Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #26

Kedatangan Anisa

Diam memenuhi ruangan itu setelah Pak Adi mengucapkan kata-kata terakhirnya. Satria bisa merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan suasana. Hatinya berdebar kencang, tak sabar untuk menggali lebih dalam tentang rahasia yang tersembunyi di balik keluarga Bramono Wijaya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Satria mengeluarkan selembar kertas usang dari dalam jasnya. Kertas itu terlihat sudah usang, sudut-sudutnya sedikit robek, dan tulisan di atasnya mulai memudar karena usia. Ia meletakkan kertas itu di atas meja di depan Pak Adi, memperlihatkan beberapa nama yang tertulis dengan tinta hitam, salah satunya adalah "Bramono Wijaya."

"Pak Adi," suara Satria kembali memecah keheningan, "kertas ini saya temukan ketika saya masuk ke kamar orang tua angkat saya, tanpa sepengetahuan mereka. Nama di sini, Bramono Wijaya. Saya sudah mencari selama setahun terakhir, dan saya ingin tahu lebih banyak tentang ini. Apakah ada hubungan antara saya dan keluarga Bramono Wijaya?"

Pak Adi menatap kertas itu dengan tatapan yang semakin gelisah. Jelas sekali bahwa pertanyaan ini membuatnya terkejut lebih dari yang ia harapkan. Wajahnya berubah pucat, dan sepertinya ia tidak tahu harus berkata apa. “Satria… saya...” Pak Adi mencoba berbicara, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. “Ini… ini bukan hal yang bisa saya bahas begitu saja.”

Satria memandangnya dengan tatapan yang tajam. “Pak Adi, saya perlu tahu. Saya tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian ini. Kalau ada hubungan antara saya dan keluarga Bramono Wijaya, saya harus tahu.”

Pak Adi meremas tangan di atas meja, tampak sangat cemas. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Anisa, wanita yang anggun namun dengan aura dingin yang khas, melangkah masuk. Ketika matanya bertemu dengan Satria, ia langsung menunjukkan senyum yang tampak terpaksa namun tetap terjaga.

“Satria,” Anisa memulai dengan nada datar, “selamat atas posisi barumu sebagai CEO. Mungkin ini saat yang tepat untuk kamu merasa bangga, ya?” Tatapan matanya tajam, seakan menilai Satria dengan penuh kebencian yang tersembunyi.

Satria menatapnya tanpa menunjukkan emosi apapun. Ia tahu persis apa yang ada di balik kata-kata Anisa. “Terima kasih, ibu Anisa. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik,” jawabnya dengan tenang.

Pak Adi, yang merasa ketegangan semakin meningkat, langsung berdiri dari kursinya. “Saya... saya harus kembali bekerja. Satria, saya harap kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di lain waktu,” katanya dengan suara yang cemas. Ia melangkah mundur, menghindari tatapan tajam dari Anisa yang tampak ingin menghancurkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Satria tidak mempedulikan perasaan Pak Adi. Ia tetap duduk dengan tenang, memperhatikan kepergian Pak Adi yang tampak terburu-buru. Kini, hanya ada Satria dan Anisa di ruangan itu.

Anisa berdiri di hadapan meja Satria, matanya melirik ke arah kertas yang masih tergeletak di atas meja. “Apa ini, Satria? Semacam petunjuk baru yang kamu temukan? Semoga tidak mengganggu jalannya perusahaan, ya?” ucapnya, suaranya terasa menusuk, penuh sindiran.

Satria hanya mengangkat bahu. “Tidak ada yang mengganggu. Hanya urusan pribadi saja.”

Lihat selengkapnya