Sikap Bu Rasmi terhadap anak laki-laki kesayangannya mulai melunak. Ia akhirnya menerima keputusan Gadhing untuk bekerja di Jakarta. Setelah Gadhing menerima surat panggilan untuk mulai bekerja, Bu Rasmi menyuruh Anjani membantu Gadhing merapikan barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta.
“Kata Ibu, barang-barang yang tidak bisa dibawa besok akan dikirim lewat paket saja,” Anjani berkata pada Gadhing sembari memasukkan pakaian ke dalam koper.
Gadhing hanya diam memperhatikan Anjani.
“Ibu akan mengirim barang-barang itu ke alamat pakdhemu. Untuk sementara barang-barangmu akan aman di sana sampai kau mendapatkan tempat tinggal sendiri.”
“Hem, ee….” Gadhing mengeluarkan suara seperti hendak bicara tetapi tidak jadi.
Anjani berhenti memasukkan pakaian ke dalam koper lalu berbalik menatap ke arah Gadhing.
“Apa? Kau sepertinya ingin mengatakan sesuatu,” kejar Anjani.
“Sayang sekali, aku harus pergi. Aku ‘kan jadi tidak bisa membantumu. Kau harus terus mencari tahu misteri tentang kematian ayah dan ibumu!”
“Apa maksudmu? Tidak usah bersikap dramatis seperti itu!”
“Dramatis? Kematian ayah dan ibumu memang dramatis ‘kan? Aku pernah mengatakan padamu kalau ayahmu yang mungkin saja membunuh ibumu.”
“Ah, itu hanya karanganmu saja.”
“Aku pernah mendengar ada seseorang yang mengatakan hal yang sama meski hal itu diragukan oleh polisi. Kejadiannya memang sudah lama sekali. Hampir semua orang di desa ini membicarakannya. Kau sendiri masih ingat ‘kan?”
“Sudahlah! Itu tidak benar.”
“Bagaimana kalau cerita itu memang benar dan orang itu mengatakan hal seperti itu dianggap salah oleh polisi karena polisi kebetulan tidak yakin saja?”
“Semuanya butuh bukti yang jelas. Berhenti menggangguku dengan dugaan konyol seperti itu!”
“Dengarkan aku!”
Anjani mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Gadhing.
“Mereka bisa saja habis bertengkar kemudian ayahmu menjadi sangat marah dan tidak bisa mengendalikan diri. Ayahmu menusuk ibumu dengan pisau lalu tanpa sengaja menyenggol jerigen berisi minyak tanah. Ia langsung mendapat ide untuk menghilangkan jejak dengan membakar dapur. Api yang mendadak besar ikut membakar tubuhnya,” Gadhing bicara dengan semangat.
“Tidak, itu tidak benar. Ayahku tidak membunuh ibuku.”
“Aku mungkin hanya anak kecil ketika peristiwa tragis itu terjadi. Aku mendengar cerita orang-orang yang simpang siur. Kau sendiri pingsan. Bagaimana kau menceritakan apa yang telah kau lihat?”
“Pokoknya aku tidak mau mendengar kebohongan itu lagi. Aku tahu betul siapa ayahku dan ia tidak mungkin membunuh ibuku.”
“Menurutmu, siapa yang telah membunuh ibumu?”
“Ya, pasti orang itu.”
“Siapa yang kau maksud dengan orang itu?”
“Orang yang diam-diam masuk lewat pintu belakang rumahku.”
“Iya, tapi siapa? Hantu lebah?”
Anjani menatap Gadhing yang tampak menahan tawa seperti mengejek. Anjani menjadi muak. Gadhing baru akan berhenti menjadikannya bulan-bulanan kalau kasus itu benar-benar telah terungkap. Ia tak mungkin bilang kalau pembunuhnya adalah Janta Kecurigaan terhadap Janta belum sampai tertuju pada kasus kematian ayah dan ibunya. Ia juga tidak mungkin bilang kalau ia tahu dari Pak Idhang waktu ia sengaja menguping pembicaraan Pak Idhang dan Bu Rasmi dari lorong.
“Tidak bisa jawab?” usik Gadhing lagi.
Anjani bergegas keluar dari kamar Gadhing. Ia tinggalkan barang-barang yang belum dirapikan begitu saja.
“Hei, kau belum selesai!”
Anjani tak memedulikan Gadhing yang berteriak mengingatkannya kalau pekerjaannya belum selesai. Gadhing akan pergi. Ia juga akan pergi dari hidup Gadhing untuk selamanya. Semua kata-katanya, sikapnya yang dingin, juga ketidakpeduliannya adalah bukti bahwa tidak pernah ada cinta di hati laki-laki itu untuk dirinya. Pernikahan mereka hanya rekayasa.
---
Menjelang maghrib, lampu di beranda telah dinyalakan. Jalan di depan rumah Mbah Lurah tampak lengang. Anjani belum keluar dari kamarnya setelah bosan mendengar pembicaraan yang menegangkan antara Pak Idhang dan Bu Rasmi. Keduanya masih berdiskusi di ruang tengah. Sepulang dari kantor polisi, keduanya terus beradu pendapat dan belum mencapai kata sepakat dalam menyikapi kasus kematian Pak Anom. Pak Idhang bertahan untuk tidak membuka semua rahasia yang mereka sembunyikan rapat-rapat selama ini. Bu Rasmi menginginkan sebaliknya. Pak Idhang meminta Bu Rasmi untuk tidak menyerah pada situasi saat ini. Anjani melihat jam di dinding sudah pukul enam lebih. Ia ragu apa ia harus menyiapkan makanan atau tidak untuk sore ini. Ia pergi ke ruang tengah. Bu Rasmi masih bicara dengan Pak Idhang. Anjani tidak berani mengganggu. Ia berdiri di balik sekat rotan menunggu saat yang tepat untuk keluar.
“Ibu seharusnya memikirkan baik buruknya keputusan yang akan kita ambil.”
“Aku sudah lelah, Pak.”
“Apa Ibu pikir dengan mengatakan yang sebenarnya akan membuat situasinya menjadi lebih baik?”
“Tapi paling tidak aku akan lepas dari rasa takut yang kadang menghantuiku.”
“Rasa takut apa yang Ibu bicarakan?”
“Menjaga rahasia keluarga ini bukan pekerjaan mudah, Pak. Cepat atau lambat mereka akan menemukan titik terang dari kasus-kasus yang melibatkan anggota keluarga kita.”
“Itu memang sudah terjadi, Bu. Tapi setidaknya kita tetap menutup mulut untuk kebenaran yang masih bisa kita sembunyikan.”
“Terserah Bapak saja.”
Bu Rasmi akhirnya mengalah.
“Lalu, aku harus menjawab apa kalau polisi bertanya padaku?”
“Jangan katakan apa pun yang kau tahu. Kalau mereka tanya soal Janta, kau jawab saja kau hanya tahu anak itu pendiam, jarang membicarakan masalahnya dengan orang-orang di rumah. Intinya, kau harus menjaga mulutmu agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Ibu mengerti ‘kan?”
“Iya, Pak.”
“Intinya hanya satu. Kita harus mampu mengendalikan perasaan kita. Jangan sampai terbawa suasana!”
“Setelah semua masalah ini selesai, kita akan pergi yang jauh, ke luar Jawa atau ke luar negeri.”
Anjani bergidik ngeri mendengar percakapan Pak Idhang dan Bu Rasmi. Ia sendiri entah kenapa tiba-tiba merasa kebaikan-kebaikan yang mereka tunjukkan selama ini hanyalah sebuah kemunafikan. Setelah pembunuhan Pak Anom yang ternyata pelakunya adalah Janta, ia menganggap wajar kalau Pak Idhang dan Bu Rasmi merasa terbebani dengan tanggung jawab menjaga rahasia gelap keluarga mereka. Pak Idhang tentu saja berharap bisa menyelamatkan nama baik keluarga apa pun caranya. Namun, mereka tentu saja memilih melarikan diri bila hidup mereka jauh lebih penting. Terkait kasus Pak Anom, warga belum menunjukkan reaksinya. Tapi, mereka pasti marah dan mengecam keluarga ini bila Endra benar terbukti sebagai pelaku pembunuhan berantai lima belas tahun lalu.
---
Pak Idhang berhasil membujuk Bu Rasmi untuk tidak membuka semua informasi yang ingin diketahui polisi tentang Janta. Pak Idhang berpikir mereka bisa mengelabui polisi dengan tidak mengungkapkan hal-hal penting dalam penyelidikan kasus kematian Pak Anom tetapi Pak Idhang salah. Masa lalu Janta sedikit demi sedikit mulai terkuak. Janta telah diduga menjadi pelaku pembunuhan berantai di desa ini lima belas tahun yang lalu. Ia diyakini telah membunuh perempuan-perempuan itu. Sebagian warga yang meributkannya menduga kalau ia melakukannya untuk ritual ilmu hitam dan sebagian lainnya menganggap itu kejahatan yang dilakukan oleh orang yang jiwanya sakit. Terlepas dari dugaan-dugaan itu, kabar yang beredar di seluruh Randuhayu semakin menyudutkan keluarga besar Mbah Lurah.
Anjani merenung di kamarnya sembari memandangi denah rumah Mbah Lurah di layar laptopnya yang perlahan mati sendiri. Misteri siapa pelaku pembunuhan berantai lima belas tahun lalu perlahan mulai terpecahkan. Akan tetapi, terungkapnya kasus pembunuhan berantai itu belum menyentuh kasus kematian ayah dan ibu Anjani. Peristiwa itu terjadi setelah pembunuhan perempuan terakhir yang kemudian disusul kematian Janta sendiri yang tragis. Pertanyaan demi pertanyaan tidak berhenti mengusik pikiran Anjani perihal kematian yang masih misteri itu. Apa yang telah membuat ibu pantas dibunuh? Kenapa pula Ayah juga harus ikut meninggal?
Anjani merasa menemukan adanya kemiripan dari peristiwa yang samar itu dalam mimpi-mimpinya. Tak salah lagi. Mimpi-mimpi itu seolah kembali mengingatkannya pada kejadian tragis lima belas tahun yang lalu. Mimpi itu mungkin trauma masa lalunya yang tertinggal di ingatan bawah sadarnya. Pisau belati yang dilihatnya dalam mimpi itu benar-benar ada dan sudah ditemukan wujud fisiknya. Cerita tentang hantu lebah itu juga bukan bualan orang-orang tetapi kisah kebohongan yang nyata. Setelah reruntuhan bangunan yang dianggap sebagai rumah hantu lebah diratakan dengan tanah, orang-orang menemukan bukti kalau ada orang yang sengaja menyamar menjadi hantu lebah. Gadhing tidak bisa membelokkan pikirannya lagi. Anjani yakin Gadhing pasti tahu lebih banyak hal tentang kasus ini. Selama ini, ia tentu saja bungkam karena kasus ini melibatkan anggota keluarganya.
“Anak kecil menangis?” desis Anjani. “Anak kecil yang menangis dalam buku sketsa itu seperti anak kecil yang menangis dalam lukisan Gadhing dan anak itu bisa saja ... Gadhing. Ya, Gadhing.”
Anjani meraih ponsel yang ia letakkan di sebelah bantal. Ia membuka galeri foto dan mencari foto-foto lukisan Gadhing yang asal ia ambil fotonya. Lukisan itu ternyata ada di galeri foto di ponselnya, juga ada lukisan orang tua menebas kepala raksasa dan mobil terjun ke jurang. Di lukisan itu, anak kecil menangis menyaksikan pemandangan mengerikan seorang kakek tua berambut panjang dan beralis tebal yang sama-sama sudah memutih. Orang tua itu baru saja berhasil menebas kepala raksasa hingga terlepas dari tubuhnya. Kepala raksasa itu seolah terbang tersedot lubang besar penuh asap. Di sebelah kanan bawah, ada gambar mobil terjatuh dari jurang dan terbakar.
“Kalau anak kecil itu Gadhing, kakek tua itu pasti Mbah Lurah. Penampilannya memang mirip seperti itu. Lantas kenapa ia digambarkan telah membunuh raksasa?”
Anjani menarik nafas panjang. Ia menelusuri petunjuk yang bisa ia dapatkan dari lukisan itu.
“Mobil terjatuh dari jurang dan terbakar.”