Kisah Lele (tanpa kumis)

Ayang Afrianti
Chapter #15

15.

Hari yang dinantikan pun tiba, Arle, Arkan, Yuwin, Lukas, Bobby, dan Victo sudah bersiap di belakang panggung ditemani oleh beberapa guru dari SMA Kenanga yang ikut mendampingi mereka.

Terlihat hanya sebuah festival band bagi orang luar. Namun, bagi Arle dan siswa-siswa lainnya ini adalah ajang untuk mengharumkan sekolah mereka. Bukan lagi bersaing melawan band antar sekolah di daerah Bandung, melainkan dari seluruh penjuru kota di Indonesia.

Band SMA Kenanga mendapatkan juara satu di perlombaan sebelumnya, dan kini mereka ditampilkan lagi melawan beberapa SMA yang sama mendapatkan gelar juara.

“Yuwin siap?” tanya Bu Inggar menatap Yuwin yang sedang meneguk air minumnya.

“Aman, Bu,” jawab Yuwin pula.

“Jangan kebanyakan minum, nanti mau pipis terus,” kata Pak Budi diselingi kekehan kecil.

“Iya, nih, mana grogi lagi,” timpal Victo menggosokkan kedua tangannya.

“Aman, kalian udah dapat gelar juara, masa masih demam panggung?” kata Pak Budi menggoda mereka.

“Sekelas Ariel Noah aja masih degen-degen, Pak. Apalagi kita,” elak Victo mendelik sebal pada Pak Budi yang malah tertawa mendapat protesan mereka.

“Ya sudah, fokus diutamakan, enjoy dan nikmati alunan musik yang kalian suguhkan. Anggap aja yang nonton itu monyet,” ucap Pak Budi berusaha memberikan semangat.

“Ih, parah, Bapak. Bilangin sama jurinya lho!” kata Arkan bergidik ngeri. Diikuti oleh semua temannya kecuali Arle yang membuat Pak budi semakin terkekeh.

“Orang tua kalian gimana? Datang, kan?” tanya Bu Inggar.

Jawaban beragam mereka lontarkan. Ada yang mengiyakan, ada yang hanya mengangguk, tapi bagi Arle dan Yuwin, mereka terdiam. Sani masih dirawat di rumah sakit, tidak mungkin bisa menghadiri acara ini. Lalu Arle tidak berharap dengan Farhan karena ia harus menjaga Sani di sana. Meski jarak rumah sakit dan tempat perlombaan ini terbilang dekat, tapi Arle tidak mau jika Sani harus sendirian di sana.

Sejak tadi pun ia harap-harap cemas, ingin segera perlombaan ini selesai dan ia bisa segera pergi untuk menemani ibunya di rumah sakit. Jika ditanya apakah Arle fokus saat ini? Tentu jawabannya tidak, banyak kekhawatiran yang ia rasakan. Hasil latihan setiap hari rasanya sirna begitu saja.

Sedangkan Yuwin, ia tidak memberitahu Cindy perihal perlombaan ini. Sudah lama pula ia tidak bertemu dengan ibunya itu, mereka sudah seperti orang asing yang tidak membutuhkan satu sama lain. Setelah kedatangannya ke sekolah Kenangan waktu itu, Cindy langsung menguruskan surat kepindahan Yuwin ke sekolah Nusa. Lalu dari situ, Cindy tidak lagi terlihat batang hidungnya. Bahkan hanya sekedar menjenguknya di sekolah baru pun tidak.

Maka Yuwin tidak berharap Cindy hadir hari ini, ia bisa mengatasi semuanya sendirian dan bisa merayakannya sendirian juga. Ia tidak butuh peran orang tua, terlebih itu seorang ibu. Ia tekankan dalam hatinya kalimat jika Yuwin bisa sendirian.

“Kita sambut band dari SMA Kenanga!!! Dipersilakan naik ke panggung!”

Suara MC menggelegar terdengar hingga ke belakang panggung. Arle dan teman-temannya pun bersiap menaiki panggung dengan perasaan gugup dan khawatir jika lagu yang mereka bawakan akan terdengar sumbang.

Tepuk tangan terdengar meriah saat mereka naik ke panggung. Jajaran orang tua Arkan, Lukas, Bobby, dan Victo tersenyum bangga melihat mereka. Mereka pun  ikut tersenyum lebar seraya melambaikan tangan pada orang tua mereka. Dalam hati Yuwin berharap ada Cindy di sana, atau Kaisan, menatapnya bangga berdiri di atas panggung ini. Namun, harapannya itu tentu hanya angan-angannya saja.

Saat musik mulai mengalun dan suara drum mulai bertabuh, Lukas menatap Yuwin untuk bersiap menyanyi. Yuwin pun mengangguk paham. Sekilas ujung mata Yuwin menangkap kehadiran Cindy yang baru saja datang, duduk bersama para orang tua yang tersenyum bangga melihat mereka. Pandangannya pun beradu dengan Cindy, wanita itu tersenyum lebar seraya mengatakan kalimat semangat padanya.

Mendadak hati Yuwin sesak dan air mata mulai menggenang membuat pandangannya kabur. Apakah dia benar Cindy? Apakah Cindy datang untuk menyemangatinya? Apakah ini kejutan untuknya dari ibunya yang durhaka itu? Memikirkannya saja membuat Yuwin semakin ingin menangis. Lantas ia hanya bisa terkekeh dengan senyuman lebar dan mulai menyanyikan bagiannya dengan baik.

Latihan panjang selama ini rasanya terbayar dengan penampilan mereka yang sangat baik. Lukas tidak pernah gagal dalam membawakan lagu-lagu, ditambah suara Yuwin yang khas menjadi poin plus untuk band mereka di mata juri. Bukan hanya itu, suara scream Yuwin pun membuat semua orang menganga mendengarnya, bahkan salah satu juri pun memberikan standing applause untuk Yuwin dan teman-temannya.

Pak Budi dan Bu Inggar yang melihat di belakang panggung pun ikut merinding saat mendengar perpaduan suara Lukas dan Yuwin yang menyatu. Lagu yang mereka bawakan pun bukan hanya lagu dari band 510, melainkan dari band luar negeri yang bernama Bring Me The Horizon feat Baby Metal yang berjudul Kingslayer.

Mendengar musik awalnya ssaja membuat para penonton dan juri bertepuk tangan riuh. Apakah mereka bisa membawakan lagu itu dengan baik? Pak Budi yang tidak tahu jika lagu tersebut dibawakan pun menjadi cemas, takut jika Yuwin tidak hafal lirik dalam bahasa Jepangnya dan akan menjadi nilai minus untuk mereka.

Lihat selengkapnya