Gerbang SMA Nusa terlihat ramai oleh para siswi yang menatap kagum pada Arle dan teman-temannya yang sedang duduk di atas motor memakai jaket band kebanggaan sekolah. Desas-desus pun mulai bermunculan jika mereka sedang mencari seseorang dan banyak dari siswi di sana yang berharap jika mereka adalah orang yang sedang ditunggu itu.
“Wah anjing, gila, gue lagijadi pusat perhatian,” ucap Victo seraya tersenyum lebar.
“Diem goblok, lo ngancurin kekerenan kita,” kata Bobby yang langsung dibalas oleh tawa kecil Victo.
Sejak tadi Arle menatap ke arah gerbang utama SMA Nusa, berusaha untuk mencari atensi Yuwin yang belum terlihat. Ia malah melihat beberapa siswi yang balas menatap genit padanya, itu adalah geng Anggi. Dengan percaya dirinya Anggi menghampiri seraya melambaikan tangan sebelumnya.
“Arle!” serunya.
Arle hanya menatap Anggi sebentar, lalu kembali fokus pada gerbang utama.
Anggi ini adalah teman semasa SMP-nya. Mereka tidak cukup dekat, hanya sebatas kenal saja. Namun, setelah Arle terlibat band sekolah, Anggi selalu menghubunginya lewat pesan di Instagram Arle. Meski tidak pernah mendapat balasan, Anggi gigih menghubungi Arle.
“Lo jemput gue?” tanya Anggi dengan percaya dirinya.
“Cantik, sih. Tapi percaya dirinya ketinggian,” kata Bobby yang tidak pernah berpikir untuk bicara.
“Gue gak kenal lo,” balas Anggi mendelik sebal.
“Siapa juga yang mau kenalan,” jawab Bobby pula.
“Biasanya nih, ya, kesan pertama jutek artinya jodoh,” kata Victo seraya terkekeh bersama Arkan.
“Gelo anying,” maki Bobby.
Arle tidak menggubris pertengkaran kecil itu, ia tetap menatap gerbang utama di mana Yuwin berjalan berdampingan dengan Arkan. Dengan sikap gentle, Arle turun dari motor membuat semua orang menatapnya tidak terkecuali teman-teman Arle.
Mereka menatap kepergian Arle untuk menghampiri Yuwin yang tersenyum lebar padanya. Sedangkan Arson hanya tersenyum ramah dengan tatapan mata setajam elang menatap Arle.
“Gelo anjir, bener kata si Arle, bahaya tu cowok,” kata Bobby.
“Iya bener, tapi gue salfok sama si Arle, dia keren bjir!” kata Victo membuat ketiga temannya menoleh horor.
“Jangan bilang selama ini lo gay, Vic!” kata Arkan.
“Gay kalau buat Arle mau aja deh gue!” jawab Victo bertingkah gemulai.
“Najis,” ucap Arkan.
“Geuleuh!” kata Lukas.
“Gak waras!” seru Bobby.
Kembali pada Arle ....
“Lele,” sapa Yuwin riang.
“Latihan sekarang, anak-anak juga ikut jemput lo,” kata Arle seraya menunjuk teman-temannya dengan dagunya.
Yuwin menoleh pada teman-temannya di gerbang depan, lalu membalas lambaian tangan Arkan.
“Wah, berasa incess gue!” kata Yuwin terkekeh.
“Emang princess gue, lu lupa?” kata Arle seketika membuat Yuwin merona.
“Lele jangan gombal, nanti Uwin goreng jadi pecel,” kata Yuwin bersikap manja dengan memukuli lengan Arle.
“Jijik!” kata Arle, meski pelan tapi bisa Yuwin dengar.
“Ck, lo yang jijik!” balas Yuwin lalu merangkul tangan Arle untuk menghampiri teman-temannya.
“Wassap!” seru Yuwin beradu tos dengan mereka.
“Weh incess baru selesai belajar,” kata Victo/
Tawa Yuwin terdengar, mereka saling melontarkan candaan membuat semua orang semakin memperhatikan mereka. Tidak terkecuali Anggi yang masih berdiri di sisi motor Arle.
“Latihan lo, Win, jangan pacaran mulu!” kata Arkan mengode dengan menaikan alisnya.
“Kalau bisa dilakuin bareng, kenapa harus salah satu?” jawab Yuwin tidak mau kalah. Kembali tawa mereka terdengar.
“Oh iya, kenalin ini temen gue, Arson. Ketos dia di sini,” kata Yuwin lagi seraya mengenalkan Arson yang sejak tadi tersenyum di belakangnya.
“Udah tahu,” jawab Arkan tidak berminat.
“Iye, kita cuman mau jemput lo, bukan mau kenalan sama orang yang gak penting,” timpal Bobby.
“Omongan lo pedes, udah makan cabe satu ton?” kata Yuwin memberikan acungan jari tengah pada Bobby.
“Hai, Arson, gue Victo, ini Arkan, Bobby, Lukas, dan dia Arle,” kata Victo menunjuk satu-satu teman-temannya.
“Gue Arson, iya gue udah kenal sama Arle tadi pagi,” jawab Arson pula dengan senyum ramah yang terus menghiasi wajahnya.
“Lo sama Arle pacaran?” tanya Anggi.
“Iya,” jawab Arle cepat.
“Lo kenal Lele gue?” tanya Yuwin menatap Anggi heran.
“Kita temen SMP dulu,” jawab Anggi berasa sok kenal lama dengan Arle.
“Oh, cuman temen,” jawab Yuwin sukses membuat Anggi malu karena teman-teman Yuwin menahan tawa kerasnya saat mendengar.
“Udah, kita berangkat sekarang. Meept nih waktu,” kata Lukas mencoba menengahi mereka semua.
“Iya, seminggu lagi, Win. Lo jangan pacaran mulu napa, latihan!” ucap Arkan pula.
“Yee, bisa keduanya gue, tenang!” kata Yuwin terkekeh gemas.
“Mau pergi? Kita kan ada belajar kelompok,” tanya Arson membuat Arle menatapnya cepat, bergantian dengan Yuwin yang kini salah tingkah mendapat tatapan tajam dari Arle.
“Iya, nanti deh. Gue kabarin lo,” jawab Yuwin canggung.