Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #4

Kisah Kakek Salim

Cahaya matahari semakin lama semakin meninggi, pancaran sinarnya pun semakin lama semakin panas terasa di permukaan kulit. Pagi sudah siap menghilang, berganti siang. Ramai orang berlalulalang semakin berkurang, terpecah ke tujuan mereka masing-masing. Suasana kampung Damai sudah sepi, hanya suara ayam, dan bebek peliharaan warga yang masih terdengar.

Kampung Damai adalah sebuah kampung yang terletak di pinggiran kota Bekasi, sebuah kampung kecil yang mayoritas ditinggali warga keturunan Tionghoa. Hampir seluruh warga kampung Damai pergi bekerja di pagi hari sampai sore hari hingga membuat suasana kampung menjadi sepi di siang hari. Hanya para ibu dan anak-anaknya yang tinggal di rumah pada siang hari.

Tetapi semua itu tidak berlaku untuk Kakek Salim. Di saat seluruh laki-laki di kampung pergi bekerja, ia masih saja tidur di rumah biliknya. Ada sebuah gelas berisi kopi yang sudah habis, dan piring berisi singkong rebus di sampingnya.

Sepertinya Kakek Salim tertidur setelah selesai sarapan. Ia memang selalu begitu. Semenjak kematian istrinya sekitar sepuluh tahun yang lalu, Kakek Salim lebih suka diam di rumah. Mungkin karena umurnya yang sudah menginjak tujuh puluh tahun, sehingga tubuhnya sudah melambat untuk bekerja, juga ditambah status Kakek Salim yang tidak mempunyai keturunan. Tetapi itu tidak membuatnya sedih sama sekali. Baginya bila Tuhan menghendaki seperti itu, maka ia harus menerima. Lagipula, anak-anak sanak saudaranya, dan tetangganya, sudah ia anggap anak sendiri. Kakek Salim memang orang yang ramah dan juga suka anak-anak. Selalu ada senyum tersirat di wajahnya yang sudah tidak lagi muda, dan selalu ada canda yang keluar dari tubuh rentanya.

Selama ini Kakek Salim hidup dari hasil kebunnya, dan juga bayaran sebagai perias jenazah. Karena sebagian besar warga kampung Damai masih menganut kepercayaan asli, mereka masih menjalankan ritual keagamaan turun temurun, seperti merias jenazah yang sudah meninggal.

Pekerjaan Kakek Salim memang tidak biasa, tetapi ia sama sekali tidak takut menjalaninya. Baginya tidak ada yang perlu ditakuti. Mereka yang sudah meninggal tidak akan mengganggu. Mereka sudah punya jalan mereka sendiri, sama seperti mereka yang masih hidup.

Kakek Salim memang menguasai betul cara merias jenazah, karena sudah diajarkan oleh orangtuanya semenjak kecil. Orangtua Kakek Salim adalah pengrajin peti mati, oleh karenanya tidak heran jika Kakek Salim menguasai banyak ritual penguburan ala Tionghoa. Walaupun sekarang Kakek Salim sudah tidak melakukannya lagi, tapi ia tidak keberatan apabila warga kampungnya membutuhkan bantuannya. Untuk pekerjaannya itu, Kakek Salim dibayar seadanya sesuai kemampuan pengguna jasanya. Ia tidak pernah mematok harga untuk jasanya karena niatnya memang membantu. Dia malah bersyukur masih dapat membantu tetangganya.

Pagi itu jam sudah menunjuk angka 11 siang, Kakek Salim masih tertidur di tempat tidur rotannya. Dia terus tertidur hingga suara ketukan di pintu rumahnya membangunkannya. Mata Kakek Salim terbuka seketika. Suara ketukan, dan panggilan jelas terdengar dari luar.

"Asalamualaikum, Kakek Salim," panggil seorang wanita.

Kakek Salim diam sejenak, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

"Asalamualaikum. Kek, kakek ada di rumah?," panggilan itu semakin kencang.

Setelah merasa kesadarannya sudah penuh, Kakek Salim beranjak pelan-pelan menuju pintu depan rumahnya.

"Walaikumsalam. Iya, sebentar." jawabnya. Kakek Salim membuka pintu rumahnya, ternyata Ima yang datang. Ima adalah salah seorang tetangganya.

"Oh kamu mah, ada apa?" tanya Kakek Salim sambil membetulkan kopiahnya.

"Kakek dipanggil sama keluarga Acang. Katanya anak perempuannya, Arini, meninggal."

"Innalilahi Wainna 'ilaihi rojiun. Kapan? Arini yang menikah setahun lalu itu kan?" Kakek Salim terkejut mendengar berita itu.

"Iya, kek. Tadi subuh keluarga Acang dapat telepon dari suami Arini. Katanya Arini meninggal."

"Kok bisa, Arini meninggal kenapa?"

"Gak tau. Katanya suaminya sih sakit. Mending kakek ke sana aja, katanya jenazahnya udah mau sampai."

"Iya Kakek nyusul, kamu duluan aja."

"Ya udah kek. Asalamualaikum"

"Waalaikumsalam."

Ima pergi meninggalkan rumah Kakek Salim. Kakek Salim langsung masuk ke rumahnya. Dia mempersiapkan peralatan meriasnya, karena dia sudah tahu bahwa itu adalah panggilan untuk merias. Ia sudah hafal tradisi di kampungnya. Kakek Salim tidak membuang waktu, saat segala sesuatunya siap, dia bergegas pergi menuju rumah keluarga Acang yang tidak jauh dari rumahnya.

Saat sampai di sana, Kakek Salim bertemu keluarga Acang yang tengah berduka. Suara tangis dan doa memenuhi ruang tamu keluarga Acang. Setelah mengucapkan bela sungkawa, Kakek Salim duduk di ruang tamu. Ia menunggu kedatangan jenazah putri keluarga Acang, peralatannya setia menemaninya.

Lihat selengkapnya