Kisah Kelinci dan Singa

Adityo Wisnu Nugroho
Chapter #5

Bab 05

Sore itu langit kembali mendung.

Jalanan kota masih ramai dengan lalu lalang kendaraan dan situasi orang-orang pulang kerja. Beberapa wajah tertangkap letih dan datar oleh mata Rana yang memperhatikan mereka dari kaca jendela sebuah kafe.

Rana terlihat manis dengan gaun pendek sederhana. Tubuh mungilnya tampak menawan penuh kesopanan terdiam di sudut. Dikepung aroma kopi, teh, asap steam susu dan kesibukan kafe khas pinggiran ibu kota.

Riuh rendah obrolan terasa ringan di telinga Rana. Di depannya, secangkir teh melati mengepulkan uap tipis. Ia menunggu, sesekali menatap arloji peraknya, sesekali lainnya menoleh ke luar jendela.

Setelah menjemput Bimo dari sekolah, Rana berjanji bertemu dengan sahabat lamanya, Dewi. Jadwalnya pas sekali. Bimo harus mengikuti les matematika yang letaknya tak jauh dari sini, sementara Dewi bisa mampir setelah pulang dari salah satu acara pameran seni.

Dewi adalah penari.

Rana tak begitu mengerti jenis tarian apa yang Dewi bawakan. Tapi ia selalu tampak cantik di pandangan Rana. Anggun memainkan liuk tubuh, menyampaikan pesan yang tersirat dalam makna gerakan dan musiknya. Kadang dengan riasan yang membuat wajah putihnya terlihat makin menawan, walau dilain waktu terlihat makin menyeramkan.

Tak lama, pintu kafe terbuka. Dewi masuk dengan langkah tergesa, masih dengan setelan pentasnya. Begitu melihat Rana, wajahnya langsung cerah.

“Nah ini dia! Lama banget nggak ketemu sore-sore gini,” ucap Dewi sambil menarik kursi.

Rana terperangah. Bukan hanya Rana, namun juga mungkin belasan pasang mata pelanggan lain di dalam kafe. Menatap Dewi heran, dan mungkin sebagian lain terpesona.

Dewi masih menggunakan atasan mekak hijau dengan bawahan kain jarik berwarna serasi bercorak batik. Gelung di kepalanya pun masih lengkap terpasang dengan anggun. Bahkan riasannya masih cantik dan tebal. Yang berbeda dan tidak membuat Rana terlempar seperti menyaksikan sendratari adalah Dewi membawa tas kecil berwarna merah menyala.

“Ya ampun, Dewi… kamu nemuin aku pake kostum kaya gitu? Pantesan lama” Rana masih menatap tak percaya sambil menyentuh gelang bahu yang Dewi kenakan.

“Ih, ribet deh lo. Gue baru beres pentas tau! Maksain banget dateng biar gak telat,” Dewi menanggapi sengit.

“Wi, yang ribet tuh kamu. Kenapa nggak ganti baju dulu? Liat tuh orang-orang pada ngeliatin kita,” Rana sedikit berbisik menutup wajahnya.

Dalam hati Rana malu luar biasa, entah apa yang dipikirkan Dewi hingga ia mampu melakukan ini semua di tengah sore, di sudut kafe yang penuh pelanggan.

Dewi menyisir sekelilingnya, lalu berkacak pinggang.

“Kenapa? Nggak pernah liat Dewi Shinta ngopi ya?” Katanya ketus kepada mata-mata yang menyudutkannya dengan tatapan aneh. Mata-mata mengalihkan pandangan. Takut.

Pelanggan lain topik obrolannya sendiri-sendiri. Yang berbeda adalah mungkin Rana dan Dewi—dengan pakaian Sinta-nya yang lengkap – kini menjadi topik tambahan yang seru mereka perbincangkan.

Rana tertawa terbahak.

“Parah lo, ngetawain temen sendiri,” kata Dewi menunjuk Rana.

“Gue kan ke sini buru-buru takut laki lo marah, Ran. Inget nggak gue pernah ditegor laki lo gara-gara gue telat nganterin lo balik ke rumah abis kita nongkrong? Ih nggak mau lagi gue di sidang Wira,” lanjut Dewi.

“Adiwira lagi keluar kota Dewi… Jadi aku di rumah cuma berdua sama Bimo,” jelas Rana. Matanya memutar memperhatikan kostum Dewi yang masih membuatnya geli takjub tak percaya.

Dewi menyandarkan diri ke kursi. Melenguh panjang. Melipat bibir.

“Ah, lo nggak ngasih tau,” Dewi lega sekaligus kecewa.

“Kamu kan nggak nanya,” sanggah Rana. Tertawa kecil.

“Aneh gue mah sama laki lo, Ran. Posesif gila, tapi bininya sering ditinggal,” Dewi tiba-tiba bersiap membuka gelung dikepalanya.

Rana kaget. Matanya membulat tak percaya lagi. “Kamu mau ganti disini?”

“Iyalah, emang kenapa?” Dewi meneruskan membuka gelung-nya. Ia tampak sangat terampil dan mengatahui urutan jepit rambut yang harus dibuka lalu mengumpulkannya di meja.

“Nggak mau di toilet aja, Wi?”

“Ah, ribet. Udah disini aja. Gue pake daleman kok. Ini di balik jarik gue juga udah pake celana jeans,” ucap Dewi mengangkat jariknya. Rana masih menggeleng tak percaya.

“Sumpah Ran, ini panitianya nggak becus parah. Masa gue nggak disediain tim make up, nggak ada ruang wardrobe, nggak disediain tim…” Dewi melampiaskan ceritanya panjang kali lebar.

Sengit, padat dan tanpa jeda.

Rana menikmatinya dan menanggapinya dengan sesekali terbahak. Kadang tangannya membantu Dewi melepas jepit atau peniti yang posisinya agak sulit.

Ia tahu beberapa pelanggan agak terganggu dengan tingkah Dewi. Tapi jika Dewi tak peduli, kenapa ia harus repot untuk memikirkan?

Setengah jam berlalu. Cerita Dewi mulai mereda. Beat obrolan mulai menjadi lebih tenang. Tak lagi jedag-jedug seperti lagu rap. Tapi mulai mengalir seperti lagu pop. Properti Dewi pun sudah semuanya terlepas dan terlipat rapi di kursi samping.

Lihat selengkapnya