Seketika pikirannya kacau. Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak, apalagi kini ia melihat wajah Maya tersenyum di samping Dani, seolah masa lalu di antara mereka tak pernah ada.
Di seberangnya, Ibu Tania yang masih duduk dengan anggun di kursi tamu berusaha mencairkan suasana.
“Satria, jadi nanti kamu bisa datang, kan? Dani pasti senang kalau kamu hadir,” katanya ramah, seolah tak menyadari perubahan ekspresi di wajah Satria.
Namun Satria hanya menatap kosong ke arah meja. Ia mencoba membuka mulut, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, jantungnya berdegup kencang, lalu nyeri tajam menyerang hingga membuat tubuhnya lemas.
“I ... Ibu …” suaranya nyaris tak terdengar. Pandangannya mulai kabur, warna-warna di sekelilingnya berbaur menjadi samar sebelum semuanya menggelap.
“Sa ... Satria!” teriak Ibu Tania panik, ia segera berdiri dari tempat duduknya mendekati Satria, ia mencoba bangunkan Satria, mengguncang-guncangkan tubuhnya yang terkulai lemas di kursi. "Satria! Satria bangun ... Satria! Kamu kenapa, nak?"
Tak kunjung sadar, Tania berlari mencoba mencari pertolongan memanggil pegawai di luar ruangan, suaranya bergetar karena cemas. “tolong! Tolong panggil bantuan! Cepat!”
"Ada apa, Bu?" tanya salah satu Karyawan.
"Satria ... "
"Kenapa dengan pak CEO, bu?" tanya yang lainnya memotong ucapan Tania.
"Sudah cepat! Cari pertolongan!" Teriak Tania hingga salah satu ada yang berlari keluar mencari pertolongan.
...
Langkah-langkah tergesa terdengar di lorong. Tiara, yang mendengar kegaduhan itu dari ruang sebelah, langsung berlari, masuk menembus beberapa karyawan yang menontonnya. Ia menahan napas saat melihat Satria terkulai di kursinya, wajahnya pucat pasi.
Tanpa berpikir panjang, Tiara ikut mengantar ketika para pegawai memapah tubuh Satria ke mobil. Ia bertanya pada Tania penuh rasa khawatir. " Bu Tania, apa yang terjadi dengan Satria, Bu?"
Tania menggeleng."Saya tidak tahu, Tiara. Setelah menerima undangan itu, saya sempat mengajaknya bicara' tapi saya tidak melihat, kalau dia tengah menahan sakit." Dengan langkah cepat mengikuti orang-orang itu Tania menahan kekhawatiran.
Sementara di sampingnya, Surya mencoba tenangkan Tania. "Sudah, kita tenang, semoga Satria hanya kelelahan saja."
...
Tiara bersama Tania dan Surya, segera mengantar Satria menuju rumah sakit dengan wajah tegang dan hati diliputi kekhawatiran terus menerus.
Tiara masuk ke dalam ambulance, menemani Satria. sementara Tania berdua dengan Surya menggunakan mobil pribadi nya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil ambulance terasa mencekam. Ia duduk di kursi belakang, menahan tangan Satria yang dingin dan lemas, berharap pria itu masih bisa mendengarnya.
“Satria… kamu kenapa, Satria? Kamu dengar aku?” bisiknya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Sementara di mobil surya, Tania' yang berada bersama Surya tak henti bicara, wajahnya pucat. “pak sopir, tolong cepat sedikit. Saya takut sesuatu yang buruk terjadi,” ucapnya panik, pada sopirnya.
"Sabar, Mah." Di sampingnya Surya memberi ketenangan.
Sang sopir menekan pedal gas lebih dalam, mobil melaju menembus padatnya jalanan siang itu tepatnya pukul dua. Ia terus melihat ambulance yang membawa Satria,