Sudah beberapa hari semenjak kejadian itu, Arle tidak pernah masuk sekolah lagi. Ia fokus menjaga ibunya di rumah sakit. Rasanya persetan dengan pendidikan dan kehidupannya, hati Arle sedang tidak baik karena kondisi Sani semakin hari semakin buruk. Bahkan sekarang saja wanita paruh baya itu dipindahkan ke ruang ICU karena kritis.
Farhan, sebagai seorang ayah, selalu menguatkan Arle dan memberikan ucapan penenang jika ibunya akan baik-baik saja. Namun, kehadiran Cindy membuat Arle kesal dan bertambah khawatir saat wanita itu mengatakan jika Yuwin tidak dapat dihubungi.
Karena tidak ingin Yuwin kenapa-kenapa, Arle pun akhirnya mencoba mencari Yuwin ke kosannya. Namun, nihil. Ternyata Yuwin sudah pindah dan tidak lagi menyewa tempat itu untuk ia tinggal.
Beberapa kali Arle datang ke sekolah Yuwin, tapi Yuwin masih susah untuk ditemui. Arle tidak tahu Yuwin di kelas mana, lagi pun pihak sekolah tidak memberikan informasi mengenai keberadaan siswanya selain pada orang tua siswa.
Arle semakin dibuat pusing dan kelimpungan. Ia mendatangi Arson, dan malah membuat Arle emosi.
“Yuwin aman sama gue! Lo gak usah khawatir.”
Ucapan Arson itu seperti menenangkan, tapi raut wajahnya menunjukkan sebaliknya. Arson sudah seperti ancaman bagi Arle. Ia takut jika Yuwin diperlakukan tidak baik karena gelagat Arson yang menyeramkan. Terlebih cerita Yuwin mengenai Arson, membuat sinyal bahaya terus menyala di kepala Arle.
“Kasih tahu gue di mana! Gue gak akan temuin dia, cuman mau mastiin kalau adik gue baik-baik aja!” ucap Arle pula.
“Adik? Adik bisa lo cium dan permainin hatinya sesuka lo? Lo sekte incest?”
Arson terkekeh sarkas.
Tangan Arle mengepal erat. Rasanya ia ingin memukul wajah tampan di hadapannya ini. Namun, masih Arle tahan demi bisa bertemu dengan Yuwin.
“Bilang sama dia, kalau ibu gue mau ketemu!” ucap Arle pula, berbohong.
“Bukannya kritis? Mana bisa ngomong?”
Arle tidak tahan lagi, ia akhirnya memukul wajah Arson bertubi-tubi tanpa perlawanan. Hingga seorang satpam yang berjaga tidak jauh dari mereka, menghampiri dan melerai.
“Kamu anak sekolah mana? Jangan buat ribut di sini!” seru satpam tersebut.
“Lo bakalan nyesel, Arson!” ucap Arle melepaskan diri dari cengkraman satpam dan pergi begitu saja.
Suasana hati Arle benar-benar tidak baik-baik saja. Ia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi tanpa peduli akan keselamatan dirinya. Arle hanya memikirkan keadaan Yuwin dan Sani. Pada akhirnya Arle kembali ke rumah sakit dengan raut wajah yang tidak bisa ditanya. Bahkan siapa pun orang yang melihatnya akan berusaha menghindar. Arle dalam mode senggol bacok.
“Gimana, Le?” tanya Cindy tanpa mendapat jawaban. Arle hanya menatapnya sekilas dan duduk begitu saja tanpa mau menjawab.
Farhan yang mengerti pun akhirnya meminta Cindy untuk diam. Ia pun tidak berusaha mendekati dan menenangkan Arle, lebih baik menjauh dan membiarkan anaknya itu sendirian.
Nasib nahas ternyata bukan hanya menimpa Arle saat siang saja, melainkan menjelang tengah malam. Sani dinyatakan meninggal dunia. Dunia Arle terasa runtuh begitu saja. Ia menangis sejadinya, tidak peduli akan suaranya yang kencang dan mengganggu pasien lain. Arle hanya sedang meluapkan emosi yang selama ini ia rasa. Pada akhirnya ibunya pergi juga meninggalkan Arle untuk selamanya.
Berita itu tentu saja sampai pada telinga Yuwin dan teman-teman Arle yang lain. Mereka mendatangi rumah Arle untuk berbela sungkawa. Namun, mereka tidak menemukan Arle di sana. Mereka hanya mendapat kabar jika Arle berada di kamar, dan selalu mengurung dirinya setelah pemakaman ibunya.
“Le, kita datang buat nemenin lo.”
Lukas mengetuk pintu kamar Arle yang senyap. Seperti tidak ada kehidupan di sana.
“Iya, Le, kita datang bareng—“
Yuwin segera membekap mulut Arkan. Ia tidak ingin jika Arkan menyebut namanya. Yuwin hanya ingin hadir dan mengetahui keadaan Arle saja tanpa mau bertemu. Ucapan Yuwin pada Arson saat itu ternyata membuat batasan baru di diri Yuwin. Yuwin benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengan Arle meski keadaan pria itu sedang tidak baik-baik saja.
“Le, lo oke, kan? Maksud gue, kamar lo sepi banget. Kita khawatir ini,” ucap Victo, takut jika Arle nekat di dalam. Terakhir kali ia lihat banyak sayatan di tangan Arle. Bagaimana dengan saat ini? Mungkin saja Arle nekat menghabisi nyawanya sendiri.
“Mending lo temenin Arle, Win. Kasian dia,” kata Bobby dengan suara pelan.
“Gue gak bisa, maaf.”