Aku diburu setiap hari, kuhabiskan setiap napasku di antara gemerlap. Kelelahan, rasa kantuk yang menggelayut di tubuhku, berapa banyak lagi gelas yang harus kuhabiskan, berapa banyak lagi rupiah yang mesti kuhamburkan. Tubuhku kedinginan, tapi aku sudah terbiasa. Pelukan hangat penuh nafsu akan tetap setia menemaniku, aku tidak takut. Aku bisa memakai topeng yang kusuka, aku dapat membuang mereka dengan mudah.
Aku masih muda, detik masih bertumpuk di genggamanku. Apa yang harus kutakuti, semua ini adalah milikku. Hanya aku, tak ada orang lain. Aku adalah majikan, mereka adalah pesuruhku. Sudah sering kutampar wajah mereka, wajah tua yang bermulat besar itu. Jika perlu, akan kuhancurkan senyum di wajah wanita tua itu hingga tergantikan dengan tangis memalukan. Itulah yang terjadi kepada orang-orang yang ingin menguasaiku.
Aku punya banyak teman, tapi buatku mereka tidak lebih dari orang rendahan yang mau melakukan apapun untukku. Sekali lagi kutekankan, akulah penguasa.
Dia sangat suka parasku, begitu juga aku. Seperti melakukan kegiatan jual beli, kubeli tubuhnya, kubeli harga dirinya, kubeli hatinya.
Aku suka sekali lantai kotor ini, terlebih tempat tidur penuh noda ini. Di sinilah aku mendapatkan kebahagiaan terbesarku, kebahagiaan tubuh juga nafsu. Dunia di sekelilingku berjalan cepat, terkadang membuat kepalaku pening. Aku cukup menikmatinya, untuk setiap adrenalin yang terpompa, untuk setiap keringat yang menetes.
Aku cinta dunia ini, dunia yang berjalan atas kehendakku. Berputar dan berhenti atas kemauanku. Duniaku membuat tubuhku semakin kurus dan napasku semakin berat. Helai demi helai rambutku jatuh, senti demi senti kulitku menghitam.
Dadaku sesak, kepalaku bergeretakan. Aku harus menyesuaikan diri dengan sprei putih lembut ini, karena kenyamanan ini seperti menggerogoti. Kini aku sendirian, aku hanya punya satu teman yang datang setiap satu jam sekali. Ke mana semua pesuruhku? Ke mana mereka? Ke mana juga dia? Aku sudah membelinya, mengapa sekarang dia menghilang?