Sementara di luar, usai menemui Satria, Tiara melangkah keluar dari ruangan Satria dengan tergesa, namun hatinya bergejolak. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, dan kini ia berada di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebagai sekretaris di perusahaan yang dulu ia impikan, dan yang lebih mengejutkan lagi, bekerja di bawah pria yang pernah menjadi cintanya. Satria. Pria yang dulu ia pikir rela melepaskannya demi sahabatnya, Dani.
Pikiran Tiara kembali mengingat masa-masa perpisahan mereka, ketika Satria mengatakan bahwa dia tak mencintainya. Tiara tak bisa menghapus rasa sakit itu, meski ia berusaha keras untuk melanjutkan hidupnya. Namun, di balik keputusan itu, ada keraguan yang menyelubungi hati Tiara. Apakah Satria benar-benar merelakan dirinya untuk Dani, ataukah itu hanya sebuah kebohongan? Satu hal yang pasti perasaan Tiara tak pernah benar-benar hilang.
Di sela itu, Tiara tiba-tiba teringat tujuannya datang di perusahaan itu, yaitu Dani. Meski tak yakin, Tiara mencoba masa bodoh pada Satria, "kenapa, aku bisa lupa tujuanku kesini! Sudah hampir tiga hari aku tidak melihat Dani di sini. Aku lebih baik tanya Satria."
Tiara kembali melangkah menuju ruang Satria dengan langkah yang lebih tegas kali ini. Sebelumnya, perasaan campur aduk menghantui dirinya, perasaan yang tak ia tahu lagi bagaimana cara mengendalikannya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang jauh lebih penting dalam pikirannya, sesuatu yang membuatnya harus kembali. Balas dendam.
Bukan dalam arti yang kejam atau jahat, namun dalam arti untuk mencari jawaban jawaban yang selama ini mengganggu pikirannya. Ia harus tahu di mana Dani berada. Kenapa Dani tidak pernah kembali? Kenapa dia menghilang begitu saja setelah semua yang terjadi? Tiara merasa perasaan itu seakan menggigit dirinya setiap hari, membuatnya merasa tidak ada penutupan dalam kisah yang pernah ia jalani bersama Dani.
Saat berjalan menuju ruang Satria, wajahnya tetap tenang, namun dalam hatinya, ada banyak kekalutan yang bergejolak. Satria pria yang pernah begitu dekat dengannya, yang dulu ia kira rela merelakan dirinya untuk sahabatnya, Dani. Ia masih tak bisa menghapus kenangan tentang perpisahan itu. Perpisahan yang menyakitkan, yang seakan ditutup dengan kata-kata manis dari Satria: "Aku tidak mencintaimu Tiara."
Tiara mengingat kata-kata itu seakan masih terdengar jelas di telinganya, bahkan setelah tiga tahun berlalu. Apakah Satria benar-benar merelakan dirinya untuk Dani? Atau mungkinkah itu hanya sebuah alasan, sebuah kebohongan manis yang dia ucapkan untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya? Di dalam hati Tiara, keraguan itu tidak pernah hilang. Apakah Satria pernah benar-benar mencintainya?
Mendekati pintu ruangannya, Tiara berhenti sejenak. Napasnya sedikit memburu, dan ia mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu. Apa yang harus ia katakan kepada Satria? Mengapa ia merasa seperti ini? Semua yang dulu ia pikir telah berakhir, kini terasa begitu hidup kembali.
Pintu terbuka, dan Tiara masuk. Satria yang sedang duduk di meja kerjanya, mengangkat pandangannya, dan sejenak matanya bertemu dengan Tiara. Ada sebuah keheningan yang tercipta. Tiara tidak langsung bicara, namun dalam hatinya, dia tahu bahwa ini adalah momen yang penting untuk dirinya, dan juga untuk Satria.
Satria meletakkan pena di atas meja, menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Tiara dengan penuh perhatian. "Ada yang bisa saya bantu, Tiara?" tanyanya dengan suara tenang.