Gadhing sudah pulang dari Yogyakarta. Dua hari di rumah, ia hanya sibuk melukis di studionya. Ia keluar hanya untuk makan dan mandi. Setelah membuat teh manis untuk acara santai keluarga di sore yang cerah, Anjani membawanya ke beranda. Ia bertemu Gadhing yang sedang duduk di beranda depan.
“Kupikir kau masih melukis. Tadinya, aku mau mengantar minumanmu ke kamar,” Anjani berkata pada Gadhing sembari meletakkan empat cangkir teh manis di meja.
“Capek,” jawab Gadhing pendek.
“Aku barusan dengar suara Ibu. Kenapa ia sudah tidak ada di sini?” tanya Anjani.
“Ia menyusul Ayah ke halaman belakang.”
“Ke halaman belakang?”
“Iya. Nanti, mereka juga balik ke sini. Katanya mau menengok apa begitu.”
“Ya, tidak masalah. Oh, ya! Kau jadi bekerja di perusahaan itu?”
Gadhing menggeleng.
“Kenapa?”
“Belum jelas.”
“Maksudnya?”
“Belum ada pengumuman lebih lanjut.”
“Oh. Baguslah kalau kau nanti diterima. Kau sampai harus bertengkar dengan ibumu gara-gara ingin melamar di perusahaan itu.”
“Ibuku selalu seperti itu. Ia tidak ingin aku meninggalkan rumah ini dan tanggung jawabku sebagai suamimu.”
Anjani tidak menanggapi ucapan Gadhing.
“Kau senang mendengarnya?”
Anjani tetap diam.
“Apa yang kaulakukan waktu aku tidak ada di rumah, istriku? Apa kau mendapat informasi terbaru tentang kematian ayah dan ibumu?” Gadhing mulai lagi dengan pertanyaan yang sengaja ditujukan untuk membuat Anjani jengkel.
“Kenapa kau peduli?”
“Aku harus katakan berapa kali kepadamu kalau orang tuamu meninggal karena kebakaran.”
“Aku tidak yakin orang tuaku meninggal karena kebakaran. Seseorang telah membunuh ibuku. Aku melihat orang itu masuk lewat pintu belakang,”
“Kau yakin kau benar-benar melihatnya?” tanya Gadhing.
Anjani mengangguk.
“Siapa?”
“Seorang laki-laki.”
“Kau yakin ia pembunuh itu?”
Anjani mengangguk.
“Kau melihat dengan jelas? Misalkan, wajahnya?”
“Tidak.”
“Sayang sekali.”
“Aku melihat sosok mencurigakan mengendap-endap di belakang rumah,” Anjani masih berusaha meyakinkan Gadhing.
“Sosok seperti apa?”
“Seseorang yang memakai baju serba hitam.”
“Hantu lebah”
“Ia tidak seperti hantu lebah.”
“Tapi kau percaya hantu lebah itu ada ‘kan?”
Anjani menggeleng.
“Lalu?”
“Menurutku hantu lebah itu bukan hantu tapi manusia yang menyamar.”
“Akhirnya kau melupakan hantu itu.”
“Aku tidak mungkin melupakannya karena aku merasa ada yang janggal dengan isu hantu lebah itu.”
Gadhing mengalihkan pandangannya ke ponsel di tangannya. Anjani merasa gusar. Jika Gadhing sudah sibuk dengan ponsel, ia tak mungkin memaksa Gadhing bicara lagi kecuali Gadhing sendiri yang bicara.
“Baiklah. Aku akan katakan padamu yang sebenarnya,” Gadhing bicara lagi sembari menatap Anjani dengan mimik muka serius.
“Apa?”
“Entah kau mau percaya atau tidak, pembunuh ibumu adalah ayahmu sendiri.”
“Kau mulai bicara asal-asalan.”
“Aku tadi ‘kan sudah bilang, terserah padamu mau percaya atau tidak.”
Gadhing menghabiskan tehnya lalu meninggalkan Anjani tanpa menoleh ke belakang. Sikap Gadhing yang selalu seenaknya seperti itu entah kenapa membuat Anjani merasa dirinya bukan siapa-siapa bagi Gadhing meski usia pernikahan mereka sudah masuk hitungan untuk disebut tahun pertama. Ia tidak mungkin menggantungkan masa depan cintanya pada sosok laki-laki seperti itu. Laki-laki yang menjadi suaminya mana mungkin tega mengatakan ayah istrinya adalah pembunuh. Gadhing mulai mempermainkan pikirannya lagi. Anjani tentu tak akan mudah mempercayai kata-kata Gadhing barusan. Dulu, ada orang yang mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Gadhing tetapi polisi menganggap kemungkinan itu tidak masuk akal. Kali ini, Gadhing jelas mengada-ada.
---
Anjani mulai yakin kalau Gadhing tampaknya memang sengaja mencemari pikirannya dengan berbagai kemungkinan tentang misteri kematian ayah dan ibunya. Ia selalu mendesak apa saja yang masih Anjani ingat dari kejadian lima belas tahun yang lalu. Kemudian, ia menyangsikan apa yang Anjani katakan. Itu sungguh membingungkan. Kini, sedikit demi sedikit telah menjadi jelas bagi Anjani. Gadhing tampaknya ingin memastikan sesuatu tentang apa yang Anjani ketahui soal kematian ayah dan ibunya. Seandainya kenyataannya seperti itu, Gadhing mungkin memang sengaja membuat Anjani berusaha mencari tahu sendiri kebenarannya seperti yang pernah dikatakannya dulu. Tetapi, tujuan Gadhing melakukan hal seperti itu masih belum jelas ia tujukan untuk apa. Bukankah ia seharusnya membantu keluarganya menutupi kenyataan yang sebenarnya terjadi?
Keesokan harinya, Anjani membersihkan studio Gadhing atas permintaan Bu Rasmi. Anjani merasa leluasa membersihkan studio yang selalu kotor penuh debu itu bila Gadhing tidak ada di rumah. Bu Rasmi bilang Gadhing sedang pergi ke toko kayu. Ruangan yang dijadikan Gadhing untuk studio melukis ini cukup luas. Ada matras yang dipakai oleh Gadhing untuk tidur di lantai, meja kerja sederhana di dekat jendela yang dipenuhi buku dan catatan, serta rak besi tiga susun yang digunakan untuk menaruh cat dan kanvas berbagai ukuran. Anjani membersihkan ruangan itu dengan hati-hati agar tidak menyenggol barang yang ada di dekatnya. Di pojok ruangan, ia menemukan sejumlah lukisan. Ia melihat lukisan-lukisan itu satu demi satu. Gadhing mungkin sengaja menyimpannya karena belum sempat memasang pigura untuk lukisan-lukisan itu. Lukisan-lukisan itu sepertinya sudah tersimpan lama.
Debu tebal menempel pada lukisan yang pembungkusnya terkoyak. Anjani meneliti tanggal, bulan, dan tahun pembuatan lukisan di bagian pojok. Lukisan itu memang sudah lama dibuat. Ia menarik lukisan itu dari pembungkus kertas tebal berwarna coklat dengan hati-hati. Ia bersihkan debu-debu yang menempel pada lukisan dengan tangannya lalu ia tiup. Aroma cat yang menyengat tajam langsung tercium. Ia memperhatikan objek dalam lukisan yang ada di depannya saat ini. Entah kenapa objek yang ada di lukisan itu mengingatkannya pada sosok yang muncul dalam mimpinya. Tak salah lagi. Itu memang sosok laki-laki dengan penutup kepala menyerupai topi pelindung peternak lebah yang menggenggam pisau belati dengan noda darah di ujungnya. Ada yang aneh, bisiknya.
Anjani tidak pernah menceritakan mimpinya itu pada orang lain, terlebih pada Gadhing yang selalu bersikap acuh tak acuh padanya. Ia pikir Gadhing mungkin juga pernah melihat sosok dengan penampakan seperti itu. Kalau ia dan Gadhing sama-sama pernah melihatnya, itu berarti sosok yang mereka lihat pasti ada di dunia nyata. Anjani iseng mengambil foto lukisan itu dengan ponselnya. Ia memasukkan kembali lukisan itu ke dalam pembungkusnya, memperbaiki bagian yang terkoyak dengan isolasi yang ia temukan di meja lalu menyimpan lukisan-lukisan itu di antara lukisan-lukisan yang lain yang masih terbungkus rapat. Ia buru-buru menyelesaikan acara bersih-bersih sebelum Gadhing datang.
“Pisau belati itu,” desis Anjani.
Pisau belati itu juga bersimbah darah. Itu adalah pisau belati yang sama seperti dalam mimpinya. Seorang laki-laki yang tidak jelas penampakan mukanya membawa pisau belati itu. Anjani berusaha mengingat foto pisau belati yang pernah diperlihatkan Pak Idhang. Bu Ipah juga pernah mengatakan kalau ia melihat sosok laki-laki jahat membawa pisau belati di tangannya. Kalau potongan-potongan penglihatan yang hanya sekilas itu saling dihubungkan, kejadian-kejadian yang ada dalam mimpi-mimpinya waktu itu bisa saja sesuatu yang pernah terjadi di dunia nyata.
Anjani tinggal merapikan meja yang ditaruh di dekat jendela. Ukuran meja warna natural itu lumayan lebar sehingga bisa memuat buku-buku tebal yang asal ditumpuk. Anjani mengatur buku-buku itu dalam posisi berdiri tetapi buku-buku itu tidak bisa saling menopang satu sama lain. Sebuah buku terjatuh ke lantai. Anjani mengambil buku itu yang ternyata buku sketsa. Di halaman paling depan, ia melihat gambar pintu model lama yang dipasang pada rumah orang-orang kaya zaman dulu. Ia terus membuka halaman demi halaman di buku sketsa yang sepertinya menjadi sumber ide untuk lukisan-lukisan Gadhing.
Anjani merasa tidak asing dengan gambar yang tak lebih dari corat-coret yang dibuat asal-asalan itu. Selain sosok hantu berjubah mirip peternak lebah, ada rumah terbakar, gadis kecil, perempuan bersimbah darah, dan laki-laki yang terbakar. Kemudian, ia membuka halaman berikutnya lagi. Ia melihat gambar sepasang pengantin, di sebelah kanan dan kirinya laki-laki dan perempuan yang memakai baju penuh duri. Lagi, ada anak kecil yang menangis. Ia harus mencari petunjuk yang bisa memberinya kejelasan mengenai makna dari gambar-gambar itu. Ia membuka halaman berikutnya, masih kosong.