Di Kantor Jaya Group
Suasana kantor terasa berbeda tanpa kehadiran Satria. Biasanya, langkah kakinya yang tegas dan suara baritonnya yang memberi arahan terdengar jelas setiap pagi. Tapi kini, sudah hampir seminggu ruang CEO itu tertutup rapat, hanya meninggalkan keheningan yang membuat semua orang bekerja dengan hati-hati.
Di ruang sekretaris, Tiara menatap layar komputer yang menampilkan sederet laporan belum diperiksa. Tangannya diam di atas keyboard, tapi pikirannya melayang jauh.
Ia menarik napas panjang. “Sudah enam hari…” gumamnya pelan. Enam hari sejak kejadian itu, sejak ia melihat Satria terkulai lemah di kursinya, nyaris tak bernyawa.
Sejak hari itu pula, banyak hal berputar di kepalanya, terlalu banyak.
Tiara menatap ke arah pintu, memikirkan Satria. Biasanya pria itu duduk di kursi kulit hitamnya dengan postur tenang, sibuk menandatangani berkas atau menelepon klien. Sekarang kursi itu hanya dihuni oleh bayangan masa lalu.
Perlahan, Tiara membuka salah satu laci meja kerjanya. Di sana, tersimpan pena hitam kesayangan Satria pena yang selalu ia pinjam tapi tak pernah dikembalikan. Ia memegang benda itu lembut, seolah di ujung pena itu tersimpan kenangan yang ingin ia pahami.
“Apa selama ini… alasanmu menjauh, hanya karena penyakit itu, Satria?” bisiknya dalam hati.
Matanya mulai memanas. Ia ingat betul hari ketika Satria, dengan wajah datar tapi suara bergetar, berkata...
“Aku tidak mencintaimu, Tiara. Lupakan aku, dan pergilah bersama Dani.”
Kata-kata itu dulu terasa seperti pisau yang menembus jantungnya. Tapi kini, setelah semuanya terbuka setelah ia tahu bahwa Satria menyembunyikan penyakit jantung turunan yang serius semua terasa berbeda.
Ia menggigit bibirnya pelan, menahan sesak di dada. “Apa kamu takut aku kehilanganmu, jadi kamu memilih melukaiku dulu?"
Dari luar, suara langkah beberapa pegawai lewat terdengar samar. Mereka membicarakan tentang rapat yang dibatalkan, proyek yang tertunda, dan kemungkinan siapa yang akan menggantikan tugas CEO sementara. Tapi Tiara tak lagi memedulikannya.
Ia menatap layar monitor yang masih menyala, tapi yang ia lihat hanyalah bayangan Satria wajahnya yang pucat di ruang gawat darurat, tangannya yang dingin saat ia genggam di dalam ambulans.
“Kenapa kamu selalu memikul semuanya sendiri, Satria…” ucap Tiara lirih. Suaranya bergetar, dan untuk pertama kalinya di kantor itu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Pintu ruang sekretaris tiba-tiba diketuk. Tiara buru-buru menyeka air matanya.
“Masuk,” katanya cepat, mencoba terdengar biasa.
Yang muncul adalah Rafi, asisten muda di divisi keuangan. Ia membawa beberapa dokumen, tapi tatapannya ragu.
“Maaf, Mbak Tiara. Ini berkas yang harus disetujui Pak Satria, tapi karena beliau masih di rumah sakit, apakah... Mbak yang akan mengurus?”
Tiara menarik napas, menatap tumpukan kertas itu sebelum menjawab pelan, “Iya, taruh saja di meja. Nanti saya serahkan ke Bu Tania untuk persetujuan sementara.”
Rafi mengangguk, lalu keluar lagi. Begitu pintu tertutup, Tiara kembali menatap pena di tangannya.
Ia tahu, begitu Satria sembuh, banyak hal harus dibicarakan. Tapi di lubuk hatinya, ia takut. Takut jika Satria kembali mengenakan wajah dingin itu, seolah semua yang pernah mereka miliki hanya kesalahan masa lalu.