Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #15

Tuhan maha besar

Peristiwa ini terjadi Oktober 2012, di sebuah kampung kecil di Jakarta Timur. Terjadi pada Zainal. Zainal adalah seorang ayah dan seorang anak perempuan berumur 7 tahun. Sehari-harinya Zainal bekerja di sebuah pabrik susu kental manis, dan karena pekerjaannya dia sering sekali meninggalkan anak perempuannya yang diasuh oleh keluarganya. Zainal tinggal di sebuah rumah petakan yang disewa kontrak beberapa bulan yang lalu. Lingkungan sekitar rumah kontrakannya cukup ramai, kontrakan yang dia tempati juga terbilang baru, jadi tidak ada hal yang Zainal khawatirkan. Zainal memang jarang pernah berada di rumah. Dia berangkat kerja saat pagi hari, lalu pulang saat sudah agak malam. Hal ini memang harus dilakukan Zainal demi menghidupi anaknya. Jauh di dalam hatinya dia agak berat meninggalkan anak perempuannya itu, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain.

Zainal memiliki sebuah sepeda motor untuk alat transportasinya sehari-hari, dan sepeda motor Zainal terbilang cukup besar. Sepeda motor itu memang agak mahal dibanding sepeda motor standar lainnya. Hal ini bukan semata-mata untuk kesombongan, tetapi memang Zainal membutuhkan sepeda motor ber-CC besar untuk keperluan kerja. Tempat bekerja Zainal memang cukup jauh, apalagi jika ditambah kemacetan yang sering kali melanda kota besar.

Suatu hari Zainal harus pulang agak malam karena ada pekerjaannya yang belum selesai. Sekitar pukul 10 malam Zainal tiba sampai di rumah kontrakannya. Dia disambut anak perempuannya ketika sepeda motor yang dia kendarai memasuki halaman rumah kontrakannya. Ternyata malam itu anak perempuannya belum tidur, sengaja menunggu ayahnya pulang. Anak perempuan Zainal terlihat sangat bahagia melihat ayahnya pulang, karena malam itu Zainal memang sengaja membeli makanan kesukaan anak perempuannya. Mereka pun makan bersama, kemudian anak perempuannya tertidur setelah makan. Zainal memindahkan motornya ke bagian dalam, setelah itu dia menutup korden rumahnya dan bersiap tidur. Malam itu memang Zainal merasa sangat lelah, dia sudah tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Beberapa menit kemudian, Zainal sudah pulas tertidur di tempat tidurnya. Malam semakin bergulir, semakin larut.

Sekitar pukul 12 tengah malam, tiba-tiba muncul suara aneh dari pintu depan rumah kontrakkan Zainal. Suara itu seperti suara gesekan dua buah benda keras. Cukup lama suara itu terdengar tetapi Zainal tidak mendengar suara itu, dia terlalu lelah untuk dapat terjaga. Beberapa menit suara itu terdengar, kemudian pintu depan rumah Zainal terbuka. Muncul tiga orang remaja tanggung dari luar rumah, salah satu dari mereka membawa sebuah linggis berukuran sedang. Ternyata mereka menggunakan linggis untuk menjebol kunci pintu rumah Zainal, dan tidak ada yang mengetahui aksi tiga remaja ini. Mereka pun masuk. Setelah memastikan tidak ada seorang pun penghuni rumah yang terbangun, mereka mulai berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Seorang anak muda yang berdiri paling depan mengisyaratkan temannya yang berada di bagian tengah untuk mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Temannya pun menganggukkan kepala seraya merogoh kantung celananya, kemudian mengeluarkan sebuah kunci T.

Setelah itu anak muda di bagian depan mengisyaratkan temannya untuk mencongkel motor Zainal. Dia pun menurut dan mulai mencongkel lubang kunci motor Zainal. Beberapa menit berlalu, akhirnya kunci motor Zainal pun jebol. Mereka dapat membuka kunci pengaman motor itu. Pemuda yang berdiri paling belakang terus saja memerhatikan keadaan di luar. Setelah memberi tanda bahwa keadaan di luar aman, mereka bertiga mulai mendorong mundur motor Zainal. Zainal juga tidak mendengar suara decitan ban motornya yang didorong keluar. Hanya butuh waktu sekitar satu menit untuk mendorong sepeda motor itu, dan saat sepeda motor itu sudah berada di luar sepenuhnya, salah satu dari mereka menutup kembali pintu rumah Zainal. Salah satu temannya yang lain mendorong sepeda motor Zainal hingga menghadap ke jalan, dan siap untuk dikendarai.

Mereka terlihat sangat senang, aksi mereka berhasil tanpa hambatan yang berarti. Mereka bertiga siap mendorong sepeda motor itu ke jalan, tetapi kemudian pemuda yang berdiri paling belakang merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya.

Secara refleks pemuda itu menoleh. Seketika itu juga dia jatuh lemas. Di hadapannya berdiri sesosok wanita berdiri dengan rambut panjang sepinggang yang acak-acakan. Wajah sosok itu sangat pucat, lingkaran matanya berwarna hitam. Wanita itu mengenakan sebuah daster selutut yang sudah dipenuhi darah, terutama di bagian perut. Wanita itu menatap tajam pemuda itu, dengan bola mata yang keseluruhannya berwarna putih. Tubuh wanita itu juga kotor, dipenuhi tanah liat. Sepertinya wanita itu baru saja dikubur, dan kemudian bangkit lagi. Wanita itu menggeram, dan bau anyir yang sangat kuat tercium. Kedua temannya pun ikut menoleh. Saat melihat apa yang ada di belakang mereka, tubuh mereka pun kaku, dan jantung mereka berdegup kencang. Keringat dingin mengalir dari tubuh keduanya. Mereka lalu berteriak dan lari pontang-panting. Sedangkan salah satu anak muda yang terjatuh lemas tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya tidak kuat untuk berdiri. Dia hanya bisa berteriak saat wanita itu dengan langkah tersok mendekatinya dengan tangan terentang ke depan, seakan ingin mencekiknya hingga mati.

Lihat selengkapnya