Pagi itu matahari baru merayap di atas genting rumah. Embun masih melekat di daun ketapang yang tumbuh di pekarangan. Laksana duduk di kursi kayu teras, secangkir kopi hitam mengepul di sampingnya. Matanya terpaku pada layar ponsel yang masih menampilkan kolom pesan dengan Rana.
Pesan berakhir dengan balasannya yang akan mampir ketokonya hari ini atau setelah menjemput Andra, Senin lusa. Ada ceklist biru di bagian pojoknya. Tanda itu sudah diterima dan dibaca.
Kenapa tak dibalas? Apa dia marah karena tak ada sapaan Mbak sebelum namanya?
Laksana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Laksana mengetuk foto profil kecil di pojok layar. Foto itu terbuka. Gambar Rana tersenyum sambil merangkul Bimo yang tertawa lebar.
Laksana termenung tak berkedip.
Apakah bisa kusimpan senyum ini diam-diam?
Apakah itu akan menjadi dosa yang bisa kusengaja dan kunikmati balasnya nanti?
“Mas,” suara Amara dari dalam rumah membuat Laksana tersentak.
Laksana buru-buru menutup layar ponsel. Seperti itu adalah hal yang salah dan takut Amara menangkapnya dengan perasaan marah atau kecewa.
Amara muncul sambil membawa dua piring roti panggang. “Rana sudah hubungin kamu, belum?” tanyanya ringan.
Laksana berdeham kecil. “Sudah. Tadi malam.”
“Oh, baguslah.” Amara meletakkan piring di meja teras. “Aku yang kasih nomormu ke dia, biar lebih gampang. Takutnya aku lupa atau ada info penting yang terlewat.”
“Udah kamu bales?” Tanya Amara lagi. Ia duduk d isebelah Laksana.
“Udah,” jawab Laksana singkat sambil mengambil roti panggang di piringnya. Pura-pura untuk baik baik saja. Menyembunyikan debar jantungnya yang berdegup kencang.
“Kamu bales apa?“ tangan Amara menengadah kearah Laksana. Menandakan ia menunggu Laksana menyerahkan sesuatu.
“Hah?” Laksana bingung. Mata Amara menatapnya lama.
“Sini. Aku mau liat kamu bales apa ke Rana,” Amara mengambil ponsel Laksana. Laksana menahan roti panggang di mulutnya. Telapak tangannya basah. Pelan-pelan ia menggigit dan menelan potongan roti panggang yang biasanya lembut namun terasa sangat kasar saat itu.
Sesaat Amara membuka fitur pesan dan memeriksanya. Amara mendadak menatap Laksana tajam.
Roti panggang Laksana tiba-tiba tersangkut di kerongkongan. Tak bisa lagi turun lebih jauh. Punggung Laksana dingin.
“Kamu tuh ya, kebiasaan deh! Kenapa nggak langsung save sih nomor orang yang chat kamu?” Amara menekan tombol simpan untuk nomor Rana. Ia menuliskan “Rana Cempaka” pada kolom nama. Roti panggang di kerongkongan Laksana melunak dan turun perlahan.
Laksana mengambil gelas kopinya, meneguknya pelan. Membantu roti panggang untuk tiba lebih lancar ke lambungnya.
“Kok dia nggak bales ya?” Amara meletakkan ponsel Laksana di meja teras, Tepat di antara dua piring roti panggang yang tadi dia bawa.
“Aku salah bales ya Mar?” tanya Laksana pelan.
“Nggak kok, bener,” jawab Amara santai, mengambil roti panggang dan menikmatinya.
Laksana mengangguk.
Ada jeda canggung, tapi Amara tak merasakan itu.
“Ketiduran kali,” Amara memecah jeda sambil mengunyah roti panggangnya. Mereka menatap pohon ketapang bersamaan. Lama.
“Hari ini aku ajak Andra berenang ya, Mas,” lanjutnya. “Mumpung hari Minggu.”
Laksana mengangguk. Matanya masih memandang kosong.
“Kamu nggak usah ikut, Minggu kan kedai pasti ramai. Jadi aku nggak akan ganggu. Biar kamu fokus. Lagian aku kayaknya udah mulai jarang jalan berdua sama Andra deh,” Amara melanjutkan.
Laksana menatap istrinya. Ada makna dalam kalimat itu. Ketulusan menebus kesalahan yang sekaligus membuat dadanya terasa sesak. Ia hanya bisa mengangguk, sementara matanya sesekali melirik layar ponsel yang sudah Amara letakkan terbalik di meja.
Amara bangkit membawa dua piring kosong. Kembali ke dalam, meninggalkan Laksana yang masih duduk tak bergerak di kursi teras memandangi pohon ketapang. Tangannya masih memegang potongan terakhir roti panggang.
Ponsel Laksana bergetar tiba-tiba.
Laksana cepat memasukkan potongan terakhir roti panggang itu kemulutnya. Namun giginya tiba-tiba berhenti mengunyah. Rana mengirim pesan.
“Bisa hari ini saja?”
Laksana menatap pesan itu lama. Roti panggang di mulutnya tiba-tiba kembali mengeras kasar.
“Mas, kamu kemarin beli rotinya dimana?” Tanya Amara dari dalam rumah.
Laksana kaget. Dia memaksa roti di mulutnya masuk ke kerongkongan. Namun lagi-lagi tersangkut.
“Lain kali beli lagi di sana ya. Enak. Rotinya lembut walau sudah dipanggang,” sambung Amara lagi.
Laksana mencari gelas kopi yang ternyata juga sudah dibawa Amara masuk ke dalam.
Sial, roti bodoh!
Atau aku yang bodoh?
~~~
Hari masih bergerak pelan di toko buku Rana.
Rak-rak dipenuhi cahaya matahari yang menembus jendela besar, memantul di sampul buku-buku yang baru saja ia tata bersama dua karyawannya. Rana menaruh ponsel di meja kasir, layar masih menampilkan balasan dari Laksana:
“Oke, nanti siang saya mampir”
Sudut bibirnya terangkat, tanpa bisa ia cegah. Senyum itu masih menggantung bahkan setelah ia mencoba kembali tenggelam dalam rutinitas membuka kardus-kardus, menata buku sesuai kategori atau memberi label harga pada beberapa sampul buku.
Namun, setiap kali tangannya menyentuh sampul buku, pikirannya melayang entah kemana. Matanya selalu menuju ponsel di meja kasir.