Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #12

Misteri kotak berwarna cokelat

“Semua barang udah masuk semua?” ujar Adit.

“Udah kok, kata bapak cuma ini yang harus kita bawa,” jawab Landi.

Siang itu, Adit dan Landi tengah bersiap-siap sebelum mereka melakukan perjalanan ke rumah orangtua mereka di Tegal. Mereka akan pergi menggunakan mobil Landi. Mereka berdua adalah kawan yang sudah lama bersahabat, yang mendapat tugas untuk membawa sebuah barang titipan orangtua mereka. Mereka akan menempuh 6 sampai 8 jam perjalanan, oleh karena itu mereka mempersiapkan semuanya.

Tetapi kemudian Landi mendapatkan telepon dari kantornya, ternyata siang itu dia harus ke kantornya untuk mengurus beberapa berkas. Mereka berunding, dan akhirnya sepakat untuk berangkat malam hari. Landi pun pergi ke kantornya, hingga pada pukul 5 sore dia baru kembali. Setelah kembali memeriksa barang bawaan, mereka akhirnya memulai perjalanan.

Sepanjang perjalanan mereka banyak membahas tentang pekerjaan masing-masing dan beberapa hal ringan yang sering luput dari perhatian mereka. Tidak jarang mereka saling mengejek ketika membicarakan masa kecil mereka, dan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga. Setelah puas mengobrol hampir 2 jam, Adit memutuskan untuk tidur agar mereka dapat bergantian menyetir. Mereka memang harus bergantian menyetir, mengingat sangat berbahaya menyetir malam hari. Mereka harus tetap fokus setiap saat, karena jika lengah sedikit maka maut adalah hasilnya.

Jam menunjukkan pukul 8 malam, tetapi jalanan yang mereka lalui sudah sepi. Mereka mengambil jalur utara, melewati beberapa kota seperti Indramayu dan Cirebon. Adit baru tidur satu jam, hal itu membuat Landi segan membangunkannya. Mungkin 2 jam lagi, lagipula Landi masih cukup kuat untuk menyetir beberapa jam ke depan. Suasana di dalam mobil sangat sepi, beberapa kali Landi melirik ke belakang melalui kaca spion di depannya. Ia memerhatikan sebuah kotak coklat berukuran besar di kursi belakang, kotak itu digembok. Entah di mana kuncinya, ada sebuah rasa penasaran di dalam diri Landi. Dia bertanya-tanya apakah isi kotak itu, sepertinya sangat berharga hingga ayahnya ingin mereka sendiri yang mengantar. Landi tidak dapat melepaskan tatapannya.

Mereka berdua mengambil kotak itu dari rumah paman mereka. Paman mereka berpesan bahwa kotak itu harus mereka antarkan sendiri sampai ke tangan ayahnya. Sepertinya kotak itu memang berharga, melihat dari ekspresi pamannya saat menyerahkan kotak itu. Mungkin saja kotak itu berisi benda berharga, seperti perhiasan dan emas misalnya, mungkin juga bertumpuk-tumpuk uang, atau surat-surat berharga. Tapi kemudian Landi menyadari bahwa orangtuanya tidak pernah mempunyai perhiasan yang terlalu mahal, ataupun uang, apa lagi surat-surat berharga. Keluarganya bukanlah keluarga kaya, jadi rasanya terlalu berlebihan jika ayahnya mempunyai barang-barang seperti itu. Apapun isinya, pasti sangat penting.

Landi terus saja menatap kotak coklat itu. Tiba-tiba sebuah suara ketukan mengagetkan Landi, suara ketukan yang berasal dari dalam kotak. Ia mendengarnya hingga 3 kali. Landi sedikit kehilangan kendali, tidak pernah mengira akan mendengar suara dari dalam sebuah kotak. Mobil yang dikemudikan Landi sempat oleng sedikit, beruntung dia dapat menyeimbangkan kembali mobilnya. Tangannya jadi agak kaku, mobilnya juga terasa lebih panas dari sebelumnya. Perhatian Landi terhadap kotak itu lebih besar dari sebelumnya, dan sesekali dia menoleh ke arah Adit yang tengah tertidur. Tidak ada yang terjadi setelah itu, semua kembali normal.

Landi mencoba menyalakan radio untuk mencairkan ketegangan, berusaha mencari saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu pop agar bisa membuatnya tenang. Setelah menemukan saluran yang dia rasa cocok, Landi sengaja membesarkan volumenya. Menit berganti menit, Landi perlahan-lahan mulai tenang. Namun sesekali dia masih melirik ke arah kotak itu. Landi memutuskan untuk memusatkan perhatiannya ke jalan di depannya, alasan itu yang saat ini dapat digunakan untuk menutupi apa yang dia rasakan sebenarnya, bahwa dia merasa ada sesuatu di dalam mobilnya.

Suara penyiar radio malam hari memenuhi isi mobil Landi. Adit masih tertidur di sebelahnya, sedangkan Landi terus memerhatikan jalan. Namun kemudian dia merasa ada sesuatu yang aneh, suhu di dalam mobilnya tiba-tiba terasa lebih dingin. Awalnya dia tidak menyadari itu, tapi lama-kelamaan dia mulai merasakan dingin menusuk di seluruh tubuhnya. Landi melirik ke AC mobilnya, mengulurkan tangannya lalu menggeser tombol AC mobilnya hingga ke tulisan “Low”. Ternyata tindakannya tidak menurunkan suhu sama sekali, udara dingin terus terasa di dalam mobilnya. Dia mulai tidak tahan, beberapa kali mencoba mengusap-usap lengannya, lalu mengembalikan tangannya ke setir mobil. Ketika baru saja meletakkan tangan di atas setir mobil, tiba-tiba Landi merasakan sesuatu memegang bahunya dari belakang. Begitu dingin, dan mencengkeram kuat. Untuk beberapa detik Landi dapat merasakan kuku-kuku tajam menusuk di permukaan bahunya. Hal itu membuatnya histeris, lalu membanting setirnya ke kiri. Mobil mereka oleng ke kiri, menghasilkan guncangan yang cukup kuat. Guncangan ini membangunkan Adit. Dia kaget melihat tatapan Landi yang tidak seperti biasa. Tangan Landi gemetaran di atas setir mobilnya.

“Ada apa? Minggir dulu minggir!” perintah Adit.

Landi menepikan mobilnya, mobil itu berhenti di pinggir jalan.

“Kenapa sih, tiba-tiba kamu banting setir. Ada bis nyalip?” tanya Adit, tatapannya tajam.

Untuk beberapa saat Landi hanya diam, hingga akhirnya dia membuka mulutnya.

“Tadi aku denger ada suara orang ngetok kotak itu dari dalam, mas.” Landi terus saja menatap lurus ke depan.

“Mana mungkin! Gak ada siapa-siapa di belakang. Lagian masa sih ada orang ngetok dari dalem kotak sekecil itu. Kamu mimpi ya?”

“Gak mas, aku gak mimpi. Tadinya aku juga gak percaya ama apa yang aku dengar, makanya aku cuekin. Tapi tadi aku ngerasa ada yang megang bahuku. Aku ngerasa banget, bahuku dicengkeram kenceng banget. Ada yang megang bahuku, dan tangannya tajam banget.”

Lihat selengkapnya