Namaku Virginia, sekitar 2 tahun yang lalu aku menikah dengan seorang pria yang sudah berpacaran denganku selama lebih dari 3 tahun. Namanya Andro, seniorku saat aku masih kuliah. Pernikahan kami berjalan lancar, kami berdua sangat bahagia.
Setelah menikah, kedua pihak keluarga kami menginginkan kami tinggal di rumah mereka. Karena baru saja menikah, aku dan suami belum mempunyai uang yang cukup untuk membeli rumah. Andro bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang periklanan, sedangkan aku sendiri menjadi koki di sebuah hotel di Jakarta. Setelah menimbang banyak hal, akhirnya kami memutuskan tidak tinggal di rumah orangtua masing-masing. Aku dan suami memutuskan mengontrak sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempatku bekerja.
Kehidupan kami sangat sempurna. Kami menikmati sekali hidup baru ini, hingga beberapa bulan kemudian aku hamil, yang tentunya kabar ini membuat kami dan keluarga besar bahagia. Saat hamil aku sengaja mengurangi porsi bekerja, untung atasan mengerti. Atasan memberiku keringanan, jadi pukul 5 sore aku sudah bisa pulang. Sedangkan suamiku tetap pada jam kerjanya, malahan kadang dia pulang agak larut malam saat banyak pekerjaan. Aku bisa mengerti pekerjaan suami, jadi aku tidak terlalu banyak menuntut. Kami terus berkomunikasi lewat telepon. Andro selalu memeriksa keadaanku beberapa kali sehari melalui telepon.
Satu hal yang baru aku sadari, ternyata apartemen yang kami tempati cukup seram. Aku baru merasakannya saat sedang sendirian di sana, terutama saat suami pulang larut. Entah mengapa kadang aku merasa ada yang mengawasi, entah dari sudut mana. Aku dapat merasakannya, terutama saat hamil. Namun aku tidak menceritakan hal ini kepada suami, karena aku tidak mau menambah beban kerjanya. Dia sudah cukup lelah dengan pekerjaannya. Aku tidak mau membuatnya cemas, jadi aku diam saja.
Namun semakin lama, aku makin merasakan ada sesuatu di gedung apartemen kami, terutama apartemen kami sendiri. Malam itu suami menelpon bahwa dia pulang agak malam, karena harus menyelesaikan beberapa meeting. Dia bilang akan pulang sekitar 12 malam, jadi aku pun menunggunya sambil menonton TV. Saat sedang menonton TV, tiba-tiba aku mendengar ada yang mengetuk jendela balkon apartemen kami. Aku cukup kaget saat itu, apalagi aku hanya sendirian malam itu. Karena baru jam 9 malam, akhirnya aku memberanikan diri untuk memeriksa balkon. Dari jauh kuperhatikan kaca balkon yang ditutupi gorden putih, namun masih agak transparan. Ternyata tidak ada siapa-siapa di balkon. Lagipula setelah dipikir-pikir, tidak mungkin ada seseorang di sana. Pintu balkon terkunci, dan tidak mungkin ada orang yang bisa sampai ke apartemen di lantai 25 ini.
Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di sana, aku berbalik kembali ke ruang tamu. Namun saat berbalik, aku melihat sesosok wanita berjalan melewati kaca pintu balkon. Aku menoleh kembali wanita itu sudah tidak ada, dan tidak ada siapa-siapa di balkon. Aneh, padahal jelas-jelas aku melihat seorang wanita lewat di luar. Untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak, aku pun kembali ke ruang tamu, dan menganggap kejadian itu tidak terjadi. Aku kembali menonton TV.
Pukul 10 malam aku memutuskan untuk memasak sesuatu untuk suami, namun tidak ada bahan makanan di kulkas. Aku pun berencana untuk turun ke lantai dasar, kebetulan ada mini market 24 jam di sana. Aku mengambil jaket, lalu keluar apartemen. Setelah membeli yang dibutuhkan, aku kembali naik ke apartemen. Gedung apartemen yang kutempati saat itu memang masih agak sepi, mungkin sudah dibeli tapi belum ditempati, sehingga baru pukul 10 malam saja sudah seperti tengah malam. Aku hanya bertemu dengan beberapa petugas keamanan di lantai 1. Aku masuk ke dalam lift, lalu menekan angka 25. Lift tertutup, dan mulai bergerak naik.
Karena apartemenku berada di lantai 25, jadi aku cukup lama menghabiskan waktu di lift. Aku hanya berdiri diam di dalam lift, menunggu sampai di lantai 25. Namun aneh, lift itu tiba-tiba berhenti di lantai 15. Mungkin ada orang yang ingin naik lift. Pintu lift perlahan mulai terbuka, jantungku mulai berdebar kencang saat lift mulai terbuka.
Ketika lift terbuka, tidak ada siapa-siapa di depan lift. Hanya ada seorang anak laki-laki berumur 8 tahunan, berdiri di depan lift. Ia mengenakan sebuah kemeja kotak-kotak dan celana panjang jeans. Anak itu terus memerhatikanku, kami sempat adu pandang beberapa saat. Anak itu hanya diam saja, sebuah senyum mengembang di wajah pucatnya.
"Adik mau naik lift?" tanyaku. Tapi anak laki-laki itu tetap diam, dan terus tersenyum melihatku. Senyumnya agak aneh, lama-kelamaan membuatku ketakutan.
"Adik mau naik lift atau tidak?" tanyaku dengan nada agak tinggi. Tapi anak itu tetap diam, wajahnya tidak berubah sama sekali.
Hingga kemudian... aku melihat darah segar mulai mengalir dari sela-sela rambut hitamnya, turun perlahan hingga memenuhi wajahnya. Aku kaget, mundur beberapa langkah. Napas menjadi berat, dahiku berkeringat. Anak laki-laki itu bukan manusia! Aku menekan tombol tutup beberapa kali, tapi pintu belum tertutup. Anak itu terus memerhatikanku, tatapannya tajam dengan darah yang terus mengalir dari kulit kepalanya. Aku semakin keras menekan tombol tutup, berkali-kali!
Hingga akhirnya pintu lift tertutup, dan sosok anak itu menghilang saat pintu lift tertutup. Tubuhku lemas, dan aku hampir terjatuh kebelakang. Aku terus saja memegangi gagang lift agar dapat mempertahankan keseimbangan. Hingga akhirnya lift berhenti di lantai 25, aku berjalan cepat meninggalkan lift menuju apartemen. Saat sampai ke dalam apartemen, aku mengunci rapat pintu apartemen. Aku pun jatuh terduduk.
Malam itu aku melanjutkan niat memasak untuk suami, karena sebentar lagi suami akan pulang. Saat aku sedang memasak, aku mendengar suara pintu balkon kembali diketuk. Aku sempat berhenti memasak untuk memastikan suara itu, ternyata benar ada yang mengetuk pintu balkon dari luar. Aku memutuskan untuk memeriksanya.