Kisah Kelinci dan Singa

Adityo Wisnu Nugroho
Chapter #4

Bab 04

Sore, setelah rapat orang tua murid.

Hujan tipis baru saja reda ketika Rana kembali ke tokonya. Mendung sudah ada kala rapat akan dimulai, dan turun diam diam dalam bentuk gerimis saat Laksana tersedak mendengar namanya disebut untuk masuk ke dalam panitia persiapan acara perpisahan sekolah.

Untungnya hujan tak berlanjut deras hingga malam, sehingga Rana bisa menikmati aroma kayu lembap bercampur bau tanah basah sepanjang perjalanannya menyusuri trotoar dari sekolah ke tokonya. Latar senja membuatnya sempurna untuk Rana menikmati semuanya.

Rana membuka pintu toko, bunyi lonceng terdengar berdenting. Dua karyawannya yang sedari tadi sibuk menata tumpukan buku baru menoleh kearahnya dan tersenyum.

Di sudut riuh ringan tawa Bimo terdengar melihat komik kesukaanya.

Rana berjalan ke ruang kecil di belakang meja kasir. Ruangan itu tak lebih dari empat meter persegi, berisi meja sederhana, dispenser air panas, tumpukan kertas catatan dan pintu kecil yang mengarah langsung ke teras kecil di belakang. Ia duduk di kursinya, melepaskan napas panjang, merasakan sepi yang merambat masuk.

Senyum Laksana di aula tadi siang masih membayang samar—senyum kikuk yang, entah bagaimana, terasa menenangkan. Tanpa sadar Rana tertawa kecil terbayang wajah Laksana tersedak air saat namanya disebut.

Rana teringat panggilan telepon pagi tadi.

Suara Amara di seberang terdengar tergesa, tapi tetap hangat. Rana tahu Amara sedang menyetir mobil hanya dari suaranya, tanpa perlu melihatnya langsung.

“Rana, aku titip sesuatu, ya? Suamiku pasti kikuk kalau rapat orang tua. Tolong… temani sebentar. Sapalah dia. Aku yakin dia akan lebih tenang kalau ada yang ngajak ngobrol.”

Rana sempat menolak. “Ah Mar, Tapi… apa tidak aneh? Kan aku belum pernah ketemu suamimu.”

Amara tertawa kecil diujung sana. “Kan kemarin sudah ketemu, aku lihat tas belanjaan tokomu tadi malam di sofa rumah. Buku gambar Andra juga baru. Nggak mungkin kan Andra beli sendiri.”

Rana tersenyum. Dia tak pandai berbohong.

“Please, tolong ya Ran. Kamu kan orangnya ramah. Aku percaya kamu bisa bikin dia nyaman. Aku hanya nggak mau dia kelihatan sendirian, Rana.”

“Emangnya kenapa sih, Mar? Biarin aja nggak sih? Apa nggak tambah kikuk nanti kalau dia aku sapa? Siapa aku?” Rana masih berusaha mengelak.

“Rana… suamiku tuh introvert banget. Aku sibuk banget belakangan ini. Makin masuk gua dia nanti kalo nggak ada interaksi sama orang lain”

“Mara… malu aku. Apa kata orang aku nyapa suami orang? Oh oh, apa kata Bu Guru nanti? Ih, aku nggak mau disangka genit ke laki orang. Nggak mau Mar. Aku nggak mau!”

Rana bersikeras menolak. Ponselnya digenggamnya erat. Tangannya yang lain memainkan landyard.

“Rana, cintaa.. nggak gitu dong. Aku tau kamu nggak pernah peduli sama pendapat orang lain. Masa kamu nggak mau nolongin aku Ran…”

“Mara, sayangkuu… bukan berarti aku cuek sama pendapat orang lain terus aku nggak kepikiran kalo aku dicap kegatelan. Atau… atau selingkuh. Ihhh… Sama suami temen sendiri lagi,” balas Rana. Diseberang sana Amara tertawa terbahak.

“Ya nggak lah, Ran. Masa orang langsung ngasih kesimpulan kamu selingkuh karena nyapa suami aku? Apa kabar abang-abang tukang parkir kedai kopi suamiku yang bolak-balik nyapa Mas Laksana? Mereka selingkuh juga? ”

Rana mendengar suara Amara terbahak diseberang sana. Ia hanya diam.

“Udah deh , Ran. Kalau ada yang bilang kalian selingkuh gara-gara ini. Aku yang ngadepin mereka.”

Rana terkesiap. “Nggak gitu Mara..”

“Ran, please banget. Laksana tuh butuh kesibukan. Nggak ada aku tuh dia kaya manusia gua tau nggak. Dia butuh ketemu banyak orang. Oke ya?”

Akhirnya Rana menyerah. Ia hanya bisa mengangguk meski hatinya masih ragu. “Iya.”

Rana menelan ludah.

Ah, harusnya tak akan terjadi apapun. Hanya menyapa biasa.

Itu rencanaku. Tapi apalah daya jika rencanaku ditepis oleh semesta jagat raya?

Sapaan yang harusnya hanya menjadi basa basi. Kini malah menjadi momen yang melekat yang sulit dibiarkan.

Terlalu indah – untuk tidak diindahkan.

 

Namun, ketika duduk di samping Laksana tadi, semua terasa berbeda. Ia tak merasa asing. Justru, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa bisa bicara lepas tanpa takut dipotong atau disepelekan.

Laksana bukan pria yang tahu segalanya. Ia tidak buru-buru memberi solusi. Tidak merasa harus selalu benar. Ia mau mengakui bahwa ia bingung, kikuk, dan tidak tahu. Anehnya, justru di situlah Rana menemukan sesuatu yang berbeda.

Dan apa adanya.

Beda sekali dengan Adiwira, suaminya.

Lihat selengkapnya