tentu saja semakin mendorongnya untuk tahu lebih banyak tentang kasus kematian ayah dan ibunya yang sepertinya ada kaitannya dengan kasus yang melibatkan Janta.
---
Anjani sudah selesai sarapan, begitu juga dengan Gadhing. Bu Rasmi dan Pak Idhang masih berbincang di ruang makan dan belum menghabiskan sarapan mereka. Anjani ragu untuk meninggalkan ruang makan. Namun, Bu Rasmi memberi isyarat pada Anjani untuk meninggalkan mereka berdua. Anjani mengangguk sembari meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.
“Jadi, Bapak sudah menghubungi Risna?”
Bu Rasmi tampaknya berusaha memastikan Pak Idhang akan benar-benar menghubungi Risna. Risna telah meninggalkan Randuhayu sebelum kasus menghilangnya Pak Anom terungkap. Polisi telah meminta keterangan pada Pak Idhang dan Bu Rasmi berkali-kali tentang Risna. Mereka mengatakan pada polisi kalau Risna yang sepengetahuan mereka ada di rumah waktu kejadian menghilangnya Pak Anom tidak bisa dimintai keterangan karena kondisi kejiwaannya sedang tidak baik. Ia dalam keadaan linglung selama berminggu-minggu. Pak Idhang mengaku kalau ia diam-diam membawa adiknya itu ke rumah sakit jiwa di kota dan istrinya tetap di rumah menjaga Gadhing yang masih kecil dan Janta. Sesudahnya, Risna tidak kembali ke desa. Ia memilih pergi dari desa ini dan membiarkan anaknya tinggal bersama keluarganya di desa meski kondisinya sudah membaik. Pak Idhang berjanji akan menghubungi Risna bila polisi membutuhkan keterangan dari Risna.
Pak Idhang mengatakan kalau Pak Anom sering menganiaya Risna dan Janta sehingga polisi hampir berkeyakinan kalau satu-satunya orang yang memiliki motif kuat untuk membunuh Pak Anom adalah Risna. Namun, Pak Idhang bersikeras dengan penjelasannya kalau Risna pada waktu itu pingsan dan ketika siuman kondisinya sangat lemah hingga tak sanggup berdiri. Pak Idhang masih menyimpan bukti medis yang memuat penjelasan bahwa Risna mengalami kondisi trauma akibat kekerasan fisik yang dialaminya. Berkat keterangan Pak Idhang, polisi urung menjadikan Risna sebagai tersangka. Selain itu, polisi juga belum memiliki bukti kuat untuk menjerat Risna sebagai pelaku pembunuhan Pak Anom.
Orang-orang di rumah menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini, tak terkecuali Gadhing. Anjani hanya keluar masuk kamar, memperhatikan situasi di dalam rumah yang sepi. Hari masih pagi. Gadhing mungkin saja sedang mengangin-anginkan lukisannya. Ia iseng membuka pintu yang terhubung dengan lorong. Ia menemukan tiga buah lukisan. Ia mengambil foto ketiga lukisan itu. Ia mengamati salah satu lukisan yang menurutnya menggambarkan objek yang cukup rumit dengan komposisi warna yang tajam. Tapi, ada batu besar di atas tubuh perempuan-perempuan itu yang seolah menghimpitnya. Di kanan kiri sungai, ada pohon-pohon besar dengan akar-akarnya yang menjulur hingga menyentuh air. Akar-akar pohon yang ada di air tampaknya telah menahan tubuh-tubuh itu agar tidak terbawa arus.
Anjani tentu saja merasa tidak asing dengan maksud di balik lukisan itu. Gadhing berusaha menggambarkan perempuan-perempuan yang menjadi korban pembunuhan berantai lima belas tahun lalu. Batu yang menindih tubuh mereka adalah beban yang tidak bisa mereka singkirkan sendiri. Mereka tertahan oleh akar-akar yang menjulur karena begitulah waktu telah membuat mereka terperangkap dalam cengkeraman maut. Sampai sekarang, siapa yang membunuh perempuan-perempuan itu belum diketahui. Matahari mulai menyinari sebagian sisi lorong. Sebentar lagi, Gadhing akan mengambil lukisan itu. Anjani bergegas meninggalkan lorong memanjang, kembali ke kamarnya.
---
Sore itu, Pak Idhang membicarakan sesuatu yang sangat penting di ruang tengah dengan Bu Rasmi. Anjani sengaja menghindar dengan menyibukkan diri di kamar. Ia telah mengemasi barang-barangnya dan bersiap bila harus meninggalkan rumah ini. Gadhing juga tidak menampakkan diri seharian ini. Ia mungkin sudah pergi lagi tanpa sepengetahuannya. Kalau ia masih di rumah ini, ia pasti sengaja menghindar agar tidak terlibat dalam urusan keluarganya atau ia akan memata-matai apa yang dilakukan Anjani. Gadhing kadang menanyakan sesuatu, yang menurut Anjani, seolah ingin memastikan apa saja yang diketahui Anjani, terutama tentang kematian ayah dan ibunya.
“Anjani!”
Bu Rasmi memanggilnya. Anjani bergegas keluar dari kamar. Bu Rasmi tampak berpakaian rapi. Ia pasti akan pergi untuk urusan penting.
“Bapak dan Ibu ada urusan. Nanti, kami pulangnya malam. Mbak Rum masih menyetrika di belakang. Kalau ia sudah selesai, berikan uang ini padanya!”