Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #16

Warung di tengah hutan

Peristiwa ini terjadi sekitar pertengahan 2006. Saat itu Dani pergi ke rumah neneknya yang berada di Sukabumi. Untuk mengusir rasa bosan, dia mengajak 3 temannya, yaitu Rizal, Toni, dan Awan. Sebenarnya perjalanan Dani ke rumah neneknya cuma sekedar iseng, lagipula dia juga sudah lama tidak mengunjungi rumah neneknya. Karena dia mengajak 3 temannya, Dani mulai menghubungi teman-temannya. Tempat tinggal Rizal, Toni, dan Awan memang agak berjauhan sehingga Dani memutuskan untuk mengumpulkan mereka di rumah Toni, karena rumah Toni lah yang paling dekat. Karena teman-temannya memang sulit diatur, akhirnya baru pukul 5 sore mobil Dani meninggalkan Jakarta. Mereka semua sangat senang dengan perjalanan itu, membuat mereka tidak berhenti berbicara selama perjalanan.

“Nanti mampir dulu ke Puncak ya, kita makan jagung bakar,” ujar Rizal.

“Gila lo, mau sampe jam berapa kita?” Dani menolak ide Rizal.

“Gak apa-apa lah Dan, lagian pake mobil ini. Nyampe tengah malem gak masalah, yang penting sampe. Kapan lagi kita nongkrong rame-rame gini di puncak?” bujuk Toni.

“Iya Dan, mampir dulu lah,” tambah Awan.

Dani berpikir sejenak, akhirnya memutuskan untuk menuruti ajakan ketiga temannya.

“Ya udah, tapi sebentar aja ya. Jangan lama-lama.”

“Siap bos,” balas Rizal.

Saat itu ternyata kondisi jalan cukup macet, mungkin karena mendekati akhir pekan. Akhirnya mereka harus bersabar karena kendaraan harus berjalan pelan, padahal hari sudah cukup gelap.

“Ah gila, masih aja macet. Padahal gue udah gak sabar nih,” keluh Toni.

“Yah namanya juga mau weekend. Tapi tebakan gue sih gak lama, gak terlalu parah macetnya. Masih tersendat doang.” Awan terus memusatkan perhatiannya keluar jendela mobil.

“Lo sih enak bertiga, lah gue nih yang bawa mobil pegel. Mana gak ada yang bisa gantian lagi. Lo pada belajar stir mobil apa?” Dani memandang teman-temannya dengan raut wajah sengit.

“Jangan gitu Dan, gimana gue mau belajar. Wong mobil aja gak punya, lagian itung-itung amal. Ngurangin dosa lo juga kan,” Rizal tertawa.

“Amal dasmu! Mending lo berentiin asongan, beli minum. Gue haus nih.”

Setelah satu jam, akhirnya mereka berhasil melewati Ciawi.

Mereka langsung meluncur menuju Puncak Pass. Hari sudah semakin malam. Setelah mencari tempat yang cukup nyaman, mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat yang cukup ramai penjual makanan di kawasan Puncak Pass. Jagung bakar dan air jahe hangat menemani mereka malam itu. Suasana Puncak di malam hari yang dingin seakan membuat mereka dalam obrolan tanpa ujung, hingga membuat mereka lupa waktu.

Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Dani menaikkan resleting jaketnya, tiba-tiba teringat akan waktu yang sudah berlalu dengan cepat.

“Eh jam berapa nih?” ujar Dani. Rizal mengangkat tangannya, lalu melihat jam tangannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia terkejut saat menyadari bahwa malam itu sudah cukup larut.

“Jam 10 nih, gak kerasa ya,” jawab Rizal.

Dani tidak kalah terkejutnya, langsung terperanjat.

“Mampus, udah pergi sekarang aja yuk. Udah kemaleman banget nih, bisa-bisa nanti nenek gue marah. Dia pasti udah nungguin gue dari tadi.”

Mereka segera bergegas dari warung itu, dan membayar makanan yang mereka pesan. Mobil yang dikendarai Dani mulai meninggalkan warung. Jalan di sekitaran Puncak sudah sangat sepi. Beberapa bagian jalan masih gelap, dan membutuhkan konsentrasi lebih untuk memerhatikan jalan di depan.

Lihat selengkapnya