Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #30

Dua hati


Di tengah hening yang menyelimuti ruang perawatan itu, Satria kembali memejamkan mata. Jemarinya masih berada dalam genggaman Tiara, hangat sesuatu yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Ia menatap wajah Tiara sejenak, lalu pandangannya kosong, melayang jauh.

Undangan itu kembali terbayang.

Nama Dani tertera jelas, berdampingan dengan Maya.

Senyum mereka.

Kata-kata bahagia yang tercetak rapi di kertas itu.

Dada Satria tiba-tiba terasa mencengkeram kuat. Bukan nyeri yang sama seperti serangan tadi ini lebih sunyi, lebih kejam. Luka lama yang belum benar-benar sembuh, kini terbuka lagi tanpa ampun.

Ia menarik napas pendek, lalu erangan kecil lolos dari bibirnya.

“Argh...”

Tiara tersentak. Seketika ia berdiri, panik.

“Satria? Satria, kamu kenapa?” Suaranya bergetar. Tangannya refleks akan menekan tombol panggil perawat, matanya menyapu wajah Satria yang tampak menegang. “Dadanya sakit lagi, ya? Aku panggilkan perawat...”

Satria cepat menggeleng pelan, lalu membuka mata. Ia melihat kepanikan di wajah Tiara dan entah kenapa, itu justru membuat dadanya semakin sesak… tapi bukan karena jantungnya.

“Tiara… tunggu,” katanya lirih. Bibirnya melengkung sedikit, senyum yang dipaksakan. “Aku nggak apa-apa.”

“Jangan bohong,” Tiara menunduk di samping ranjangnya, suaranya nyaris menangis. “Kamu tadi mengerang.”

Satria menghela napas, lalu terkekeh kecil suara yang lemah, tapi jelas disengaja.

“Efek obatnya kayaknya bikin aku drama,” katanya pelan. “Baru bangun, langsung sok jadi pasien kritis.”

Tiara menatapnya tak percaya. “Satria…”

“Serius,” lanjutnya, berusaha santai. “Kalau aku kenapa-kenapa lagi, dokter sudah keburu datang dan marah-marah. Aku cuma… kaget sedikit.”

Tiara perlahan menurunkan tangannya dari tombol panggil. Ia menatap Satria lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik senyum tipis itu.

“Kamu yakin?”

Satria mengangguk. Tapi matanya beralih ke jendela, menghindari tatapan Tiara. Di balik kaca itu, hujan masih turun pelan sama seperti hatinya yang diam-diam porak-poranda.

Lihat selengkapnya