Peristiwa ini terjadi sudah sangat lama, sekitar tahun 1990-an, tentang seorang dukun beranak bernama Mak Sari. Mak Sari tinggal di sebuah desa agak terpencil di kawasan Cianjur. Dia menempati sebuah rumah gubuk berdinding anyaman bambu, dan beratap daun kelapa. Mak Sari tidak tinggal sendirian; dia tinggal bersama cucunya yang bekerja di luar desa. Kondisi ini menyebabkan cucunya tidak selalu dapat berada di rumah bersamanya, tetapi beberapa hari dalam seminggu dia menyempatkan pulang hanya untuk sekadar menengok Mak Sari dan membawakannya makanan. Tinggal sendiri memang bukan masalah bagi Mak Sari; dia sama sekali tidak takut.
Mak Sari adalah seorang wanita tua yang bersahaja. Dia melakukan pekerjaannya dengan ikhlas karena memang dia ingin membantu. Dia juga tidak mau membuang percuma kemampuannya. Tuhan memberikannya keahlian kepada kita pasti untuk digunakan membantu sesama, jadi kenapa harus disimpan sendiri?
Sudah banyak pasangan suami istri di desanya yang dia tolong, dan mereka sangat berterima kasih sekali atas bantuan Mak Sari. Di saat tidak ada tenaga medis sama sekali, dan tidak ada seorang pun yang cukup mengerti akan proses kelahiran, Mak Sari yang dapat diandalkan. Tidak mudah lagi mau bersusah payah membantu. Dia juga bersedia didatangi kapan saja, bahkan tengah malam, karena memang kelahiran tidak memandang waktu—kapan saja, jam berapa saja.
Selain menjadi dukun beranak, Mak Sari memiliki pekerjaan lain, yaitu menanam padi. Memang saat itu sedang musim tanam, jadi Mak Sari cukup keperepotan. Dia menghabiskan sebagian besar harinya di ladang, menanam satu per satu tanaman yang menjadi makanan pokok warga desanya. Mak Sari biasa berangkat pukul 8 pagi, dan kembali pukul 5 sore atau sebelum Maghrib. Hampir seluruh tenaga Mak Sari terkuras; dia sudah kelelahan ketika pulang ke rumah. Itu terjadi setiap hari, tanpa jeda.
Hingga pada suatu hari. Seperti biasa Mak Sari sedang berjalan pulang menuju rumahnya; hari itu sudah cukup sore. Mungkin pukul 5 sore lebih beberapa menit, Mak Sari berjalan perlahan membawa topi capingnya. Tangan kirinya membawa sebuah bakul tempat ia membawa makan siangnya; dia hanya punya satu kali istirahat yang biasanya ia gunakan untuk makan siang.
Saat sudah dekat dengan rumahnya, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang masih cukup muda mencegatnya.
“Mak, tolong Mak. Istri saya mau melahirkan,” kata pertama yang keluar dari mulut pemuda itu.
Mak Sari diam sejenak, dia mencoba mengingat-ingat pemuda itu; wajahnya tidak asing baginya. Akhirnya Mak Sari dapat mengingatnya. Laki-laki itu adalah Asep, anak tetangganya. Satu tahun yang lalu Asep menikahi seorang gadis dari desa sebelah. Pernikahannya juga cukup besar, maklum orang tua Asep adalah seorang tuan tanah; dia yang mengatur semua biaya pernikahan. Tidak terasa sudah setahun berlalu, dan sekarang istrinya sudah hamil besar.
“Gimana keadaannya Sep?” tanya Mak Sari, berhenti sejenak.
Asep terlihat gelisah, dia terus menundukkan wajahnya. “Perut istri saya sudah sakit dari tadi pagi Mak, tapi belum ada tanda-tanda mau melahirkan. Saya yakin sebentar lagi, oleh karena itu saya mau jemput Mak. Takut jika tiba-tiba istri saya sudah mau melahirkan.”
Mak Sari masih terlihat tenang. “Memang sepertinya sudah sedikit lagi. Ya sudah, Mak pulang dulu. Nanti selepas Isya’ Mak ke rumahmu. Tapi jika istrimu sudah ingin melahirkan, jemput Mak dari rumah.”
Asep mengangguk, “Baik Mak.” Mak Sari melanjutkan perjalanannya, sedangkan Asep kembali pulang. Mereka berpisah di jalan itu.
Setibanya di rumah, Mak Sari meletakkan topi capingnya dan bakul yang dibawa. Dia segera menuju kamar, mengambil pakaian bersih lalu pergi mandi. Setelah mandi, Mak Sari mengambil wudhu untuk melaksanakan salat Maghrib. Setelah itu dia melanjutkan dengan berdzikir hingga waktu salat Isya’. Setelah apapun Mak Sari, dia selalu punya energi lebih untuk beribadah. Dia merasa dengan beribadah dia bisa dekat dengan Tuhan, bahkan di saat genting sekalipun.
Usai melaksanakan salat Isya’, Mak Sari mengambil beberapa kain batik berwarna cokelat. Dia membawa kain itu, dan berangkat menuju rumah Asep. Rumah Asep tidak terlalu jauh dari rumahnya, dia segera mengambil obor yang diletakkan di halaman rumah. Di masa itu tidak ada senter yang dapat digunakan, hanya obor dan lampu minyaklah penerangan mereka. Mak Sari berjalan pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Umur memang membuatnya lemah, padahal seperti baru kemarin dia menikah dengan suaminya, hidup bergantung dengan bercocok tanam, dan mempunyai anak. Tapi sekarang anaknya sudah dewasa, dia juga sudah memiliki cucu. Satu hal yang terkadang membuatnya masih tidak percaya, yaitu kepergian suaminya. Hingga saat ini Mak Sari tidak percaya bahwa suaminya telah meninggalkannya selamanya. Tapi sebagai orang yang beriman, dia percaya bahwa suatu hari dia akan menyusul suaminya. Dia harus mengikhlaskan kepergian suaminya. Cepat atau lambat dia juga akan menyusul, toh setiap orang memang akan mati bukan?
Mak Sari larut dalam lamunannya, hingga tidak terasa dia sudah sampai di depan rumah Asep. Dia segera meletakkan obor yang dibawa dan meletakkannya di halaman rumah. Rumah Asep sepertinya agak sepi, tetapi Mak Sari masih bisa mendengar suara orang di dalamnya. Mak Sari melangkah ke beranda rumah, dia mengetuk pintu rumah beberapa kali.
“Asalamualaikum.” Beberapa saat kemudian pintu rumah terbuka, Asep yang membuka pintu.
“Mak datang juga. Istri saya merasa perutnya sakit, Mak.” Asep terlihat lebih gelisah daripada sore tadi, wajahnya berkeringat hingga terlihat berkilau disinari cahaya lampu minyak.