Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #25

Kegelisahan seorang Adi

Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Satria akhirnya sampai di rumah orang tua yang membesarkannya sejak kecil, bahkan sejak ia belum mengenal dunia. Mona, ibu angkatnya, membukakan pintu dengan senyum hangat.

"Baru pulang, Satria?" tanya Mona dengan suara lembut.

Satria menyalami tangan Mona, "Iya, Bund. Tadi kerjaan numpuk," jawabnya sambil melangkah masuk. "Ayah sudah pulang, Bund?"

"Sudah, ada di dalam. Hari ini bagaimana, Satria? Tidak ada masalah, kan?" tanya Mona, mengikuti langkah Satria.

Satria berhenti sejenak di depan pintu kamar, menoleh pada Mona sebelum ia masuk. "Tidak ada, Bund. Yasudah, aku masuk dulu. Mau mandi, badan rasanya bau," jawabnya sambil tersenyum lelah.

"Ya, sudah. Sana mandi dulu," sahut Mona dengan nada lembut.

Satria melangkah masuk ke kamar, merasa tubuhnya lelah dan kaku. Ia terjatuh ke tempat tidur, sejenak menikmati keheningan yang memberi sedikit kenyamanan.

Beberapa waktu berlalu. Setelah mandi dan berganti pakaian, Satria keluar dari kamar dan menemui Mona juga Rezza yang sedang duduk di ruang makan.

"Satria, makan dulu. Kamu belum makan, kan?" Mona mengajak Satria duduk.

Satria duduk di seberang Rezza, lalu mulai mengambil makanan.

"Hehm..." Deham Rezza, lalu menatap Satria yang sibuk menyantap makanannya. "Bagaimana kerjaanmu hari ini, Satria?"

"Lumayan, Yah," jawab Satria sambil mengunyah.

"Lumayan apa?" tanya Rezza, sedikit tidak puas dengan jawaban yang samar itu.

Satria menghela napas pelan. "Ya, lumayan pusing, Yah. Tapi ya sudah, itu tanggung jawabku."

Rezza hanya mengangguk, sementara Mona terdiam.

Setelah selesai makan, Satria memutuskan untuk berbicara mengenai rencananya. "Ayah, Bunda, saya sudah lama ingin membicarakan sesuatu. Bagaimana kalau Ayah dan Bunda tinggal di rumah baru saya? Rumah itu lebih luas dan lebih nyaman."

Lihat selengkapnya