Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #17

Horor dari Sulawesi Utara

Tahun 2009 Vino tinggal di kota Manado, Sulawesi Utara. Sebelumnya Vino belum pernah berkunjung ke kota itu, tetapi karena beberapa hal Vino harus tinggal di sana selama beberapa tahun. Vino tinggal di desa Sawangan, sebuah desa kecil di sepanjang jalan Airmadidi menuju Tondano. Desa Sawangan dikelilingi oleh hutan dan juga dilewati sebuah sungai. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu mendominasi, dan hanya dihuni beberapa ratus kepala keluarga. Vino tinggal di sebuah rumah kayu yang menggunakan kaca sebagai dindingnya. Rumah itu tidak terlalu besar, dibuat menggunakan materi kayu dan kaca bekas. Agak menyeramkan untuk sebuah rumah yang masih dikelilingi hutan, apalagi ditambah sebuah bukit yang tepat berada di belakang rumah.

Untuk menguranginya, Vino memasang korden putih untuk menutupi dinding kaca. Rumah itu pun terlihat lebih tertutup, dan lebih baik. Rumah kecil itu juga mempunyai dua lantai, di mana lantai dua dibuat menggunakan kayu. Lantai satu digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti makan dan menonton TV, sedangkan lantai dua digunakan untuk tidur, dan memang hanya berisi sebuah kasur kapuk serta sebuah meja hitam yang sudah tidak terpakai. Lantai dua pun tidak kalah seramnya. Ada dua buah dinding kayu yang bolong, salah satunya ditutupi oleh korden bekas sedangkan yang satu lagi dibiarkan terbuka. Lubang di dinding tersebut langsung menghadap ke hutan di belakang rumah, dan letaknya sejajar dengan posisi kepala saat tertidur. Atap rumah terbuat dari asbes yang cukup lebar, sehingga meski hujan sekalipun, air tidak akan masuk melalui dinding kayu yang berlubang.

Pada awalnya Vino agak sedikit takut, tapi kemudian rasa itu hilang. Vino memang bukan tipe orang yang penakut, ia berusaha untuk tetap berpikir positif. Dia melakukan kegiatan sehari-hari, hingga beberapa bulan kemudian keanehan terjadi. Saat itu sudah tengah malam, tapi Vino masih mengetik sebuah laporan di laptopnya. Dia sengaja membiarkan lampu rumah mati karena memang persediaan stop kontak yang terbatas mengharuskan Vino mencabut salah satu kontak, dan Vino memilih mencabut kontak untuk menyalakan lampu agar dia dapat mengisi baterai laptopnya. Lagi pula memang Vino merasa biasa saja, tidak ada pikiran macam-macam di kepalanya.

Malam itu Vino fokus mengetik laporannya, hingga dia tidak sadar malam sudah semakin larut. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana menyelesaikan laporannya, itu yang terpenting. Saat Vino sedang asyik mengetik sambil mendengarkan lagu melalui headset, terdengar suara yang aneh. Dia pun berhenti mengetik.

Vino melepaskan headsetnya, lalu mendengarkan dengan seksama suara yang samar-samar dia dengar. Beberapa detik berlalu, Vino masih fokus mendengarkan, hingga akhirnya dia dapat menangkap suara yang samar-samar itu dengan jelas melalui telinganya. Ternyata itu adalah suara sebuah kursi yang diseret. Suara gesekan antara kaki kursi dengan lantai menghasilkan suara berdecit yang cukup keras, dan suara itu berasal tidak jauh dari rumah yang dia tempati. Aneh, padahal rumah sebelahnya adalah rumah kosong.

Tiba-tiba entah dari mana asalnya, Vino mendengar suara bisikan tepat di telinganya. Vino kaget bukan main. Dia melempar headset yang dia pegang, lalu berdiri. Vino menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Suara bisikan tadi sangat terasa nyata di telinganya. Dia tidak tahu apa yang dibisikkan, tapi dia yakin akan keberadaan suara tersebut. Perasaan Vino mulai tidak enak. Akhirnya ia membereskan laptopnya lalu naik ke lantai dua untuk tidur. Kejadian itu tidak mengganggu Vino, dia masih menganggap itu biasa saja. Mungkin saja dia salah dengar karena sudah mengantuk, dan Vino pun menjalani kegiatan sehari-harinya kembali.

Beberapa minggu kemudian musim hujan mulai datang. Karena rumah yang Vino tempati terletak di daerah hutan lebat, maka hujan turun sering kali sangat deras dan dengan durasi yang lama. Curah hujan yang besar, dan intensitasnya yang tinggi membuat udara di sana semakin dingin, mengharuskan Vino mengenakan baju hangat dan kaus kaki saat tidur. Hujan pun tidak hanya turun pada siang hari, sering juga turun saat tengah malam. Seringkali hujan di tengah malam disertai dengan kilat dan petir yang cukup hebat. Vino sama sekali tidak mengkhawatirkan hujan atau petir itu, toh mereka sama sekali tidak mengganggu Vino. Tapi ada sesuatu lain yang mengganggu Vino.

Malam itu Vino sedang tertidur di lantai dua, hujan juga turun malam itu. Tidur Vino juga sudah tidak tenang, dia gelisah di dalam tidurnya. Sebuah suara petir besar yang berbunyi keras seperti sebuah pohon besar yang tumbang membangunkannya. Vino terperanjat, jantungnya berdetak kencang. Dia memerlukan beberapa menit untuk mengetahui apa yang terjadi. Suara rintikan air hujan di atap rumah terdengar sangat keras, menutupi suara-suara yang lain. Tapi suara keras seperti pohon tumbang itu terdengar jelas, pasti suara itu keras sekali. Vino mencoba melihat ke luar rumah melalui lubang di dinding tersebut, tetapi tidak ada apa-apa kecuali deretan pohon di antara gelap malam. Saat Vino mengeluarkan kepala dari lubang tersebut, tiba-tiba angin dingin menghantam wajahnya. Seketika itu juga bulu kuduk Vino berdiri, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Vino memutuskan untuk kembali tidur.

Beberapa hari kemudian hujan deras turun lagi, dan saat itu tengah malam. Vino seperti biasa tertidur di lantai dua, tidurnya pun semakin gelisah. Beberapa hari belakangan dia bermimpi seperti didatangi sesuatu, tepat di rumah itu. Malam itu Vino kembali terbangun, kali ini mendengar suara langkah kaki di antara derasnya hujan. Suara langkah kaki itu berasal dari luar rumah, seperti ada seseorang yang datang dari dalam hutan menuju ke rumahnya.

Lihat selengkapnya