Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #9

Namanya Irma

Namaku Gemala, seorang siswi sekolah menengah di Jakarta Timur. Tempat tinggalku pun di kawasan Jakarta Timur. Di sini aku akan menceritakan sebuah pengalaman mengerikan yang terjadi di sekolahku.

Ketika itu aku masih kelas 11, kebetulan berasal dari jurusan IPA. Hari itu hari Rabu. Sesuai jadwal pelajaran, Rabu selalu diakhiri oleh mata pelajaran Kimia, sebuah mata pelajaran yang menurutku sangat susah. Hari itu kelas Kimia sedang ujian, jadi aku agak gugup. Aku hanya fokus untuk belajar agar tidak gagal di ujian itu, dan akibatnya aku menyepelekan pelajaran yang lain. Aku juga sangat teledor hari itu, benar-benar tidak mau gagal dalam ujian.

Akhirnya siang itu ujian dimulai. Aku mengerjakannya dengan sebaik mungkin, tetapi konsentrasiku agak terganggu karena waktu itu sekolah sedang direnovasi. Renovasi dilakukan untuk memperbaiki bagian-bagian sekolah yang memang sudah rusak dimakan usia, jadi suara listrik dan ketukan palu sering terdengar, dan itu sangat mengganggu. Aku berusaha untuk tetap fokus dan akhirnya ujian berakhir dengan lancar. Semua pertanyaan kujawab dengan baik, dan aku cukup yakin jawabanku benar. Setidaknya mendekati benar.

Bel sekolah berbunyi 3 kali, tanda jam pelajaran telah usai. Semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing, bergegas keluar secepat mungkin. Mungkin mereka sudah jenuh pelajaran di sekolah. Keadaan sekolah mendadak menjadi ramai, penuh suara teriakan, tawa, dan pembicaraan ringan seperti anak sekolah. Siswa dan siswi berjalan seperti membentuk sebuah aliran, yang perlahan-lahan menuju gerbang sekolah, meninggalkan kebisingan di setiap sudut lorong.

Sedangkan aku sendiri masih membereskan buku-buku di dalam tas. Aku duduk sejenak untuk membiarkan setengah murid sekolah keluar. Aku tidak suka berjalan berdesak-desakan karena kadang kakiku terinjak oleh murid lain. Setelah sekian siswa sudah keluar, aku baru beranjak dari bangku. Aku berjalan dengan tenang dan bebas, tidak terburu-buru, ataupun berhimpitan.

Kelasku berada di lantai 2, jarak antara kelas dan tangga pun tidak jauh. Namun tidak masalah, karena aku menikmati perjalanan yang tenang itu. Aku melalui beberapa bangunan yang sedang mengecat tembok dan memaku kayu-kayu penyangga. Aku juga sempat menoleh ke arah sebuah tangga yang buntu. Sebelum sampai di tangga untuk turun, aku memang harus melewati sebuah tangga yang belum selesai. Murid-murid sekolah menyebutnya tangga buntu, tangga menuju lantai 3 yang tidak pernah ada.

Sekolah memang hanya terdiri dari 2 lantai, namun entah mengapa tangga itu dibangun. Beberapa teman mengatakan bahwa dahulu sekolah ingin membuat lantai 3, dan seluruh pembangunan sudah mencapai 40%. Pondasi-pondasi untuk lantai 3 sudah dibangun, tangga aksesnya pun sudah jadi. Tapi tiba-tiba pembangunan dihentikan begitu saja, pondasi-pondasi itu ditinggalkan begitu saja. Hingga saat ini tidak ada yang tahu alasan berhentinya pembangunan lantai 3, pihak sekolah pun terkesan seperti menutup-nutupi soal ini.

Banyak rumor tentang tangga buntu itu, dan berhentinya pembangunan lantai 3. Tangga buntu itu seperti sebuah legenda urban untuk sekolah ini, dan seluruh murid di sekolah pun sudah tahu. Namun saat ditanyakan kepada satpam atau tukang kebun sekolah, mereka hanya mengatakan itu cuma ulah anak iseng yang menyebarkan cerita-cerita untuk menakuti anak lain.

Tapi tak seorang pun tahu cerita yang sesungguhnya.

Aku pelan-pelan menuruni tangga, sebentar lagi sore. Aku harus sampai di rumah, lagipula perutku sudah mulai berbunyi dan meminta jatah. Aku berpapasan dengan satpam sekolah saat keluar gerbang sekolah, jemputan pun sudah menunggu di luar.

Sesampai di rumah, aku segera mandi dan makan. Karena sangat lelah, ditambah oleh makanan yang baru saja kumakan, aku jadi sangat mengantuk sore itu, hingga tahu-tahu aku jatuh tertidur. Menjelang maghrib ibu membangunkanku, memintaku untuk segera mandi kembali. Walaupun agak malas, aku memaksakan diri untuk bangun dan mandi. Setelah itu aku mengerjakan tugas fisika yang harus dikumpulkan besok, jadi lebih baik tidak buang-buang waktu.

Setelah mandi dan makan malam, aku segera naik ke kamar dan membongkar isi tas, lalu mengerjakan tugas Fisika. Saat aku membongkar isi tas, aku tidak bisa menemukan tugasku, padahal aku yakin tugas sudah dimasukkan di dalam tas setelah ujian Kimia tadi. Namun kenyataannya tidak ada. Aku mencoba untuk mengingatnya. Jika besok tidak dikumpulkan, maka kertas itu sangat penting. Jika besok tidak dikumpulkan, tamat deh riwayatku.

Seketika aku ingat, sebelum ujian Kimia seorang teman meminjam kertas itu untuk dicatat. Saat ia mengembalikannya ke dalam tas, aku tidak memasukkannya ke dalam laci meja. Ketika pulang aku lupa membawanya. Aku mengerjakan dahi lalu melihat jam dinding. Jam dinding menunjukkan tepat jam 8 malam, masih ada waktu untuk mengambilnya. Aku langsung mengganti pakaian dan mengenakan jaket, buru-buru ke kamar.

"Mau ke mana La?" tanya ibu melihatku turun.

"Mala mau ke sekolah, tugas Mala ketinggalan. Besok pagi harus dikumpulin," jawabku.

"Ya udah, Mamah telepon Mang Udin biar anter kamu." Ibu mengambil telepon genggamnya dan menelpon Mang Udin untuk mengantarku. Mang Udin adalah ojek langganan keluarga, dia juga yang mengantar dan menjemputku.

Jam 8 Mang Udin sampai di rumah. Tanpa banyak bicara aku langsung naik ke motornya.

"Tancap Mang," ujarku saat naik motor Mang Udin. Mang Udin menarik gas motornya, dan perlahan-lahan kami meninggalkan rumah.

Karena sudah agak malam, jalanan sudah agak sepi sehingga dalam waktu 15 menit kami sudah sampai. Motor Mang Udin berhenti tepat di depan gerbang sekolah.

"Mang Udin tunggu sini aja ya, saya gak lama kok."

"Baik neng."

Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Gerbang sekolah sangat tinggi, jadi aku agak kesulitan untuk melihat apakah ada orang di dalam atau tidak. Aku mengetuk gerbang sekolah, dan suara ketukan pada gerbang besi itu cukup nyaring terdengar. Beberapa menit kemudian pintu gerbang terbuka, dan muncul satpam sekolah.

Lihat selengkapnya