Sudah setahun terakhir aku tidak pulang ke rumah, terlalu sibuk hingga melupakan rumah sendiri. Namaku Wildan, tinggal di Tangerang. Sekarang ini aku menetap dan kuliah di kota Malang. Ini tahun keduaku di kota ini.
Semenjak meninggalkan rumah, aku agak jarang berkomunikasi dengan keluarga. Saat libur, aku lebih suka bekerja ketimbang pulang ke rumah. Hubunganku dengan ayah dan kakak kurang baik, salah satu alasan yang membuatku enggan pulang. Namun berbeda dengan ibu, beliau adalah orang yang paling mengerti apa yang aku rasakan, dan selalu menjadi orang terdekat bagiku. Kadang ketika sudah lama tidak pulang, rasa rindu kepada beliau mendorongku untuk pulang. Meski hanya satu dua hari, tapi rasa rindu selalu memanggil.
Ibu adalah segalanya bagiku, dia adalah nyawaku. Beliau selalu ada di setiap masa-masa sulit yang kulalui, dan dia satu-satunya orang yang tulus mengulurkan tangannya untukku. Namun sayang saat ini ibu sakit, menderita gangguan kesehatan akibat virus di otaknya. Virus itu menggerogoti tubuh ibu perlahan-lahan, membuatnya semakin kurus. Daya tahan tubuhnya pun turun drastis, kadang beliau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
Melihat kondisi ibu, aku sangat sedih. Ditambah aku tidak bisa menemaninya, hal yang seharusnya kulakukan. Sebenarnya aku ingin mengambil cuti untuk merawat beliau, namun ibu mencegahku. Dia tidak mau menyusahkanku. Dengan sebuah senyum yang kelihatannya agak dipaksa, ibu melepasku kembali ke Malang saat terakhir kali aku pulang ke rumah. Langkahku terasa sangat berat saat melihat ibu melambaikan tangannya, melepasku pergi. Beliau berdiri di teras rumah, dengan daster melekat di tubuhnya. Waktu itu tubuh ibu sudah mulai kurus, namun beliau masih cukup kuat untuk berdiri dan berjalan.
Tapi itu satu tahun yang lalu. Menurut ayah, kondisi ibu semakin memburuk. Beliau sudah tidak dapat berjalan, setiap hari hanya duduk di atas kursi roda. Saat aku menelpon menanyakan keadaannya, ibu selalu saja berbohong dan mengatakan keadaannya baik-baik saja, menyuruhku agar tidak memaksakan diri untuk pulang. Beliau tahu aku juga bekerja saat libur, demi membayar biaya kuliah.
Itulah ibu, beliau pembohong besar. Anehnya aku selalu percaya, dan menunda kepulangan hingga akhirnya aku mendapat telpon dari kakak yang mengatakan ibu masuk rumah sakit. Keadaannya koma, setidaknya ia sudah koma selama 24 jam. Dokter pun mengatakan mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena virus di kepala ibu sudah sangat ganas. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah menunggu ibu sadar dan menurunkan pengobatannya. Karena dokter tidak dapat melakukan apa-apa apabila ibu belum sadar, jadi mereka juga menunggu.
Ketika mendengar kabar itu aku langsung memesan tiket kereta api, dan malam itu juga aku pulang. Aku sudah tidak bisa memikirkan kuliah dan hanya menitipkan pesan kepada temanku, menjelaskan keadaan ibu dan bahwa aku pulang malam itu juga. Aku naik kereta terakhir. Hati dan pikiranku sudah melayang kemana-mana.
Tengah malam aku sampai di rumah, tapi ternyata di rumah tidak ada siapa-siapa. Ayah dan kakak kemungkinan besar berada di rumah sakit. Aku segera meletakkan barang-barang dan pergi menyusul mereka. Sesampainya di rumah sakit, hatiku remuk seketika. Aku melihat ibu sudah terbaring dengan alat bantu pernapasan di mulutnya, tubuhnya pun sudah sangat kurus. Banyak sekali alat-alat yang terlihat asing buatku, tersusun rapi di dekat ibu. Masing-masing alat terhubung ke tubuh ibu, sedangkan ibu sendiri tidak bergerak sama sekali. Kakak dan ayah berada tepat di samping ibu. Setelah sedikit menanyakan keadaan ibu, mereka pamit untuk pulang. Aku tidak keberatan, karena memang aku ingin menjaga ibu sendirian. Akhirnya ayah dan kakak pulang.
Ruangan tempat ibu dirawat sudah sepi, tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan beliau. Aku duduk di samping ibu, pelan-pelan memerhatikan ibu. Tak terasa air mataku jatuh. Aku tidak bisa membendung kesedihan melihat keadaan beliau. Aku buru-buru menghapus air mata, merasa yakin ibu dapat melihatku. Pelan-pelan kupegang tangan ibu. Tangannya hangat.
"Wildan pulang bu," bisikku.
Tangannya sedikit bergerak, beliau menyadari keberadaanku di sampingnya.
"Wildan akan nemenin ibu. Ibu cepet-cepet sadar ya," ku genggam tangan beliau erat-erat.
Perasaanku bercampur aduk. Wanita paling berarti dalam hidupku kini tengah tidak berdaya. Ingin sekali aku melakukan sesuatu yang dapat membuatnya sadar. Malam itu aku terus berdoa agar ibu kembali sadar dari koma, dan aku dapat melihat senyumnya lagi.