Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #8

Aku mau pulang

"Udah ah bu, aku gak mau ikut. Pokoknya aku mau pulang aja," ucap Vita.

"Bagaimana pun kau, kamu kan harus menuruti keinginan orang tua. Jangan gegabah," tambah ibunda Vita, tidak mau kalah.

"Aku udah coba satu semester bu, tapi memang aku gak tertarik. Pokoknya malam ini aku mau pulang! Aku juga sudah menguruskan surat berhenti."

"Kamu itu gak mau dengar orang tua ya? Baik kalau kamu mau pulang, tapi jangan pulang malam-malam. Pulanglah lusa, atau setidaknya besok pagi," tawar ibunda Vita.

"Aku udah gak betah di sini, pokoknya malam ini juga aku pulang. Titik."

Vita menutup teleponnya. Ia memegangi kepalanya, sikap ibunya memang selalu keras, dan mau menang sendiri. Setahun yang lalu, saat ia baru saja tamat sekolah menengah, ibunya memaksa untuk masuk jurusan arsitek di sebuah universitas di luar kota. Awalnya Vita tidak mau, tapi ibunya mengatakan bahwa ia belum tahu apa-apa kalau belum mencoba. Akhirnya ia menuruti kemauan ibunya, ia pun rela berpisah dengan Rafi kekasihnya. Sebenarnya Vita sangat berat meninggalkan Rafi, dan juga hubungan jarak jauh. Seperti apa mau dikata, ibunda Vita memang keras kepala.

Akhirnya Vita pergi meninggalkan rumahnya untuk merantau. Di kota barunya, Vita tinggal di sebuah kamar kos, tanpa teman mengingat Vita tidak terlalu mengenal sesama penghuni kos tersebut. Akhirnya Vita mulai mengikuti perkuliahannya. Tak lama-kelamaan Vita merasa jauh tertinggal, banyak mata kuliah yang tidak dapat ia kejar. Sepertinya apa yang ia pelajari sangat sulit untuknya, nilainya pun biasa saja. Sesungguhnya Vita ingin mengambil jurusan sastra, jurusan yang dia sukai sama halnya seperti Rafi. Namun orangtuanya tidak setuju dan memaksanya mengambil jurusan arsitek. Setelah menjalani satu semester dan gagal, Vita memberanikan diri untuk memutuskan berhenti dan pulang ke rumahnya. Ibunya tidak menyetujui keputusannya, merasa Rafi membawa pengaruh buruk terhadap anaknya.

Malam itu Vita mengemas seluruh barang dan pakaiannya. Malam ini juga dia akan pulang, itu tekadnya. Dia sudah memesan tiket bus malam, perjalanannya pulang memakan waktu 6 sampai 9 jam. Vita sudah menyiapkan apa yang dibutuhkan. Dia akan tidur selama perjalanan agar saat terbangun esok paginya, dia sudah sampai di rumah. Sepertinya rencana Vita sudah matang.

Pukul 11 malam bus yang membawa Vita berangkat menuju kota yang merupakan tempat tinggalnya.

Sedangkan di rumahnya, ibunda Vita menunggu dengan resah. Dia memang tidak setuju Vita mengambil perjalanan malam, karena cukup berbahaya untuk seorang perempuan. Tapi dia tidak bisa menghentikan Vita, karena dia sudah dewasa. Vita tidak bisa lagi dilarang seenaknya, jadi tidak banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Yang dapat dilakukan sekarang adalah menunggunya di rumah, hingga dia sampai, lalu mulai membicarakan kembali kemauan Vita agar dapat diambil jalan tengah. Sejujurnya ibunda Vita sudah lelah bertengkar dengan Vita. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan anaknya dan mengurangi sedikit sifat keras kepalanya, dan semoga Vita pun akan selalu menjadi anak yang dia sayangi, dan sampai kapan pun akan selalu seperti itu.

Sudah hampir pagi, tapi ibunda Vita tidak juga mendapat kabar dari anaknya. Dia mulai cemas, khawatir terjadi sesuatu terhadap anaknya. Tapi dia tidak mau berpikir macam-macam, dan hanya terus menunggu sampai anaknya sampai. Bahkan karena lelahnya menunggu, ibunda Vita tertidur selama beberapa jam. Hingga ia terbangun pukul 5.30 pagi, tapi Vita belum juga sampai. Ia segera menelepon, tapi telepon genggamnya tidak aktif. Kali ini ibunda Vita sudah benar-benar panik. Dia membangunkan suami dan anaknya yang lain untuk mencari kabar tentang Vita. Hingga pukul 10 pagi, tidak ada kabar dari Vita. Mereka memanggil polisi dan membuat laporan orang hilang. Polisi pun mulai menyelidiki keberadaan Vita.

Pihak bus yang Vita naiki malam itu mengatakan bahwa mereka terakhir melihat Vita saat sedang menepi di tempat pemberhentian bakar. Saat itu Vita terlihat turun untuk buang air kecil. Sejak itu dia tidak terlihat lagi. Bahkan hingga bus melanjutkan perjalanan, Vita tidak terlihat.

Seluruh keluarga Vita mulai takut sesuatu terjadi kepada Vita. Mereka mulai mencari sendiri, mulai menempelkan brosur orang hilang, memasang iklan di radio, TV, hingga surat kabar, tapi semua tidak membuahkan hasil. Mereka terus berdoa, tapi tetap tidak menyerah sama sekali. Hingga akhirnya sudah sebulan berlalu setelah hilangnya Vita, harapan bahwa Vita masih hidup semakin lama semakin kecil. Tapi keluarga masih terus berharap Vita dapat ditemukan, dan masih terus berusaha menemukannya.

Lihat selengkapnya