Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #10

Sarwa

Mobil Gandi baru saja memasuki garasi rumahnya. Sebuah rumah cukup besar yang terletak di jalan utama kompleks perumahan. Walaupun cukup besar, tapi rumah Gandi tidak terlalu terawat. Tanaman-tanaman rambat di tembok halamannya sudah terlalu liar, belum lagi cat rumah yang mulai menua. Rumah Gandi memang hanya ditinggali Gandi, adiknya, dan seorang pekerja rumah tangga bernama Mbok Asmi.

Orangtua Gandi menetap di luar kota karena pekerjaan mereka, dan hanya pulang sebulan sekali. Meskipun demikian mereka tetap berkomunikasi satu sama lain. Adik Gandi juga jarang di rumah, terlalu sibuk dengan kuliahnya. Kalauupun sedang libur, adik Gandi lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mungkin hanya sesekali bertemu Gandi, tapi mereka tetap saling menjaga hubungan.

Pagi itu Gandi baru saja pulang dari liburan bersama teman-temannya. Mbok Asmi membukakan pintu gerbang saat mobil Gandi masuk. Mbok Asmi juga setia menunggu Gandi di depan pintu rumah.

“Baru pulang den?” sapa Mbok Asmi.

“Iya nih mbok, gak kerasa udah sebulan di Anyer. Gita ada di rumah mbok?” tanya Gandi seraya masuk ke rumah.

“Neng Gita pergi sama teman-temannya barusan,” jawab Mbok Asmi mengikuti Gandi dari belakang.

“Oh ya udah. Mbok nanti bangunin saya jam 5 sore ya, saya ada acara,” pesan Gandi.

“Baik den.” Mbok Asmi kembali ke dapur, sedangkan Gandi masuk ke kamarnya. Setelah meletakkan semua barang bawaannya, Gandi tertidur di kamarnya.

Tepat jam 5 sore Mbok Asmi mengetuk pintu kamar Gandi.

“Den, bangun den, sudah jam 5 sore,” teriak Mbok Asmi di luar kamar Gandi. Setelah mengetuk beberapa kali, akhirnya Gandi menjawab. Setelah mendengar jawaban dari Gandi, Mbok Asmi kembali ke dapur.

Pukul 6 sore Gandi keluar dari kamarnya, terlihat sudah rapi dan siap untuk pergi. Mbok Asmi menghampiri Gandi, menanyakan apakah Gandi ingin dibuatkan makan malam terlebih dahulu, tapi Gandi menolak. Dia hanya meminta Mbok Asmi membuatkannya roti bakar. Mbok Asmi segera kembali ke dapur. Tak lama kemudian dia keluar dengan sebuah piring berisi roti bakar yang ditutupi tisu.

Gandi mengambilnya lalu menuju ke mobilnya.

Sebenarnya Gandi tidak lapar, namun Gandi ingin memberikan roti itu kepada Sarwa. Sarwa adalah wanita pengidap gangguan jiwa yang sudah beberapa tahun ini tidur di depan pagar rumahnya, tepat di dekat tempat sampah. Gandi dan Gita tidak pernah keberadaan Sarwa karena Sarwa tidak pernah mengganggu mereka. Mereka juga tidak tega untuk mengusir Sarwa. Tidak ada yang tahu asal-usul Sarwa, dan nama yang sebenarnya. Masyarakat sekitar hanya memanggilnya Sarwa, entah siapa yang memulai. Gandi dan Gita sering memberikan makanan kepada Sarwa. Kadang Sarwa juga membantu mengambil sampah-sampah yang dibuang pengguna jalan di depan rumahnya, lalu memasukkannya ke tempat sampah. Sudah sebulan ini Gandi tidak melihat Sarwa karena liburannya, oleh karena itu dia ingin memberikan Sarwa roti bakar, makanan kesukaannya.

Namun saat mobil Gandi keluar dari pekarangan rumahnya, dia tidak melihat Sarwa. Mungkin Sarwa sedang keliling kompleks seperti biasanya. Akhirnya Gandi memacu mobilnya meninggalkan pagar rumah, berpikir mungkin dia akan memberikan roti itu saat pulang nanti.

Malam itu Gandi menghadiri acara pernikahan temannya. Acara itu berlangsung hingga malam hari. Setelah acara selesai teman-teman Gandi masih mengajaknya untuk sekedar kumpul-kumpul hingga larut malam. Pukul 11 malam Gandi dan teman-temannya mengakhiri acara kumpul-kumpul mereka. Jalanan yang Gandi lalui selama perjalanan pulang sudah cukup sepi, namun dia tetap menemui kemacetan di beberapa titik. Memang seperti itulah kota besar, tidak pernah tidur.

Setelah sekitar 1 jam, akhirnya mobil Gandi sampai di kompleks perumahannya. Jam di mobilnya sudah menunjukkan pukul 00.15. Pelan-pelan mobil Gandi menyusuri jalanan kompleksnya hingga akhirnya mobil Gandi sampai di depan gerbang rumahnya. Gandi sengaja tidak langsung membunyikan klakson agar Mbok Asmi membukakan pintu. Gandi melihat sosok Sarwa sedang duduk bersandar di pagar rumahnya, lalu dia melihat ke arah roti bakar di dasbor mobilnya. Gandi memarkirkan mobilnya sejenak di sisi jalan, lalu keluar dari mobil. Gandi menghampiri Sarwa yang tengah menunduk dan berbicara sendiri.

“Sarwa, ada roti bakar nih. Mau gak?” tawar Gandi.

Namun Sarwa hanya diam dan menunduk. Ia berbicara sesuatu, tapi Gandi tidak dapat mendengarnya.

Lihat selengkapnya