Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #13

Teman masa lalu

Namaku Andini, saat ini aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Barat. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan kedua saudara perempuanku. Aku adalah anak bontot. Tidak ubahnya seperti anak perempuan kebanyakan, aku anak yang ceria, tapi terkadang agak tidak pedulian. Aku bisa bermain seharian dengan orang yang kukenal, dan bagiku teman bisa aku temui di mana saja. Kini umurku sudah 20 tahun, dan sekarang statusku adalah seorang mahasiswi semester 3.

 

Saat umurku 5 tahun, orangtua membelikanku banyak mainan. Mereka biasa menumpuknya di sebuah keranjang berwarna merah di sudut kamarku. Sejujurnya aku tidak seceria itu saat kecil. Semenjak umur 5 tahun aku sering merasakan sesuatu di kamarku, hanya aku tidak pernah tahu apa itu. Hal yang kuingat adalah aku tidak merasa sendirian saat bermain di kamar, padahal ibuku sedang di dapur sedangkan kakak perempuanku sekolah.

 

Tidak hanya itu, aku selalu menemukan selimutku sudah tidak menutupi tubuhku saat bangun pagi. Aku ingat sekali bahwa selimut itu menutupi tubuhku saat mau tidur, dan aku bukan tipe anak yang tidak bisa diam saat tidur. Sepertinya ada seseorang yang selalu mengamatiku, memerhatikan apa yang kulakukan. Entah dari mana, tapi aku yakin dia ada di sudut-sudut kamarku. Mungkin saja dia bersembunyi di suatu tempat. Aku seringkali menceritakan apa yang kurasakan, tapi tidak mungkin ibuku percaya dengan cerita seorang anak perempuan berumur 5 tahun. Anak perempuan yang mengeja saja tidak sempurna. Semenjak itu aku berhenti untuk menceritakan apa yang kurasakan dan memilih menyimpannya sendiri.

 

Hal itu membuatku agak malas bermain di rumah. Aku lebih senang bermain di luar, meninggalkan kamarku dan mainan yang tertumpuk di dalamnya. Jika aku kurang beruntung, aku harus bermain di kamar seharian karena ibuku tidak mengizinkanku keluar rumah. Suatu hari ketika aku sedang bermain di kamar sendirian, aku melihat salah satu bonekaku bergerak sendiri. Saat itu aku menjejerkan beberapa boneka, lalu bermain dengan salah satu di antaranya. Tapi saat aku sedang bermain, tiba-tiba salah satu boneka yang kuletakkan di sisi kamarku bergerak. Kepala boneka perempuan berambut emas itu terangkat. Aku diam sejenak untuk memerhatikannya. Setelah itu kepala boneka itu tertunduk kembali, tapi aku masih diam memerhatikannya. Selera bermainku hilang, sekali lagi aku merasakan ada seseorang yang ikut bermain denganku. Aku langsung lari keluar kamar.

 

Sore harinya, ibuku datang ke kamarku untuk membereskan mainan-mainanku. Ia memasukkan seluruh boneka, dan mainanku ke keranjang merah. Setelah makan malam, dan mengerjakan pekerjaan rumahku, ibu menyuruhku untuk tidur. Aku menurut, malam itu aku tidur di kamarku. Tapi ketika aku terbangun di pagi harinya, aku kaget bukan main. Boneka anak perempuan berambut emas itu tergolek di atas tempat tidurku, tepat di sampingku. Aku segera loncat dari tempat tidurku, lalu berlari ke ibuku. Aku memberitahunya, tapi sekali lagi dia tidak percaya. Dia hanya mengatakan bahwa mungkin aku lupa telah memainkannya tadi malam. Aku hanya diam setelah menerima perkataan ibuku. Tapi jauh di dalam hati, aku mencurigai sesuatu di kamarku. Sesuatu yang tidak bisa kulihat, tapi ada di sana. Aku yakin itu.

 

Ketika umurku 13 tahun, pamanku datang dari kampung. Kebetulan dia sedang berlibur di Jakarta, jadi dia menyempatkan diri mengunjungi rumahku. Dia mengobrol lama dengan orangtuaku, sedangkan aku hanya diam di kamarku. Namun beberapa saat kemudian paman mendatangiku, mengatakan bahwa dia melihatku, aku masih mengira aku sudah sebesar ini. Terakhir kali dia melihatku, aku masih berumur 3 tahun. Obrolan kami mengalir, hingga dia mengatakan sesuatu yang membuatku agak takut. Dia mengatakan bahwa ketika umurku 3 tahun, aku seperti memiliki teman imajinasi. Aku bisa duduk dan bermain sendirian, melainkan selalu menoleh ke sudut ruangan sambil tersenyum. Tidak jarang aku tertawa seraya mengangkat mainan, lalu meletakkannya di hadapanku. Seperti ada seseorang di hadapanku, waktu itu orangtuaku menyadari itu. Pamanku juga sempat memperingatkan mereka untuk berhati-hati, tapi mereka tidak begitu percaya. Mereka hanya mengira bahwa itu mungkin normal, karena anak kecil suka berimajinasi.

 

Ketika mengetahui hal itu, aku agak takut. Mungkin memang benar perasaanku selama ini, tapi tetap saja tidak ada yang bisa memercayainya. Setelah pamanku pulang, aku sudah bisa melupakan hal itu. Tapi itu dulu, kini aku sudah dewasa dan bisa melepaskan hal itu. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, begitu juga keluargaku. Kini kakak-kakak perempuanku sudah menikah. Kamarku pun sudah banyak berubah, sudah dikutak ulang. Seluruh mainan masa kecilku sudah diletakkan di gudang, dan tidak ada yang pernah mengeluarkannya dari sana.


Namun belakangan aku merasakan perasaan itu lagi, perasaan yang sudah lama sekali tidak kurasakan. Perasaan seperti diawasi, dan diperhatikan oleh sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Aku memang suka terjaga hingga tengah malam untuk mengerjakan tugas, tapi sekarang aku sering merinding tanpa ada sebab pasti. Aku pun seringkali berhenti mengetik lalu memerhatikan setiap sudut kamarku. Aku memang lebih suka kamarku dalam keadaan gelap saat mengerjakan tugas. Ketika aku memeriksa sudut dekat lemari berada, aku seperti melihat sosok anak perempuan berdiri di antara gelap. Aku kaget, tapi ketika kuperhatikan dengan seksama, sosok itu menghilang. Langsung saja kumatikan komputerku, lalu aku tidur.

 

Keesokan paginya aku dikagetkan dengan boneka anak perempuan berambut emas yang tergolek di atas lemariku.


Bagaimana dia bisa ada di sana? Terakhir kali ayahku memasukkannya ke gudang bertahun-tahun yang lalu. Aku segera memberitahukan ibuku, tapi sekali lagi ia tidak memercayainya.

 

“Mungkin saja papamu lupa memasukkannya ke gudang,” jawab ibuku santai.

 

“Gak mungkin, dede liat sendiri kok papa masukin ke gudang.” Aku terus saja mempertahankan argumenku.

 

“Ya udah, nanti kalo papa pulang dari Solo kita tanya. Siapa yang benar?” tantang ibuku. Memang saat itu ayahku sedang tugas di kota Solo.

 

“Oke, kita liat aja,” jawabku.

 

“Mending kamu bantuin mama, sakit pinggang mama kayaknya tambah parah.”

 

“Ya udah deh.”

 

Akhirnya hari itu aku malah membantu ibuku. Ibuku memang menderita sakit pinggang semenjak melahirkanku, dan kini sakit pinggangnya semakin parah seiring bertambahnya umur. Pernah suatu hari ayahku membawa ibuku ke rumah sakit untuk mengobati sakit pinggangnya, tapi dokter mengatakan bahwa pinggang ibuku baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali. Meskipun begitu, dokter tetap merawat ibuku dan memberikan obat untuk meringankan sakit pinggang ibuku. Tetapi semenjak tahu bahwa obat yang diberikan dokter hanya meringankan sakit pinggangnya, ibuku berhenti untuk periksa ke dokter. Menurutnya semua sama saja, tidak membawa pengaruh apa-apa.

 

Aku tidak berani memindahkan boneka itu, rasanya saja sudah membuatku merinding. Aku hanya mendorongnya agar bergeser hingga ujung lemariku. Dengan itu aku tidak melihatnya saat sedang berada di kamar.

 

Aku pikir semuanya berakhir sampai di sana, tapi aku salah. Kemunculan boneka itu hanya awal dari serangkaian peristiwa yang sudah pernah kualami saat kecil, namun saat ini sepertinya kembali. Malam harinya aku memutuskan untuk tidak mengerjakan tugas hingga larut malam karena aku masih trauma dengan kejadian semalam, lagipula aku harus mengikuti kelas pagi esok harinya. Pukul setengah sepuluh malam aku sudah menarik selimut hingga menutupi tubuhku. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk terlelap, karena memang hari itu aku agak lelah membantu ibuku di rumah seharian. Beberapa menit kemudian aku sudah tertidur pulas.

 

Lihat selengkapnya