Kisah Pewaris Cinta dan Harta

Dinar sen
Chapter #32

Rumah baru


Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat sela tirai ruang rawat. Bau antiseptik masih sama, tapi udara terasa berbeda lebih ringan. Satria terjaga, duduk setengah bersandar dengan bantal ditinggikan. Wajahnya masih pucat, namun matanya tak lagi sekosong semalam.

Pintu terbuka pelan.

“Pagi,” sapa dokter sambil tersenyum ramah, map rekam medis di tangannya.

Di belakangnya, Rezza melangkah masuk lebih dulu wajah tegasnya tampak lelah oleh semalam yang panjang. Mona menyusul, membawa senyum yang dipaksakan namun penuh cemas.

“Gimana kabarnya hari ini?” tanya dokter sambil memeriksa monitor dan grafik.

“Lebih baik,” jawab Satria jujur. “Kepalanya sudah nggak terlalu berat.”

Dokter mengangguk, lalu mengecek denyut nadi dan tekanan darah. “Stabil. Jauh lebih baik dari kemarin.”

Mona menghela napas lega, tangannya refleks menggenggam lengan Rezza. “Syukurlah…”

Satria melirik orang tuanya sejenak, lalu kembali ke dokter. Ada jeda singkat seolah ia sedang menguatkan tekad.

“Dok,” katanya akhirnya, “kalau melihat kondisiku sekarang… aku ingin pulang hari ini.”

Mona langsung menoleh. “Satria...”

Rezza mengangkat tangan, memberi isyarat agar Mona diam. Ia menatap putranya lekat-lekat, mencoba membaca sesuatu di wajah Satria. Bukan keras kepala. Bukan nekat. Lebih seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan setelah malam yang panjang.

Dokter tertawa kecil, menggeleng pelan. “Kamu ini pasien bandel,” katanya santai. “Sakitnya jelas, tapi masih kuat juga ngotot.”

Satria tersenyum tipis. “Saya janji patuh. Obat, kontrol, semua.”

Dokter menutup map, lalu menatapnya serius namun hangat. “Secara medis, kamu memang sudah membaik. Tapi ini bukan cuma soal jantung. Stresmu itu nyata.”

“Aku tahu,” jawab Satria pelan. “Dan justru karena itu… aku ingin pulang.”

Hening sejenak.

Dokter mengangguk. “Baik. Kita urus administrasinya. Tapi satu syarat tidak boleh langsung kerja. Istirahat total. Kalau bandel lagi, kita ketemu bukan di ruang kontrol, tapi di IGD.”

Satria terkekeh kecil. “Deal.”

Dokter pamit keluar. Begitu pintu tertutup, Mona langsung mendekat, menepuk bahu Satria pelan. “Kamu bikin Bunda takut,” katanya lirih.

“Maaf,” jawab Satria singkat, tapi tulus.

Rezza berdiri di samping ranjang, tangan dimasukkan ke saku celana. “Kamu kelihatan beda,” katanya akhirnya.

Satria menoleh. “Maksud Papa?”

“Lebih tenang,” jawab Rezza. “Seperti orang yang sudah berhenti lari.”

Satria tersenyum kecil. “Mungkin… aku baru sadar kalau lari terus itu capek. Mungkin suatu saat aku akan berhenti pa.”

Lihat selengkapnya