Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #14

Semalam di jalan setapak

Namaku Bintang. Peristiwa ini kualami sekitar tahun 2004, saat aku masih kelas 2 SMP. Aku tinggal di sebuah kompleks di daerah Bekasi Barat. Sebenarnya aku baru saja pindah ke kompleks tersebut, dan sebelumnya tinggal di kompleks lain yang jaraknya cukup jauh. Tidak terlalu jauh jika mengendarai kendaraan bermotor, namun cukup jauh bila berjalan kaki.

Sejujurnya aku tidak senang akan kepindahan keluarga kami dari kompleks itu, karena di kompleks itulah aku tumbuh. Terlalu banyak teman-teman dan orang-orang yang kukenal baik untuk ditinggalkan. Namun keluarga sudah memutuskan untuk pindah, dan mau tidak mau aku harus menerima itu. Di tempat tinggal baru aku mengalami kesulitan untuk bergaul, mungkin karena aku orang baru dan masih tidak tahu bagaimana caranya bergabung dengan lingkungan baru. Walaupun sudah tinggal di sana selama 2 bulan, tetap saja aku belum mengenal banyak orang. Hanya beberapa tetangga yang mulai kukenal, itu pun karena kami tinggal bersebelahan. Aku mulai putus asa untuk beradaptasi, dan akhirnya memutuskan untuk kembali bergaul di kompleks lama.

Orangtua awalnya tidak menyetujui karena jaraknya yang cukup jauh, ditambah waktu itu keluarga belum mempunyai kendaraan bermotor, jadi mereka khawatir bila sesuatu terjadi padaku. Namun aku tetap saja bersikeras, aku tidak peduli dengan jarak yang cukup jauh. Aku tetap pergi untuk sekedar kumpul-kumpul bersama teman, meski harus jalan kaki. Untuk sampai di kompleks lama, aku harus melewati perkampungan, karena jika melewati jalan besar, maka jaraknya akan dua kali lipat jauhnya. Aku pun enggan naik kendaraan umum, karena terlalu rumit, dan juga aku tidak punya cukup uang jajan untuk sekedar naik kendaraan umum. Kedua kakiku adalah satu-satunya transportasi yang aku punya, dan aku cukup bersyukur untuk itu. Hal yang paling penting saat itu adalah bisa berkumpul dengan teman-teman setiap hari, dan setiap malam.

Biasanya aku pergi pada sore hari, sekitar pukul 5 sore. Butuh sekitar 45 menit jalan kaki untuk sampai ke kompleks lama, dan biasanya aku baru pulang sekitar pukul 9 sampai 10 malam. Mungkin perjalanan itu cukup menguras tenaga, tapi bukan itu masalah sebenarnya. Yang menjadi masalah adalah medan jalan yang kuharus lewati sepanjang jalan. Aku pastinya memilih jalan yang melewati beberapa kampung untuk sampai ke kompleks lama, karena jalan besar bukanlah pilihan yang baik. Ketika aku memilih jalur melewati kampung, itu artinya aku harus melewati jalan setapak yang dikelilingi kebun kosong. Bahkan beberapa jalan setapak yang minim akan penerangan, dan minim dilewati orang ketika malam.


Aku adalah satu-satunya orang luar di kompleks lama, sedangkan teman-temanku tinggal di sana. Mereka hanya perlu paling lama 10 menit untuk sampai di rumah masing-masing, sedangkan aku butuh sekitar 45 menit tanpa teman. Ya, aku harus berjalan kaki sendirian di malam hari ketika perjalanan pulang ke rumah, dan ini memang cukup berat.

Pada awalnya aku melewati jalan setapak itu tanpa terjadi apa-apa, namun lama kelamaan aku mulai merasakan ada sesuatu yang memerhatikanku di balik rimbun pepohonan di kebun kosong di kedua sisi jalan setapak tersebut. Kebun itu membentang sekitar 300 meter, tanpa ada rumah sama sekali, hanya ada jalan setapak yang membelahnya. Hingga di ujung jalan barulah ada rumah penduduk. Entah apa yang dipikirkan pemilik tanah yang hanya membiarkan begitu saja kebun yang cukup luas itu, dan apa yang ada di pikiran orang yang membuat jalan setapak yang membelah kebun itu. Semua itu tidak penting, yang penting adalah aku memang harus melewati jalan itu setiap hari. Tidak ada pilihan.

Suatu malam, tepat di saat aku sudah melewati jalan itu selama 1 bulan, aku pertama kali mengalami hal yang mengejutkan di jalan setapak tersebut. Saat itu seperti biasa aku baru saja pulang setelah berkumpul dengan teman-teman, jam tangan menunjukkan pukul 10 malam. Setelah melewati beberapa gang sempit, akhirnya aku sampai di muka jalan setapak itu. Jalan itu terlihat panjang membentang di hadapanku, hanya ada sedikit lampu penerangan seadanya yang dibuat oleh warga untuk jalan sekitar 300 meter, membuat jalan itu tampak sangat suram. Aku menarik napas, dan mulai melangkahkan kaki memasuki jalan setapak itu. Pada menit awal tidak ada sesuatu yang janggal, tapi ketika aku mulai memasuki pertengahan jalan, tiba-tiba aku merasa udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sesuatu dalam diriku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, dan itu membuatku merinding. Aku coba untuk terus berjalan, dan terus menatap ke depan. Prinsipku adalah: jangan menoleh ke kanan, kiri atau depan, belakang, tetap melihat ke depan.

Aku terus saja berjalan. Suara gesekan atas kakiku dengan tanah dan daun-daun kering menghasilkan suara berisik yang cukup keras. Aku sudah merasa sangat takut saat itu, napasku sudah mulai tidak teratur. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang, dan terus berjalan. Tugasku adalah terus berjalan sampai di ujung nanti, dan semua akan baik-baik saja. Tetapi kemudian aku mulai merasakan sesuatu yang aneh, telingaku menangkap suara lain selain suara langkah kakiku. Suara itu berasal tepat di belakangku, sebuah suara langkah kaki lain seakan ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Jantungku mulai berdetak cepat, dan aku mulai tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak panik. Bagaimana tidak panik, ada seseorang yang mengikutiku di jalan setapak yang dikelilingi kebun kosong! Suara langkah kaki itu semakin dekat, dan aku mempercepat langkah kaki, berharap bisa cepat sampai di ujung jalan. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata langkah kaki itu juga terdengar lebih cepat, seperti mengejarku. Aku ingin sekali menoleh ke belakang, tapi sepertinya itu bukan ide yang bagus, lagipula itu bertolak belakang dengan prinsipku tadi, jadi aku hanya terus melangkah. Aku terus melihat lurus ke depan. Akhirnya aku sampai di ujung jalan setapak, dan suara itu hilang dengan sendirinya. Aku pun melanjutkan perjalanan, dan akhirnya sampai di rumah dengan selamat. Aku bisa bernapas lega, tapi sekaligus khawatir. Besok aku harus melewati jalan itu lagi.

Keesokan harinya, sepulang sekolah aku terus saja memikirkan hal itu, aku tidak bisa memutuskan untuk pergi atau tidak sore ini. Jika aku pergi, maka aku harus menghadapi sesuatu di jalan setapak itu lagi. Namun jika aku tidak pergi, maka aku akan merasa sangat bosan di rumah. Belum lagi hari ini aku dan teman-teman aku mempunyai sebuah agenda yang sayang untuk dilewatkan. Cukup lama aku memikirkan hal itu, akhirnya aku memutuskan untuk berpikir pendek. Sore ini kuputuskan untuk pergi.

Lihat selengkapnya