“Kamu bisa jemput Andra nanti siang? Aku ada event sampai sore di Bandung,” kata Amara tanpa menoleh. Tangannya sibuk memasukkan beberapa lembar kertas berwarna. Laptop hitamnya masih menyala di meja makan.
Laksana masih memandangi mesin kopi berwarna perunggu kusam yang bergetar. Mengeluarkan bunyi teratur dengan jarum yang bergerak-gerak.
Diam termenung. Tak menjawab.
“Besok juga, aku kayaknya nggak bisa ke pertemuan orang tua murid. Ada undangan dari sekolah buat event perpisahan Juli nanti,” terus Amara. Kali ini menoleh sejenak ke arah Laksana yang masih mematung memandangi mesin kopi.
Masih diam tak memandangnya.
Amara menarik napas panjang, berdesah pelan.
Ia berjalan pelan ke arah meja makan. Menutup laptop hitamnya, lalu memasukkannya ke tas jinjing berwarna coklat gelap dengan gantungan kunci manik-manik merah muda dengan selipan kristal jingga bening.
Laksana tersenyum. Bukan untuk Amara. Bukan pula karena suara merdu Amara yang sedari tadi bersenandung melemparkan pertanyaan yang tak satupun ditangkap olehnya.
Bukan.
Laksana merekahkan bibir untuk mesin tua beraroma biji kopi di hadapannya. Matanya terpaku pada pergerakan jarum kecilnya.
Sedikit rasa puas mengembang saat lampu jarum yang ia tatap lama berubah posisi dengan amat halus. Suara gilingan kopi memecah hening pagi. Aroma kopi menyeruak memadati seisi ruangan.
“Kamu bisa kan gantiin aku besok?” Amara kini berdiri di samping Laksana. Meraih dua cangkir putih di rak atas dan meletakkannya di samping mesin kopi yang sekarang berhenti menggiling biji caffeine. Membuka toples gula dan menggeser toples creammer.
Laksana masih diam dengan senyumnya.
“Kamu bisa kan, Mas?” kata Amara lagi. Kali ini dengan sentuhan lembut di punggung Laksana.
“Hah, apa?” Laksana menoleh.
Amara melipat bibir. Matanya mendelik mengacungkan pedang peperangan.
Laksana terkekeh.
“Iya, nanti siang aku jemput Andra. Besok juga aku ke sekolah untuk pertemuan orang tua murid,” Laksana memasang perisai canda untuk menurunkan pedang perang yang diacungkan mata Amara tadi.
“Memangnya,” Laksana menatap mata Amara di sebelahnya. “Sekolah TK harus ada acara perpisahan?”
“Lho? Memangnya nggak boleh? Ada larangan?” Amara mengangkat bahu.
“Bukannya anak kecil seusia Andra belum tahu makna perpisahan ya? Kan yang dia tau cuma main,” lanjut Laksana.
“Jangan banyak alasan deh, Mas. Kamu cuma mau menghindar dari kertemu banyak orang kan?” sanggah Amara cepat. Dalam hati, Laksana mengiyakan tebakan Amara.
Amara, apa yang tak kamu tahu dari teriakan isi hati pria pengagum suara merdumu ini?
Celotehmu tak ubahnya suara burung pipit yang bernyanyi menyambut cahaya pagi dengan sayap yang masih basah dirundung embun.
Selalu tak pernah bosan untuk dinikmati.
“Kamu tuh harus punya banyak teman, ngobrol sama orang,” Amara menoleh.
Menatap Laksana.
“Barli dan Desi bukan orang?” sanggah Laksana. Pelan. Sedikit meringis. Sebuah alasan yang lemah, hanya untuk memanjangkan perbincangan.
“Ish, kamu tuh ya… Orang lain maksudku. Jangan mereka terus,” Amara kesal. Laksana mengangguk.
“Lagi pula, emang kamu sering ngobrol sama mereka?” lanjut Amara lagi.
Laksana diam.
Bukankah wajar setelah usia tiga puluh lima circle pertemanan akan mengecil?
Apakah harus aku bertemu dan menikmati kebersamaan percakapan dengan orang lain yang belum tentu rutin kutemui?
Dirimu – istriku, Andra, Barli dan Desi, bagiku cukup.
Larutan kental hitam kecoklatan keluar dari sela mesin. Sedikit buih putih mengalir tak di tempat seharusnya. Tetesan lain juga ikut menggantung di tempat yang tak semestinya.
Senyuman Laksana hilang.
Amara menadah tetesan itu dengan lap putih. Walau sebagian besar espresso masuk ke dalam cangkir, Amara tahu Laksana tak suka dengan adanya tetesan liar itu.
Laksana menunduk, memperhatikan tetesan liar itu lebih jeli. Seakan mencari tahu di mana sumbernya, tapi otaknya terlalu bodoh menerka-nerka.
“Masih rusak ya?” Amara membuka tutup toples creammer, ikut memandangi tetesan liar yang sedari tadi mengalihkan perhatian suaminya.
Laksana mengangguk pelan, “Sepertinya…”
“Nggak mau diganti aja?” Amara mengambil cangkir espresso pertama, menambah satu sendok gula dan dua sendok creammer. Mengaduknya perlahan lalu menuangkan sedikit susu.
Laksana menggeleng. “Nggak, ini peninggalan Bapak.”
“Udah hampir setahun lho rusaknya, Mas Dipo aja nggak bisa benerin. Mau kamu apain lagi?” Amara mengambil cangkir espresso kedua dan meletakkannya di samping.
Cangkir pertama ia ambil. Menyeruputnya perlahan.
“Nggak tau,” Laksana menjawab singkat sambil terus memperhatikan sumber tetesan yang sudah mulai berkurang.
“Rasa kopinya juga aneh, Mas. Udah-lah… masukin gudang aja. Mungkin udah waktunya,” Muka Amara mengecut setelah menyeruput kopi cangkir pertama.
Laksana tetap menggeleng.
Amara menghela napas panjang.
“Hh… ya udah, aku berangkat,” Amara mengacak rambut suaminya yang masih menunduk memandangi tetesan yang kini hilang. Kopi cangkir pertamanya masih penuh.
Laksana bangkit, menghela napas panjang. Mengambil cangkir kedua. Membalikkan badan.