Malam sudah larut ketika Laksana sampai rumah.
Lampu teras redup, hanya meninggalkan bayangan samar di halaman kecil. Dari kursi belakang, terdengar napas teratur Andra yang terlelap, buku komik masih menggantung di genggamannya. Wajah kecil itu tampak lelah, rambutnya kusut, senyum tipis melekat seolah mimpi tengah menghiburnya.
Sepi mendadak memeluk saat mesin sedan tua itu mati. Meninggalkan aroma hening yang menusuk tulang. Laksana menghela napas panjang.
Kesepian macam apa ini?
Laksana membuka pintu pelan, menggendong Andra masuk. Berat badannya sudah tak seringan dulu, tapi bagi Laksana, itu justru pengingat waktu yang berjalan. Pria kecil itu makin besar. Waktu telah mengasuhnya dengan baik.
Andra kecil yang selalu ia angkat tinggi dan ia dudukkan di bahu kini sudah bukan lagi anak kecil. Jika Andra bangun, dia tidak akan suka digendong seperti ini lagi.
Laksana membaringkan Andra di tempat tidur, menarik selimut sampai ke dada, lalu menyelipkan buku komik barunya ke sisi bantal. Tangannya sempat berhenti sebentar, membelai rambut anaknya dengan perasaan kosong. Refleks yang wajar bagi siapapun ayah di dunia ini saat melihat anaknya terlelap.
Pintu kamar ditutup perlahan. Begitu keluar, sunyi kembali menyergap. Ruang tamu sepi. Dapur pun kosong. Jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Laksana kembali menghela napas panjang. Ia tahu, Amara masih di luar. Agenda kerja, event, rapat klien, segala sesuatu yang sering kali memakan waktu lebih banyak daripada kebersamaannya di rumah.
Kesibukannya sebagai konsultan perusahaan periklanan menggila setahun terakhir. Karirnya melesat melebihi kesempatan Laksana untuk menyadarinya. Di hatinya ia bahagia melihat Amara berkembang seperti ini.
Ini memang mimpi Amara sejak Laksana mengenalnya pertama kali saat kuliah. Tapi di sudut kecil hatinya yang lain, ia merasa sepi dengan cerewetnya Amara yang makin menghilang.
Dulu, ia mengenal Amara dengan ribuan cerita yang tak pernah selesai dibicarakan. Tak pernah habis digali dan didengarkan. Untuk dia yang menyukai kesunyian, cerita Amara tak ubahnya semacam melodi musik yang menenangkan hati. Orkestra ramai yang menenangkan. Membuatnya tak perlu berusaha menemui dunia untuk mengorek informasi terbaru apa yang sedang terjadi, karena Amara telah mengantarkannya dengan utuh. Laksana belajar menjadi pendengar ulung darinya.
Di meja makan beberapa kertas laporan Amara masih berserakan sama seperti saat pagi. Angka-angka dan grafik-grafik yang sama sekali Laksana tak mengerti terpampang di sana. Beberapa di antaranya berwarna dan sebagian lainnya setia dengan paduan hitam dan abu. Laksana menatapnya lama.
Laksana menghela napas lagi. Kali ini lebih berat.
Ia mengerti betul betapa Amara ambisius dengan pekerjaannya, betapa ia ingin kariernya terus menanjak. Dan Laksana bukan tipe pria yang akan melarang. Ia justru bangga.
Bangga istrinya cerdas, diandalkan, dihormati banyak orang. Ia ingin Amara tetap berada di puncak. Ia ingin membuktikan bahwa pernikahan bukan halangan bagi wanita manapun untuk berharga dan berprestasi di dunia professional yang mereka impikan.
Namun, di balik kebanggaan itu, ada ruang kosong yang makin sering terasa. Bukan untuk dirinya saja, tapi untuk Andra. Anak mereka sering kali harus puas ditemani dirinya seorang, atau bahkan hanya sendirian bermain di kedai saat ia sibuk melayani pelanggan.
Janji kecil Amara untuk menjemput, menemani makan malam, atau sekadar duduk bersama sering tertunda. Bukan karena tak peduli, tapi karena waktu memang tak pernah cukup.
Semoga Andra akan mengerti kelak.
Laksana berdiri di dapur, menatap tanaman aglonema milik Amara yang bergoyang pelan tertiup angin malam dari jendela yang tak tertutup rapat. Ia menuangkan air ke dalam gelas, meneguknya perlahan. Senyuman samar muncul, samar sekali, antara pasrah dan menghibur diri.
Entah kenapa kata-kata Mas Dipo sore tadi kembali terngiang.
“Mas, Muka njenengan kok, mm… beda. Kenapa tho?”
Laksana tertawa hambar kebingungan saat itu, menepisnya sebagai gurauan. Tapi sekarang, sendirian di ruang tamu yang hening, ia sadar ada bayangan lain yang mengganggu pikirannya.
Bukan pekerjaan, bukan mesin kopi tua, melainkan senyuman seseorang yang baru saja ia temui. Senyum manis sederhana di balik meja kasir toko buku. Senyum yang entah kenapa, berulang kali hadir di kepalanya sejak senja tadi.
“Hai, Mas…”
Ia tersenyum menunduk.
Detak jam dinding terdengar jelas, menambah kesunyian yang sebenarnya sudah penuh. Di kamarnya, Andra terlelap tanpa ibunya di sisi. Dan di ruang tamu, Laksana terdiam dengan pikirannya sendiri.
Antara rasa syukur memiliki pasangan yang sedang mengejar mimpi, dan rasa sepi yang semakin sering mengintip lewat celah kecil kehidupan rumah tangga mereka.
Tapi semakin malam, pikirannya hanya diisi senyum manis dan suara sapaan merdu Rana. Berputar terus-menerus. Berulang-ulang.
~~~
“Mara?”
Laksana masih hafal benar kata pertama yang ia lontarkan spontan saat wanita cantik itu tiba-tiba membuka pintu mobil dan duduk tepat di kursi penumpang depan. Di sebelahnya.
Amara meringis canggung menatapnya sebentar. Laksana menelan ludah.
“Laksana kan? Bantuin aku ya… please..” kata Amara sedikit merajuk. Mata Laksana membulat bingung.
“Kak Ranto maksa nganter aku pulang, aku nggak mau.” Amara menunduk sedikit. Kepalanya menoleh mengintip ke kaca belakang.
Laksana melihat pantulan pria botak dengan brewok tebal berdiri tepat di belakang mobilnya yang diam terpakir di sisi timur kampus. Matanya awas menyapu sekeliling seperti mencari sesuatu.
“Kamu ngumpet?” Mata Laksana membulat. Amara hanya memberi isyarat untuk diam dengan telunjuk dan bibir tipisnya.
“Aku baru parkir Mar, sebentar lagi ada bimbingan sempro sama Pak Burhan. Aku nggak mungkin – “
“Sstt… please Lak… aku risih banget di deketin Kak Ranto terus,” bujuk Amara dengan suara merdunya. Laksana menyerah.
Laksana menginjak kopling dan memasukkan perseneling sedan tuanya. Melaju pelan meninggalkan parkiran dan Ranto yang masih kebingungan karena kehilangan jejak bidadari idamannya.
“Aku pinjem jaket sama topi kamu ya,” ucap Amara cepat. Bukan minta izin tepatnya. Karena saat Amara mengucapkan itu jaket Laksana telah ia kenakan. Topi pet Laksana pun sudah sempurna menutupi wajah manisnya.
“Buat apa?”
“Temen-temen Kak Ranto suka ada di gerbang. Kamu nggak mau kan besok di cegat mereka karena mereka liat aku dibawa kamu?” Amara menoleh sesaat.
Laksana kembali menelan ludah.
Ini keputusan buruk Laksana…
Itu adalah kali pertama Amara dan Laksana berinteraksi. Belasan tahun lalu, memang. Tapi Laksana tak pernah bisa melupakan setiap momennya.
Sepanjang sore mereka hanya berkeliling kota. Menghabiskan waktu menuju senja tanpa percakapan. Hanya diam seperti dua manusia dengan peran supir dan penumpang.
Laksanan mengenal Amara baik. Seperti banyaknya mahasiswa lainnya yang mengenal adik angkatan dua tahun di bawahnya yang terkenal cantik dan manis. Sesekali mata mereka bertemu pandang jika waktu membuat skenario manis mereka berpapasan di lorong kampus.
Tak ada senyum. Tak ada sapa. Tak ada perbincangan.
Hanya saling mengenal nama.
Amara mengenal nama Laksana karena memang kewajiban junior menghafal nama kakak tingkatnya dan Laksana mengenal nama Amara karena semua pria di kelas selalu membahasnya.
Hanya sebatas itu.
Terutama Ranto dan gerombolannya yang selalu riuh ramai saat Amara melintas. Entah hanya sebatas menggoda atau memang benar-benar jatuh cinta. Berisik.
Menjelang malam hujan mulai turun. Membasahi jalan. Membuat titik-titik air di jendela mobil sedan tua Laksana.
Jalanan mulai padat. Beberapa lampu temaram kuning mulai menyala dan berbinar memanjakan mata. Kedai-kedai makanan yang memakan sisi jalan trotoar mulai ramai.
Laksana menatap Amara yang terlelap di kursi penumpang sebelahnya. Masih dengan balutan jaket dan topinya.
Kenapa gadis manis ini malah nyaman tidur?
“Mar…” Laksana memanggil pelan.
Amara membuka mata. Mengedipkannya beberapa kali lalu menggeliat mengangkat tangannya tinggi.
“Ya?”
“Mau dianter pulang atau mau dianter ke kampus lagi?” Laksana memainkan jari di kemudi.
“Makan…” jawab Amara lirih.
“Ha?” Laksana menoleh cepat. Amara meringis.
“Aku mau makan. Pecel lele kayaknya enak. Aku yang traktir. Ucapan makasih udah nyelametin aku dari Kak Ranto.”
“Tapi, aku harus balik ke kampus Mar. Pak Burhan pasti – “
“Pak Burhan udah pulang jam segini. Kamu balik ke kampus juga percuma kali…” Amara tertawa kecil.
“Hh… Gagal sempro aku bulan ini…” Laksana meletakkan bahunya kesandaran. Putus asa.
Amara terbahak. “Udah deh, pecel lele dulu yuk… aku punya magh. Nggak boleh telat makan.”
Laksana hanya tertawa getir. Namun jauh dalam hatinya entah kenapa ia bahagia.
“Yang ikhlas dong kalo nolongin. Aku nggak akan kok maksa masuk mobil kamu lagi. Lagian jaket kamu bau!” Amara kembali terbahak. Laksana hanya meringis.
Walau nyatanya, pada hari-hari selanjutnya, Amara tetap masuk ke mobil Laksana dan memakai jaket baunya.
~~~
Cahaya pagi menyusup perlahan melalui celah tirai ruang tamu.
Laksana terbangun dengan tubuh agak pegal di sofa panjang. Selimut menutupi tubuhnya. Ia yakin benar tidur tanpa berselimut tadi malam. Bajunya pun masih baju yang sama dengan saat ia menjemput Andra kemarin siang.
Amara tampaknya pulang saat ia tak sadarkan diri dalam lelap. Mengambil selimut di lantai atas dan membawanya turun kembali untuk membuatnya tidak dingin sepanjang malam. Jika ia melakukan itu, berarti itu sudah amat larut hingga ia tak mau mengganggu tidurnya.
Laksana menghela napas, menatap selimut itu lama. Ada rasa hangat yang samar, rasa yang menegaskan bahwa Amara, meski sibuk, meski tak ada waktu, meski terbatas masih berusaha hadir layaknya seorang istri untuk suaminya. Layaknya seorang ibu untuk keluarga kecilnya.
Ia meraih ponselnya di meja kecil samping sofa. Layar menyala, memperlihatkan satu pesan singkat dari Amara:
“Maaf semalam pulang kemaleman. Ada deadline yang nggak bisa ditunda. Aku berangkat pagi ini, ada meeting di luar kota setengah hari. Jangan lupa pertemuan orang tua murid jam satu siang nanti. Aku janji pulang sebelum sore. Love you.”
Jari Laksana berhenti sejenak di layar, menahan senyum.
Laksana menguap panjang, meregangkan tubuh, mengangkat tangan setinggi tingginya.
Rumah ini masih sepi. Andra tampaknya belum bangun. Pandangan matanya tertumbuk pada meja makan. Meja makan itu sekarang tampak rapi. Bahkan beberapa lauk sederhana telah siap di sana. Dadar telur dan ayam kecap kesukaan Andra telah siap menjadi pemeran utama.
Seberapa lelap tidurnya hingga tak mendengar Amara bersiap seluar-biasa ini? Sempatkah Amara tidur?
Tepat di vas aglonema sticky note berwarna kuning menempel. Tulisan tangan Amara yang rapi dan tergesa-gesa masih terbaca jelas:
“Mas, jangan lupa ya meeting ortu jam 1 siang. Bibi akan datang jam 9 untuk jagain Andra. Terima kasih sudah selalu back up aku.”