Kisah Horor

Maghfira Izani
Chapter #19

Memulai hidup baru

Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dialami oleh Doni, seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi. Doni adalah seorang laki-laki berumur 32 tahun yang sudah bisa dibilang cukup mapan, dan cukup pantas untuk menikah. Sebenarnya Doni sudah menikah ketika berumur 28 tahun, namun malang baginya, istri Doni meninggal dalam sebuah kecelakaan saat pernikahan mereka menginjak tahun kedua. Kejadian itu merupakan pukulan terberat bagi Doni, selain karena kejadian itu terjadi secara mendadak, pernikahan mereka juga baru saja dimulai. Dari pernikahannya yang pertama Doni tidak memiliki anak, sehingga setelah kematian istrinya dia tinggal sendirian. Selama beberapa tahun Doni hidup dalam kesendirian, luka di dalam hatinya terasa sangat menyakitkan sehingga membuat dirinya tenggelam dalam kesepian. Hingga akhirnya waktu mulai menyembuhkan lukanya, Doni merasa dia harus menata kembali hidupnya yang mulai hancur. Kehilangan istri yang dia cintai bukan berarti dia harus menghentikan hidupnya; hidupnya harus berjalan terus. Dia juga yakin istrinya juga menginginkannya untuk melanjutkan hidup, bukan hidup dalam kesendirian. Sejak itu Doni mulai kembali terbuka dalam pergaulan, dia mulai banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Selain itu dia juga mulai mencari-cari pasangan baru, pasangan untuk memulai hidup baru.

Pada suatu hari, ketika Doni sedang bersama teman-temannya di sebuah kafe, tiba-tiba salah satu teman Doni memanggil seorang wanita yang sedang lewat di dekat mereka—sepertinya wanita itu hendak keluar. Ternyata teman Doni mengenal wanita itu. Dia mengatakan wanita itu adalah temannya semasa SMA. Temannya juga mengenalkan wanita itu kepada Doni, namanya Tania. Tania adalah wanita yang cukup menarik, umurnya mungkin dua tahun lebih muda dari Doni. Tania juga memiliki kepribadian yang sederhana dan hangat. Doni merasakannya saat mereka berbicara pertama kali. Doni merasa ada perasaan khusus kepada Tania; sepertinya wanita ini cocok dengan dirinya. Doni memang menginginkan wanita yang sederhana dalam perilaku dan bertingkah, seorang wanita yang bisa membuatnya nyaman, dan sepertinya Tania-lah yang memenuhi kriteria itu.

Setengah jam Tania bergabung dengan Doni dan teman-temannya, akhirnya Tania pamit. Dia mengatakan ada keperluan yang cukup mendesak. Setelah kepergian Tania, Doni mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada temannya mengenai Tania: di mana tempatnya bekerja, bagaimana sifat-sifat Tania, dan yang terakhir apakah Tania sudah memiliki pacar atau suami. Ketika Doni menanyakan pertanyaan terakhirnya, temannya mengatakan dengan yakin bahwa Tania sudah menikah dua tahun yang lalu. Doni langsung kecewa, pupus sudah harapannya. Tapi kemudian temannya meneruskan bahwa suami Tania meninggal delapan bulan yang lalu. Doni menanyakan penyebab kematian suami Tania, dan temannya menceritakan penyebabnya. Doni seperti mendapatkan angin segar, dan dia mencoba meminta nomor telepon genggam Tania. Temannya tidak keberatan memberikannya; teman-teman yang lain juga mendukung Doni.

Beberapa hari kemudian Doni memberanikan diri menghubungi Tania untuk pertama kalinya.

“Iya halo, ini siapa ya?” kata pertama yang terlontar dari mulut Tania saat mengangkat telepon.

“Ini Doni, teman Irfan yang waktu itu ketemu di kafe,” jawab Doni ragu-ragu.

“Oh iya, saya ingat. Ada apa Doni?” Tania bertanya balik.

“Ah enggak, cuma tadi Irfan menyuruh saya telepon kamu untuk menanyakan kabar kamu.” Doni sama sekali tidak sadar apa yang dia katakan; dia terlalu gugup.

Tania membalas dengan gelak tawa, tapi memang Tania tidak keberatan Doni meneleponnya. Tania pun melanjutkan pembicaraan itu, hingga mereka cukup lama berbicara di telepon. Doni mengakhiri pembicaraannya dengan kata-kata,

Lihat selengkapnya