Tak jauh memang, mungkin hanya sekitar tujuh menit berjalan. Andra berhenti sesaat di salah satu ruko kecil dengan cat indah berwarna salem.
Laksana memperhatikannya dari belakang agak jauh.
Lari anaknya memang cepat. Jalan tampak aman dari para penunggang kendaraan bermotor sehingga Laksana tak merasa perlu untuk mengejar.
Andra menempelkan wajahnya di kaca jendela sebelum membuka pintu dan memutuskan masuk. Suara lonceng terdengar saat pintu terbuka dan tertutup. Laksana masih berada di luar memperhatikan dinding berwarna salem itu seksama sebelum masuk.
Bukan toko buku yang besar, namun cukup rapi dan apik tata letaknya. Terkesan klasik dengan sentuhan beberapa part kayu sebagai aksennya.
Little Big Bookstore tertulis besar dengan proporsional yang pas di salah satu kaca jendelanya.
Laksana membuka pintu. Bunyi lonceng berdenting merdu.
Di sudut mata, Laksana menangkap Andra berlari kearah jajaran buku komik dan anak. Laksana masih mengagumi desain interior toko buku itu. Beberapa ornamen kayu di pojok ruangan membuatnya tertegun sesaat.
Pemilihan warna yang sempurna untuk tiap sudutnya, tidak menonjol namun saling menguatkan. Tangannya menyentuh beberapa rak kayu berisi buku-buku tebal berdiam dengan nyaman. Aroma kertas membuatnya sedikit mabuk.
Mabuk yang menyenangkan.
“Hai, Mas…” Suara manis merusak lamunan.
Merdu.
Suara yang berbeda syahdunya dengan milik Amara.
Laksana menoleh, seorang wanita manis berdiri di hadapannya. Bajunya berwarna pastel dengan sedikit corak garis bunga proporsional. Rambutnya indah diikat sederhana dengan menyisakan sedikit poni hitam menutupi dahi.
Wanita itu mengenakan landyard berwarna mencolok dengan tulisan yang sama persis dengan tulisan di kaca toko.
“Ada yang bisa saya bantu? Cari buku apa?” lanjut wanita itu.
“Oh nggak, cuma nemenin …” Laksana menunjuk Andra yang kini sedang asyik memilih komik. Wanita itu tersenyum, mengangguk pelan.
“Ayahnya Andra, ya?” tanya wanita itu sambil menunduk, merapikan poni hitamnya dan menyelipkannya di belakang telinga.
Laksana mengerutkan dahi. “Iya, ” jawabnya ragu.
Tiba-tiba suara lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki seusia Andra berjalan gembira memeluk wanita itu.
“Mama!” katanya riang.
“Hai, Bimo. Sudah pulang ya,” jawab wanita itu sambil mengusap rambut anak itu. Anak itu memeluknya hangat. Seperti menikmati cinta yang berbentuk dan bisa disentuh.
Andra melihat Bimo. Tawanya membuncah. Ia merapikan komik yang sempat ia pilih-pilih lalu berlari menghampiri. Mendekat.
“Hai Bimo, ini Mama kamu?” kata Andra mencolek Bimo yang kini melonggarkan pelukannya.
“Eh Andra, kamu lagi apa disini?” Bimo balik bertanya.
“Ayah aku mau beliin aku komik,” Andra menatap Laksana. Laksana menelan ludah.
Ah, tadi bukan begini rencananya.
Laksana merasa dijebak.
Wanita manis itu menangkap wajah kikuk Laksana. Ia tertawa pelan lalu menahannya dan menyisakan senyum tipis. Senyumnya sederhana, tapi memerah di pipi.
Manis. Menenangkan.
Laksana menangkapnya dari sudut mata dan ternyata terbawa jauh hingga tersimpan diam-diam di sudut hatinya. Tanpa dia sadari. Tanpa ada perintah.
“Sini aku pilihin komik yang bagus!” Bimo menarik tangan Andra, lalu menghilang di antara rak-rak buku. Mata Laksana dan wanita manis di dekatnya mengikuti.
“Mereka sekelas,” Kata wanita itu singkat.
Laksana mengangguk mengerti “Oo.. pantes,..”
“Rana. Mamanya Bimo,” Wanita itu menyodorkan tangan. Laksana menjabat tangan itu dengan hangat. Canggung. Agak aneh menjabat tangan orang asing diusianya yang tak lagi muda.
“Laksana, Ayahnya Andra.”
Waktu berhenti seketika. Lama.
Apakah sentuhan telapak tangan ini tanpa sengaja menekan tombol jeda untuk perputaran semesta?
Jika iya, kenapa rasa hangatnya tetap nyaman tersimpan dalam memori panca indra?
Jika tidak, kenapa ini terasa selamanya?
“Biasanya Amara yang jemput,” kata Rana singkat.
Menarik lengannya lembut. Menekan tombol play, membuat waktu kembali berputar. Ia menunduk dan mengambil tas Bimo dan Andra yang entah sejak kapan ditinggalkan berantakan di lantai toko.
Laksana mengambil tas Andra cepat sebelum Rana sempurna meraihnya. Mengambil gestur sungkan dan minta maaf sudah merepotkan. Rana menganggapnya biasa.
“Lagi ada kerjaan, agak sibuk dia” kata Laksana singkat.
“Iya ya, tahun lalu saat masih TK A, sering dia jemput ke sekolah. Sekarang sudah mulai jarang ya,” ujar Rana pelan.
Laksana mengangguk.
Rana berjalan ke ruangan kecil di belakang meja kasir. Meletakkan tas Bimo di sana dan kembali menemui Laksana. Sekali lagi merapikan poni hitamnya dan menyelipkannya di belakang telinga.