Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #31

Kejujuran Satria


Satria menghela napas panjang, dadanya naik turun lebih lambat dari sebelumnya. Tatapannya kembali menjauh, bukan ke jendela kali ini, melainkan ke dalam dirinya sendiri. Ada pertarungan sunyi yang tak Tiara dengar antara kejujuran dan ketakutan untuk melukai lagi.

“Tiara…” panggilnya pelan, suaranya serak. “Ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan.”

Tiara mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih basah, tapi ia tidak mundur. “Katakan saja,” ucapnya lembut. “Aku lebih memilih sakit karena jujur… daripada tenang karena dibohongi.”

Kalimat itu membuat Satria terdiam cukup lama. Jemarinya mencengkeram seprai, lalu mengendur. Seolah ia akhirnya menyerah pada beban yang terlalu lama ia pikul sendiri.

“Aku mencintai Maya,” katanya akhirnya, lirih namun jelas.

Tiara tidak langsung bereaksi. Napasnya tertahan sesaat, tapi ia tetap diam memberi ruang agar Satria menyelesaikan kalimatnya.

“Awalnya… bukan cinta,” lanjut Satria cepat, seolah takut Tiara salah paham. “Dia hanya pelarian. Penutup. Aku terlalu sakit waktu itu karena kamu, karena Dani. Aku butuh sesuatu untuk menipu diriku sendiri supaya bisa bertahan.”

Ia tersenyum pahit. “Maya ada di sana. Hangat. Tidak bertanya. Tidak menuntut. Dan aku pikir… mungkin inilah caraku menyembuhkan diri.”

Tiara menunduk, dadanya terasa nyeri, tapi ia tetap mendengarkan.

“Tapi perasaan itu tumbuh,” aku Satria jujur. “Entah kapan, entah bagaimana. Dan saat aku mulai serius… dia pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan.”

Ia tertawa kecil, hampa. “Lucu, ya? Aku yang selalu meninggalkan orang demi orang lain… akhirnya ditinggalkan juga.”

Hening kembali menyelimuti ruangan. Tiara menelan ludah, menata napasnya yang sempat goyah.

“Dan sekarang?” tanyanya pelan.

Satria menoleh padanya. Tatapan itu berbeda tidak lagi defensif, tidak lagi bersembunyi. “Sekarang aku sadar, aku selalu salah menamai perasaan. Aku mengira cinta bisa dipakai sebagai obat. Padahal cinta bukan untuk menutup luka cinta itu luka yang kita pilih untuk rawat.”

Tiara mengangkat wajahnya, menatapnya dalam-dalam. “Lalu aku?” tanyanya jujur, tanpa marah. “Apa aku hanya luka yang kamu korbankan?”

Satria menggeleng cepat. “Tidak. Kamu… adalah satu-satunya hal yang selalu aku lindungi dengan cara yang salah.”

Suaranya bergetar. “Aku melepaskanmu bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku terlalu mencintaimu untuk membiarkan kamu hidup dengan ketakutan bersamaku.”

Air mata Tiara jatuh perlahan, satu demi satu. Namun kali ini ia tidak menyekanya. Ia membiarkan semuanya mengalir.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” ucapnya lirih. “Bukan karena kamu mencintai orang lain. Tapi karena kamu memutuskan untuk menanggung segalanya sendiri… tanpa memberiku pilihan.”

Satria menutup mata, rahangnya mengeras. “Maaf,” katanya pelan. “Aku salah.”

Tiara menarik napas dalam, lalu menggenggam tangannya lagi kali ini lebih tenang, lebih sadar.

“Aku tidak menjanjikan apa pun, Satria,” katanya jujur. “Aku juga tidak tahu perasaan ini akan ke mana. Tapi satu hal yang aku tahu aku tidak ingin kita kembali saling berbohong.”

Satria membuka mata. Ada kelegaan di sana, bercampur harap yang hati-hati.

“Aku juga,” jawabnya pelan. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.”

Tiara menghela nafas pelan, sedikit memejamkan mata menahan gejolak hati yang tak jelas.

"Tiara..." Ucap Satria kembali.

Lihat selengkapnya