Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #5

The girl next door

Sudah dua hari ini Ivan sulit tidur. Setiap memejamkan matanya, Ivan langsung terjaga lagi. Terlalu banyak pikiran-pikiran berkeliaran di kepala Ivan. Belum lagi rasa sedih di dalam hatinya yang terus saja menguburnya. Ivan seperti dipukul tepat di wajahnya, dan tidak dapat melawan.

Ivan berumur 23 tahun saat kedua orang tuanya bercerai. Sebenarnya ia cukup dewasa untuk menerima keputusan orangtuanya. Ia juga tidak tahu alasannya, tetapi tentu cukup kuat hingga membuat ibunya menggugat cerai ayahnya. Sesuatu yang pasti adalah hal itu menyakitinya, dan adiknya Aulia.

Hari itu Ivan bersama ibu dan adiknya pindah ke rumah neneknya di kota Depok. Ivan dan adiknya lebih memilih ikut ibunya ketimbang ayahnya. Sesungguhnya Ivan cukup lelah hari itu, tetapi ia harus membantu ibunya. Setelah perceraian itu, ia hanya memiliki ibu, dan adiknya. Mereka harta terbesar bagi Ivan.

Ketika mereka datang dengan mobil pikap berisi barang-barang, mereka disambut oleh nenek Ivan. Neneknya sudah lama tinggal sendiri di rumah peninggalan almarhum suaminya yang meninggal sekitar 30 tahun yang lalu. Karena alasan itu juga neneknya meminta dia, ibu, dan adiknya untuk tinggal disana ketimbang mengontrak rumah.

Rumah itu juga tidak terlalu jauh dari universitas di mana Ivan belajar, dan juga sekolah menengah umum tempat Aulia bersekolah. Hari itu mereka sibuk memindahkan, dan mengatur barang. Ivan dan Aulia memang tidak pernah keberatan untuk tinggal bersama nenek mereka. Mereka memang sudah sangat dekat dengan nenek dari ibu mereka semenjak kecil, jadi tidak sulit untuk menyesuaikan diri. Apalagi neneknya sangat baik, dan menyayangi cucu-cucunya.

Keesokan harinya, mereka mulai menjalankan aktivitas masing-masing. Ivan kembali masuk kuliah, adiknya mulai kembali bersekolah. Ibunya kembali bekerja. Ibunda Ivan bekerja di sebuah bank swasta. Semua berjalan baik, walaupun mereka hanya bisa bertemu saat makan malam dan sarapan. Tapi semua berjalan baik, lebih baik dari sebelumnya.

Seperti biasa, setelah makan malam Ivan selalu naik ke kamarnya di lantai atas. Ia menghabiskan malamnya dengan mengerjakan tugas atau hanya sekedar mendengarkan musik. Tapi malam itu Ivan sepertinya sedang sangat bosan, dan tidak mau mengerjakan tugas atau mendengarkan musik. Ia hanya diam di depan jendela kamarnya, memandangi suasana di luar rumah neneknya. Di kamar Ivan terdapat sebuah jendela yang cukup besar. Jendela itu tepat menghadap jalan dan rumah di depan rumahnya.

Rumah di depan jalan itu adalah rumah berlantai dua, dengan dua jendela di lantai atas yang tepat menghadap rumah neneknya. Salah satu jendela menghadap tepat ke jendela di kamar Ivan. Malam itu Ivan memerhatikan rumah itu, dan jalan-jalan yang membelah komplek perumahan rumah neneknya. Udara dingin terus berhembus dari luar, sepertinya malam ini akan turun hujan. Di langit malam itu tidak ada bintang sama sekali, tapi Ivan sangat enggan menutup jendelanya. Lagipula Ivan sangat menikmati udara dingin itu, menikmati setiap usapan dingin di wajahnya.

Saat sedang menikmati udara dingin yang membelai wajahnya, Ivan melihat ada bayangan di tirai jendela tepat di hadapan jendela kamarnya. Cahaya di dalam kamar itu memang tidak terlalu terang, tapi cukup terang untuk memantulkan bayangan. Ivan semakin memerhatikan tirai jendela di seberang, sepertinya jendela itu adalah jendela sebuah kamar juga. Mungkin bayangan itu adalah bayangan pemilik kamar.

Pelan-pelan jendela kamar itu mulai terbuka, sebuah wajah seorang perempuan berumur 20 tahunan muncul dari dalam. Ivan kaget, berusaha untuk tidak terlalu jelas memerhatikan perempuan itu. Rasa penasaran Ivan terlalu kuat, ia tidak memalingkan wajah sama sekali.

Perempuan di jendela seberang tidak menyadari bahwa Ivan memerhatikannya, ia seperti sedang memperbaiki tirai jendelanya. Tidak lama kemudian, akhirnya perempuan itu sadar bahwa ada seorang pria di jendela seberang sedang memerhatikannya. Ia melirik Ivan. Ivan kaget. Ia salah tingkah, dan membuang wajahnya ke arah lain. Berusaha untuk tidak terlihat memerhatikan perempuan itu, tapi Ivan segera melirik jendela itu lagi. Ternyata anak perempuan itu sudah menghilang, Ivan mencari-cari ke sekeliling jendela tapi tetap tidak ada.

Ivan kecewa, ia kembali melirik jendela itu. Ternyata perempuan tersebut muncul lagi, menatap Ivan. Perempuan itu menggerakkan kepalanya ke atas, seakan memberi isyarat mengapa Ivan memerhatikannya. Perempuan itu berambut sebahu, matanya terus memerhatikan Ivan. Ivan kebingungan, malu karena tertangkap memerhatikan perempuan itu. Terjadi kekakuan di antara Ivan dan perempuan itu. Hingga perempuan itu menunduk, seperti sedang melakukan sesuatu. Ivan tidak dapat melihat apa yang sedang ia lakukan, karena keterbatasan jarak pandangnya.

Perempuan itu kemudian mengangkat sebuah kertas besar bertuliskan, "Baru pindah ya?" Ivan buru-buru mencari kertas, dan spidol untuk membalasnya. Ivan mulai menulis di sebuah kertas dan mengangkatnya, "Iya nih. Maaf ya, gak maksud buat ngeliatin."

Perempuan itu membacanya, kemudian membalas, "Gak apa-apa. Itung-itung kenalan sama tetangga baru, nama gue Kiran." Ivan kembali membalasnya dengan semangat, "Gue Ivan. Salam kenal ya."

Mereka terus saja bertukar pesan, hingga akhirnya persediaan kertas Ivan habis. Di kertasnya yang terakhir, Ivan memberikan diri meminta nomor Hp Kiran. Kiran tersenyum sejenak, lalu kemudian mulai menuliskan nomornya, lalu menunjukan kepada Ivan. Ivan mencatat nomor itu di telepon genggamnya, setelah itu Kiran memberi isyarat bahwa ia harus pergi. Ivan mengangguk, memang malam itu sudah cukup larut. Akhirnya tirai jendela Kiran tertutup, dan Ivan pun menutup jendela kamarnya.

Ada perasaan senang dalam diri Ivan, secara tidak sengaja bisa berkenalan dengan Kiran. Malam selanjutnya, Ivan duduk di tepi tempat tidurnya. Ia mengambil telepon genggamnya, ingin menelepon Kiran, tapi belum cukup berani melakukannya. Akhirnya Ivan memberanikan menelepon Kiran. Setelah dua kali nada panggil, akhirnya panggilan dijawab. Ivan mendengar suara seorang perempuan di seberang telepon. Suaranya pelan dan lembut.

"Halo, ini siapa ya?" jawab perempuan di seberang telepon.

"Iya Ivan. Ini nomor Kiran kan?" jawab Ivan gugup.

"Oh iya. Tetangga baru itu ya," Kiran tertawa.

"Kok ketawa? Ada yang lucu?" tanya Ivan.

"Gak kok, Kiran kamu gak berani nelpon."

"Hehehe. Tapi aku ganggu gak?"

Lihat selengkapnya