Peristiwa ini terjadi sekitar pertengahan tahun 1997, ketika kami sekeluarga sedang berlibur ke rumah eyang yang berada di sebuah desa kecil di daerah Kuningan, Jawa Barat. Kakak perempuanku yang mengalaminya, sebut saja namanya Mbak Lia.
Waktu itu Mbak Lia masih kelas dua SMA di sebuah sekolah negeri yang tidak jauh dari rumah. Mbak Lia seorang gadis yang tidak terlalu suka dengan suasana yang ramai, ataupun orang yang terlalu banyak bicara, padahal dia cukup ceria, bukan tipe-tipe orang pendiam. Tetapi dia akan tiba-tiba langsung menjadi pendiam saat bertemu dengan orang yang banyak bicara, dan dia benci itu. Secara keseluruhan Mbak Lia adalah pribadi yang cukup ramah dan menyenangkan. Sepulang sekolah biasanya Mbak Lia langsung mengunci diri di kamar.
Suatu malam, saat kami berkumpul untuk makan malam, orangtua mengatakan bahwa kami sekeluarga akan pergi ke kampung halaman ayah karena salah seorang saudara ayah akan menikah. Awalnya kami bertanya-tanya mengapa pernikahannya diadakan di desa, ternyata saudara ayah ingin eyang ikut menyaksikannya, mengingat eyang yang sudah tua, jadi tidak mungkin beliau datang ke Jakarta. Mau tidak mau pestanya yang dipindahkan, toh tidak ada masalah dari pihak istrinya. Orangtua mengatakan bahwa kami kemungkinan besar akan menginap beberapa hari di sana, mengingat perjalanan yang cukup jauh. Mbak Lia protes, dia bingung bagaimana sekolahnya. Hari itu memang bukan musim liburan. Ayah mengatakan akan mengirim surat ke sekolah, meminta izin agar Mbak Lia tidak masuk untuk beberapa hari. Mbak Lia ingin melanjutkan protesnya, tetapi kemudian dia berpikir kembali.
“Ya udahlah, anggap saja liburan dadakan,” pikirnya.
Keesokan paginya kami sekeluarga sudah bersiap-siap. Ayah memasukkan semua barang juga tas berisi baju ke dalam mobil. Sekitar pukul 8 pagi kami berangkat. Seluruh keluarga merasa senang akan perjalanan ini, begitu juga aku dan Mbak Lia.
Untuk mencapai Kuningan Jawa Barat membutuhkan waktu lebih dari 6 jam, membuat semua orang di dalam mobil agak bosan. Pada awal perjalanan kami mengobrol, bercerita, dan bercanda-canda demi mengisi waktu. Namun itu hanya bertahan pada 2 jam pertama, dan saat menginjak jam ketiga, kami semua diam. Ayah dan ibu yang duduk di bagian depan hanya diam sambil memandang jalanan di depan mereka. Aku dan Mbak Lia yang duduk di belakang pun saling diam. Mbak Lia tertidur, sedangkan aku terus sibuk membaca buku yang sengaja kubawa untuk mengusir rasa bosan.
“Nanti di sana kamu harus terbiasa,” ujar ibu seraya melirikku.
“Loh, memang kenapa bu?” aku bingung.
“Disana kan masih desa. Gak ada air putih, dan mandinya gak pake air keran,” ujar ibu menjelaskan. Ayah hanya melirik beberapa kali sambil tersenyum.
“Emang di sana minum apa bu?” aku menambahkan.
“Di sana minum teh tawar, dan gak ada minuman dingin,” ibu melanjutkan.
“Emang enak bu air teh tawar?” Aku membayangkan rasa teh tawar, sepertinya tidak enak.
Ibu tertawa, “Gak ada bedanya sama air putih, tapi mungkin lebih sepat aja.”
“Oh gitu.” Aku melirik ke arah Mbak Lia yang tertidur, yang sepertinya akan menemukan banyak masalah dengan kondisi tersebut. Dia memang tidak terbiasa dengan cara hidup orang desa, karena sudah terlalu lama hidup di kota besar.
Setelah kurang lebih 6 jam mengendara, akhirnya mobil kami sampai di kota Cirebon. Kami sempat mampir untuk makan dan membeli makanan kecil untuk persediaan di dalam mobil. Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan. Setahuku jika sudah sampai di Cirebon berarti beberapa jam lagi sampai, mungkin 2 atau 3 jam. Tapi perkiraanku salah, untuk sampai di rumah eyang membutuhkan waktu 4 jam dari Cirebon, itu pun setelah melewati hutan dan jalan-jalan yang cukup terjal dengan jurang di sisi kanan dan kiri. Aku kagum dengan kemampuan menyetir ayah yang dapat menaklukkan medan yang sangat sulit. Ternyata untuk sampai ke desa itu tidak semudah yang kami bayangkan. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sejenak karena ayah melihat seekor ayam hutan, dan dia berniat untuk menangkapnya. Saat berhenti, aku sempat memperhatikan kondisi sekitar. Ternyata kami melewati hutan yang memang benar-benar belum terjamah manusia. Jalan yang kami lalui pun masih jarang dilalui orang, mengingat jalanan itu tidak begitu terlihat jelas, agak samar-samar. Waktu itu sudah mulai gelap, dan satu lagi yang kusadari, hutan itu cukup menakutkan.
Ibu menyuruh ayah untuk melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin sore. Akhirnya kami sampai, tepat pukul 6 sore. Rumah eyang berada di dataran tinggi, jadi kami harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu untuk sampai ke sana. Memang di desa itu semua rumah berdiri di atas tanah yang tidak rata, dan berbukit-bukit. Begitu sampai kami langsung beristirahat. Perjalanan yang panjang memang menguras tenaga kami. Orangtua menempati kamar yang berada di belakang, sedangkan aku dan Mbak Lia tidur di kamar depan. Malam itu kami memutuskan untuk tidak mandi, karena hari sudah gelap. Kamar mandi rumah itu memang tidak menyatu, letaknya beberapa meter dari rumah. Lagi-lagi harus menaiki anak tangga untuk sampai ke kamar mandi. Setelah makan malam, kami langsung tidur. Udara di sana begitu dingin. Untung aku membawa beberapa baju hangat dan selimut. Malam itu aku langsung terlelap.
Keesokan harinya aku dibangunkan pagi-pagi sekali. Acara pernikahan diadakan sebentar lagi. Aku langsung bersiap-siap untuk mandi sedangkan Mbak Lia masih tidur. Aku akan membangunkan Mbak Lia setelah mandi. Letak kamar mandinya agak jauh dari rumah utama, kondisinya pun hanya berupa bangunan tua dengan tembok bata merah yang sudah keropos. Aku masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi itu tidak menggunakan ledeng. Sumber air di kamar mandi itu dialirkan dari sungai yang berada di atas rumah, dialirkan melalui pipa dan selang. Hal itu mengakibatkan air terus saja mengalir jika tidak ditutup, dan kondisi air pun agak keruh. Aku pun berusaha membiasakan diri. Namun hal terakhir yang membuatku terkejut, ternyata air di sana sedingin es.
Selesai mandi, aku kembali ke kamar dan membangunkan Mbak Lia. Setelah bangun, Mbak Lia juga segera menuju kamar mandi untuk mandi. Aku memberikan sedikit gambaran tentang jalan menuju kamar mandi. Mbak Lia bergegas untuk mandi, sedangkan aku bersiap-siap di kamar. Selang beberapa menit Mbak Lia muncul, tapi wajahnya terlihat tidak enak.
“Bercanda kamu gak lucu,” ujarnya saat masuk ke dalam kamar.
Aku yang mendengar itu menjadi kebingungan, memang ada apa? Ketika aku akan menanyakan lebih lanjut, Mbak Lia hanya diam. Namun saat Mbak Lia sedang bersiap-siap, aku melihat ada sesuatu di telinga Mbak Lia. Aku mendekatinya lalu mengambilkannya, ada sejumput rambut di telinga Mbak Lia.